Celana Cingkrang Bukan Parameter Keislaman Muslim

1 min read

Hukum isbal ternyata halal pendapat yang mengatakan tidak haramnya bagi laki-laki jika tanpa kesombongan adalah pendapat mayoritas ulama
ilustrasi

Alam Islam – Bagi remaja Islam tentu membaca fiqh sangat menarik, masalah halal dan haram sesuatu hal. Namun, seringkali hanya belajar dari artikel pendek di internet atau di buku-buku ringkas yang si penulis tidak membawakannya secara adil memaparkan perbedaan pendapat di kalangan ulama, sehingga dibahas hanya dari satu sudut pandang saja. Proses belajar seperti inilah yang kemudian membuat perubahan drastis di kalangan anak rohis, sehingga tidak jarang menjadi kekhawatiran orang tua, dikhawatirkan anaknya ikut aliran sesat.

Mengapa dahulu dilarang melabuhkan kain di pakaian? karena melabuhkan pakaian seringkali dijadikan ajang pamer dan menyombongkan diri seperti para raja-raja di dunia.

Ternyata pendapat yang mengatakan tidak haramnya isbal (isbal = melabuhkan celana/kain/gamis) bagi laki-laki jika tanpa kesombongan adalah pendapat mayoritas ulama. Ulama salaf yang berpendapat dengan pendapat ini adalah salah seorang ulama besar di kalangan para sahabat yaitu Abdullah bin Mas’ud.

Mayoritas ulama baik yang bermazhab Maliki (sebagaimana dalam Muntaqa al Baji 7/226 dan al Fawakih ad Dawani 2/310), bermazhab Syafii (sebagaimana dalam Asna al Mathalib 1/278 dan al Majmu Syarh al Muhadzab 4/338) dan Hanabilah (sebagaimana dalam Kasysyaf al Qona’ 1/277 dan Mathalib Ulin Nuha 1/348) serta yang lainnya berpendapat bahwa isbal yang haram adalah isbal karena motivasi kesombongan.

Sedangkan isbal bukan karena kesombongan maka sebagian dari jumhur ulama mengatakan bahwa hukumnya adalah makruh. Sedangkan sebagian yang lain mengatakan bahwa hukumnya adalah mubah karena larangan isbal yang bersifat mutlak mereka bawa kepada larangan yang bersyarat.

Syeikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam syarah beliau untuk kitab Umdah al Fiqh hal 366 mengatakan, “Mengingat bahwa mayoritas dalil itu melarang isbal jika dengan kesombongan maka dalil yang melarang isbal secara mutlak itu kita maknai dengan isbal karena kesombongan. Sehingga isbal yang tanpa dorongan kesombongan itu tetap bertahan pada hukum asal berpakaian yaitu mubah. Jadi hadits-hadits yang melarang isbal itu didasari pertimbangan bahwa mayoritas lelaki yang isbal itu dikarenakan dorongan kesombongan”.

Mereka memiliki dua alasan. Yang pertama adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Abu Bakr, “Engkau bukanlah termasuk orang yang melakukan isbal karena kesombongan”. Demikian tanggapan Nabi atas ucapan Abu Bakr, “Salah satu sisi sarungku itu melotrok/melorot kecuali jika aku perhatikan dengan seksama”.

Alasan kedua adalah mengingat bahwa sahabat Ibnu Mas’ud itu menjulurkan sarungnya hingga melewati mata kaki. Ketika hal tersebut ditanyakan kepada beliau, beliau mengatakan, “Sesungguhnya kedua betisku itu terlalu kecil (baca:tidak normal) sedangkan aku adalah imam masjid”. Atsar ini diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah. Dalam Fathul Bari 10/264 AlHafizh Ibnu Hajar mengatakan bahwa derajat riwayat di atas adalah jayyid atau baik.

Di sisi lain sejumlah ulama berpendapat bahwa hukum isbal itu haram secara mutlak baik karena dorongan kesombongan atau pun tanpa niat menyombongkan diri. Ini dilakukan dalam rangka mengamalkan semua dalil yang ada baik yang melarang isbal tanpa syarat maupun dalil yang melarang isbal jika karena kesombongan.

Nah, sudah jelaskan? bahwa MAYORITAS ULAMA membolehkan isbal jika tanpa disertai kesombongan. Ingat loh kawan, yang baca hadits itu bukan kita saja, tapi para ulama terdahulu berabad-abad SUDAH LEBIH DAHULU membaca, meghafal, dan mengkajinya daripada kita. Kita mah apa atuh.

Mau cingkrang silakan, mau tidak, juga bagus. Bukankah menghindari fitnah lebih utama? Yang penting kita tidak menyombongkan diri. Menyombongkan diri sekarang tidak hanya dengan ujung kain loh, bisa dengan gadget kita yang harganya selangit, sepatu, sampai motor yang mahal, bukankah semua itu juga bisa jadi ajang pamer dan sombong?

*dari berbagai sumber

Setelah Meninggal Suami, Tanggungjawab Nafkah Anak Jatuh kepada…

Tanggungjawab nafkah anak tidak dibebankan kepada istri setelah meninggal suami Alam Islam Selangor – Dalam sebuah acara kajian Islam di program stasiun televisi Alhijrah Malaysia,...
redaksialamislam
1 min read

Istri “Wonder Woman”, Anugerah atau Bom Waktu?

ilustrasi istri “Wonder Woman” Alam Islam – Pernah seorang adik mengutarakan kepada saya tentang fenomena betapa mandirinya akhawat zaman now, seolah semuanya mampu dikerjakan...
redaksialamislam
2 min read

Rukun, Doa dan Tatacara Sholat Gerhana Sesuai Sunnah…

Tatacara sholat gerhana  Alam Islam – Gerhana ialah salah satu kekuasaan Allah Yang Maha Kuasa. Dalam Islam disyariatkan untuk melakukan solat Gerhana bisa terjadi...
redaksialamislam
2 min read