New Normal dan Realita Penanganan Coronavirus di Indonesia

2 min read

new normal dan corona di Indonesia

AlamIslam.com – Saya jarang sharing meme, tapi yang ini cukup berguna. Sebagai disclaimer, saya tidak mengklaim apa yang hendak ditunjukkan oleh meme apakah sesuai realita dengan Indonesia atau tidak, itu bukan concern saya. Saya memakai meme ini karena sejak awal kalau ada yang memperhatikan, beberapa tulisan atau komentar saya selalu memakai kata control, mitigasi atau measures supaya dipahami ini bukan soal pro lockdown atau anti lockdown, namun karena tulisan terlalu abstrak, saya merasa meme ini menggambarkan apa yang dimaksud, bahwa yang namanya mitigasi atau measures itu berbeda-beda tapi pesannya bukan sekadar “Indonesia beda jangan disamakan”, atau “setiap negara beda”. Pesannya adalah tentukan: apa yang hendak dilakukan, targetnya apa, kenapa melakukan itu, apa dasarnya, lalu apa kriteria dan parameter serta bagaimana cara untuk mengevaluasi?

new normal dan corona di Indonesia

Just saying “Jepang saja tidak menerapkan high rate testing dan high level isolation” itu tidak lengkap dan bisa misleading. Keberhasilannya mengendalikan wabah dan minimal kematian (sementara begitu, walaupun dengan catatan) bukan hanya karena kedisiplinan memakai masker (yg sebelumnya sudah menjadi budaya), tapi karena mereka punya unit-unit kesehatan masyarakat yang merata dan tanggap bahkan ketika negara belum menginstruksikan, unit kesehatan masyarakat ini secara aktif melacak dan investigasi setiap kasus untuk kemudian bisa secara efektif bersama komunitas menerapkan mitigasi pada tiap spot yang ditemukan. Pada akhirnya, ini keywordnya: filosofi testing di jepang merupakan tools untuk deteksi, tracing dan selanjutnya mitigasi lingkungan (siklus prevention) sementara di negara lain pendekatannya testing untuk mencari pasien lalu ybs diobati (siklus medication).
Maka kalau di gambar ini, jepang punya high risk perception (masyarakat yang well informed, disiplin dan tanggap); tight bio surveillance (cmiiw poin yang ini masih dipertanyakan) dan solid contact tracing, yang diinisiasi oleh unit-unit kesmas yang kompak dan kompeten di tiap wilayah. Seluruh pendekatan pada dasarnya perlu berbasis data dan terintegrasi.
Secara intuitif saya juga berharap, optimis, bahwa situasi tidak akan buruk berkepanjangan, banyak keajaiban yang bisa diharapkan, seperti pengaruh iklim panas dan mutasi virus menjadi less lethal (bagaimanapun virus berkepentingan inangnya tidak mati sebab mereka akan ikut mati). Disebut keajaiban kurang tepat, namun ini disebut begitu karena 2 hal tadi, iklim dan mutasi melemah belum terkonfirmasi/terindikasi oleh penelitian saat ini. Mungkinkah? Kita tidak menegasikan, masih mungkin, bahkan sangat berharap nanti akan terjadi, tapi ini belum terindikasi sehingga mestinya jangan dijadikan pijakan untuk melangkah sementara risiko-risiko lain cukup terlihat dari apa yang sudah diketahui sains saat ini.
Bagaimanapun seperti yang sering didengungkan di dunia risk management, kita mesti “plan the worst, hope the best”. Terjun ke relaksasi tanpa dasar yang cukup kuat sambil mengatakan “kita lihat saja” atau “feeling saya ini akan membaik” atau “nanti kalau memburuk kita revisi lagi” bukan etika kebijakan publik yang baik. Untuk pengambilan risiko bisnis pribadi, jargon taking the risk, boleh-boleh saja. Gunakan jargon pada tempatnya.
Jangan pula main ancam-ancaman, “kita lihat saja siapa yang benar, siapa yang malu kalau salah”. Saintis akan bilang, “ini menurut saya yang benar, yang bertanggungjawab, tapi pada akhirnya saya berharap saya salah”. Ketika SARS berpotensi pandemik, orang menyimpulkan vaksin adalah solusi terbaik karena berpegang pada worst case scenario virusnya akan berlangsung lama. Sebelum vaksin ditemukan, usaha mitigasi bertujuan menahan, tidak ada yang mengira wabah akan berhenti total. Ketika calon vaksin ditemukan, pengujian ke manusia dihentikan sebab wabah berhenti, karena berbagai sebab yang diluar perkiraan sebelumnya, di antaranya, mungkin, SARS tidak tertransmisi dari human to human. Apakah ketika itu ada yang mengejek karena menganggap usaha penemuan virus, jerih payah riset dan milyaran dollar untuk mendukung riset sia-sia? (Saya sadar koq, relasi modal, sains, negara dan publik dalam siklus vaksin memang belum ideal, tapi ini di luar konteks, kan)
Sebagai muslim, paham sains atau tidak, worldview kita tentang sabar, ikhtiyar, tawakkal dan bersyukur itu jelas selaras dengan attitude saintis yang rendah hati. Sabar ketika ada musibah, berikhtiyar yang artinya bukan hanya berusaha atau kerja kerja kerja tapi juga memilih yang terbaik yang bisa dipertanggungjawabkan berdasar pengetahuan yang diperoleh dengan jerih payah penyelidikan, tawakkal berharap hasil yang sesuai kausalitas ikhtiyar dan mengharapkan Tuhan menutupi yang kurang dengan keajaiban atau keberuntungan, dan bersyukur tidak jumawa ketika musibah berlalu.
Penulis: Priyo Djatmiko

Penyusupan Ahoker dalam Aksi 212 dan JASMEV di…

JASMEV dan Aksi 212 Alam Islam – Babak baru jihad medsos jilid dua buat MCA tidak lagi hanya berhadapan dengan Jasmev, Projo dan antek-anteknya...
redaksialamislam
1 min read

Kenapa Teroris Indonesia Demen Pake Panci?

Bom panci di Bandung Alam Islam – Ayank Beib, kenapa sih teroris Indonesia demen banget pake panci? Kok ada bom panci jilid 2 di...
redaksialamislam
47 sec read

Muslim Indonesia, Bertahanlah Sampai 15 Februari Agar Kita…

Habib Rizieq  Alam Islam – Tetap tenang, sudah hawa emosinya di usap-usap pakai shalawat. Habib Rizieq tidak akan di tangkap, pasal tersebut di bawah...
redaksialamislam
1 min read