Merasa Covid-19 Adalah Bisnis Dokter? Baca Ini Wahai Penikmat Teori Konspirasi!!

Posted on
para dokter dituduh membisniskan covid-19
para nakes kelelahan

AlamIslam.com – Belakangan banyak klaim yang bikin risih soal corona ini. CORONA adalah konspirasi, bisnis dibalik pandemi, Nakes diuntungkan dengan banyaknya ODP/PDP/Terkonfirmasi Covid, semakin banyak Covid semakin banyak Fee. Hhhmmmm…..(ngurut jidat,ngelus dada). 

OK…mari kita diskusi tanpa syak wasangka, apa benar “jualan Covid” itu menguntungkan?. Mari kita lihat kelapangan. Biaya perawatan pasien covid katanya mahal, memang benar, tapi tetap tidak bakalan menguntungkan RS karena cost untuk bahan habis pakainya jg tinggi (Hazmat,APD mahal banget trus habis pakai langsung dibuang, PCR, Sterilisasi, dll). 
Jadi logika sederhananya-tanpa bermaksud merendahkan-mending merawat banyak pasien diare, bengek atau typus dari pada satu pasien COVID. Selama musim covid kunjungan ke Rumah Sakit berkurang lebih dari 80%, ruang operasi tidak dibuka (kesulitan APD), jam buka Poliklinik dipersingkat, yang datang berobat yang benar-benar sakit parah, kemungkinan karena takut Corona. RS adalah perusahaan jasa, angka rawat inap yang terjun bebas, jelas mempengaruhi operasional RS. 
Banyak RS yang merumahkan pegawai kontrak, Gaji ditunda, bonus pegawai dipotong/tidak ada, THR dihilangkan, intinya RS ngos-ngosan membiayai operasionalnya. Seandainya memang cuma mengejar keuntungan, maka lebih baik RS menolak jadi rujukan covid, dan merawat pasien lain saja. Tapi di era pandemi ini tak ada pilihan seperti itu, suka atau tidak harus terima pasien covid.

Katanya sekarang, asal masuk RS apapun sakitnya: jantung, typus, gula, stroke, kecelakaan akan dijadikan PDP, biar untung RSnya. Ini adalah tuduhan nyablak yang penuh prasangka. Penentuan status pasien berdasarkan pemeriksaan riwayat keluhan, pemeriksaan darah, dan CT-Scan thoraks (foto dada) tidak serta merta dijadikan PDP, dasarnya jelas, bisa dibuktikan secara hukum.
Sampai detik ini, insentif yang di janjikan kepada nakes satu rupiah pun belum cair. Terus terang nakes tidak pernah meminta, tapi pemerintah yang menjanjikan. Kalaupun benar-benar dikasih ya memang hak, toh mereka sudah bekerja. Bagi saya pribadi janji insentif ini saya anggap tidak pernah ada, merusak niat saja. Feenya belum ada julidnya sudah kemana-mana. Nakes yang diawal-awal pandemi dianggap sebagai pahlawan (padahal kita tidak minta loh…) belakangan dilihat sebagai penjahat, mafia pandemi, bahkan disamakan dengan PKI.
Tidak masalah kalian penikmat teori konspirasi, topik ini emang paling enak ditonton/dibaca sambil minum kopi, saya juga menikmati. Namun teori-teori tersebut tidak bisa dijadikan landasan menuduh para nakes telah melanggar sumpah profesi, menjadikan wabah sebagai ladang bisnis mengejar keuntungan pribadi. 
Ada anggapan bahwa corona adalah “drama” yang sengaja dibuat untuk menguntungkan segelintir orang. Covid ini meng-KO hampir semua bidang, ekonomi oleng di paruh pertama pertempuran, mau untung bagaimana?. Parahnya semua ini mempengaruhi opini masyarakat dan kemudian berujung menyepelekan tindakan pencegahan covid 19 ini, PSBB dilanggar, new normal malah terlihat seperti old normal, seperti tak pernah ada corona ini. 
Banyak masyarakat yang berprasangka semua ini ujung-ujungnya soal duit, untung rugi, weleh-weleh, ampun deh (prasangka kalian menggambarkan pola fikir kalian). Jadi pliss, masyarakat yang budiman, netijen yang terhormat, kalu tidak mau patuh PSBB, tidak mau ikut protokol pencegahan covid, silahkan (resiko tanggung sendiri) tapi jari jarinya tolong ditahan untuk tidak menulis tuduhan tidak berdasar atau sumpah serapah terhadap nakes yang sampai detik ini masih bejuang. Mari saling mendoakan kebaikan.
*Tanpa mengurangi rasa simpati terhadap masyarakat yang terdampak COVID 19, ss komentar netizen berikut, menjadi bukti bahwa masyarakat kita sedang kumat “sotta”nya.
*Untuk para Nakes, tetap fokus bekerja tidak peduli dipuji atau dicaci. 

HARAP BERSABAR INI UJIAN.
Judul: “Bisnis” Covid Yang Tidak (akan) Menguntungkan
Penulis: Bisma Ichigo

Leave a Reply

Your email address will not be published.