Jenguk Orang Tuamu di Kampung, karena Mereka Butuh Kehadiran bukan Transferan

1 min read

Tulisan ini adalah curahan hati karena mrmbaca status WA seorang teman yang saya kenal hanya dari dunia maya. Kami belum pernah saling bertatap muka apalagi berjabat tangan. Tapi satu hal, tulisan ini begitu mengena di hati saya.

Tentang wanita yang kerap dinyiyiri karena sering pulang kampung menengok orang tuanya.

Kenapa mengena?

Karena saya anak sulung, dua bersaudara, adik saya laki-laki dan … Saya jauh dari orang tua karena ikut suami.

Menjadi kodrat seorang wanita yang telah bergelar istri, bahwa yang utama tak lagi ibu bapaknya, tapi suaminya tanpa melupakan orang tuanya.

Andai bisa memilih, saya ingin dekat dengan suami, tak mau jauh dari orang tua. Tapi kenyataannya, tidak bisa demikian karena suami bekerja dan berdomisili jauh dari orang tua saya.

Saya harus memilih salah satunya, dekat dengan suami tapi jauh dengan orang tua atau dekat dengan orang tua jauh dengan suami. Dengan cita-cita menjadi perhiasan dunia jelas saya harus memilih opsi yang pertama karena memang suami menghendaki demikian.

Dan beruntungnya saya, dikaruniakan suami yang meski tidak ahli agama, tapi tahu menempatkan diri. Dia memang lebih berhak atas saya, tapi dia tidak lupa bahwa orang tua saya juga berhak untuk dibahagiakan oleh anaknya yaitu saya.

Suami saya, yang memberi ongkos untuk pulang menjenguk orang tua tidak pernah komplen. Tapi justru orang lain yang tidak bisa menahan lisan.

“Bentar-bentar pulang kampung ngapain sih?”

“Rumah tangga kok bentar-bentar pulang ke rumah orang tua.”

“Pulang tuh ya sesekali aja, biar gak boros ongkos.”

“Emang ada kepentingan apa pulang kampung?”

Bla bla bla

Saudaraku …

Orang tua membesarkan anak gadisnya sampai menikah, apa mereka menghitung habis duit berapa? Habis waktu berapa? Selelah apa? Tidak.

Mereka mengurus anak dan mendidik hingga bisa tumbuh menjadi seorang istri yang berbakti pada suami dan keluarga, apa mereka memikirkan apa pentingnya buat mereka? Tidak.

Mereka makhluk-makhluk tulus yang juga berhak untuk dibahagiakan di hari tuanya. Melepas rindu bersama anak cucu yang tak bisa dilihat tiap hari.

Dan mereka para wanita yang jauh dari tanah kelahiran dan keluarga yang membesarkan, telah dengan rela hati meninggalkan keluarga demi keluarga baru yang asing baginya. Tidak berhakkah mereka melepas rindu? Berbagi bakti pada Birrul walidain.

Kita tidak tahu kapan ajal akan datamg menjemput. Apakah menjemput kita dulu atau orang tua kita dulu.

Bagaimana jika ajal menjemput orang tua kita sebelum kita berbakti padanya?
Bagaimana jika ajal menjemput kita lebih dulu sebelum sempat kita membahagiakan orang tua kita?

Anak wanita,
Mari pulanglah sebelum terlambat. Tengok orang tua sesering kita bisa. Tetap dengan izin imam kita. Jika tidak, berkabarlah lebih sering dari biasanya.

Mereka lebih menunggu kepulangan kita daripada sekedar kabar mentransfer uang atau mengirim barang.

Mulut nyinyir,
Biarkan kami para wanita pulang menengok orang tua sesering yang kami mau.
Jika suami saja mengizinkan, apa hakmu banyak bicara?

Bekasi, 25 September 2018
Penulis: Leli Atha
Judul: Curahan Hati Wanita Rantau
-Wanita yang jauh dari sanak keluarga

Setiap Kita Punya 4 Istri

Seorang raja memiliki 4 orang istri. Sang raja sangat mencintai istri yg ke 4, cinta yang tergila-gila. Bahkan dia terus berupaya mendapatkan redhanya. Adapun...
redaksialamislam
1 min read

Fakta Kromosom Perempuan

Alam Islam – Ibu yg jarang diajak ngobrol santai oleh suaminya, maka bahasa tubuh dan nada bicaranya tidak mengenakkan. Menyusui anak akan resah, tak...
redaksialamislam
45 sec read

Kisah Dua Lembar Roti

Alam Islam – Beberapa pakar sejarah Islam meriwayatkan sebuah kisah menarik. Kisah Ahmad bin Miskin, seorang ulama abad ke-3 Hijriah dari kota Basrah, Irak....
redaksialamislam
3 min read