iframe data-aa="1472877" src="//ad.a-ads.com/1472877?size=728x90" scrolling="no" style="width:728px; height:90px; border:0px; padding:0; overflow:hidden" allowtransparency="true">

Islam Agama Damai dan Kasih Sayang, Tapi Terkadang juga Tegas

Islam Agama Damai dan Kasih Sayang, Tapi Terkadang juga Tegas

Islam Agama Damai dan Kasih Sayang, Tapi Terkadang juga Tegas
Islam Agama Damai dan Kasih Sayang



Islam Agama Damai dan Kasih Sayang, Tapi Terkadang juga Tegas


AlamIslam.com - Apakah masuk akal jumlah Bani Quraizhah yang dibunuh setelah ditawan sampai 600-an orang?

Kita membicarakan ini bukan ingin mengatakan bahwa Islam agama kejam, tidak berprikemanusiaan. Tapi kita ingin menjelaskan di samping lemah lembut dan penuh kasih sayang, Islam juga agama yang tegas, berwibawa dan penuh izzah. Kalau bukan demikian sudah lama Islam musnah dari permukaan bumi dihabisi oleh musuh-musuhnya. 

Sayangnya umat Islam itu sendiri yang menyembunyikan sisi tegasnya Islam ini dengan berbagaimacam alasan. Islam ini tidak akan berjaya dengan menampilkan sisi-sisi yang disukai saja. Umatnya harus mengambil ajarannya secara menyeluruh. Allah Maha tahu apa yang terbaik untuk hamba dan agama-Nya. Karena itu kita sampaikan Islam sesuai kehendak Allah, bukan sesuai perasaan, keinginan dan apa yang baik menurut kita. 

Sebelum membahas ini lebih dalam kita tentukan terlebih dahulu titik sepakat dalam masalah ini. 

1. Peristiwa pengepungan Bani Quraizhah ini merupakan kejadian yang betul-betul terjadi menurut riwayat yang shahih.
2. Penyebab pengepungan karena Bani Quraizhah berkhianat kepada Rasulullah dan kaum muslimin yang sudah sama-sama disepakati pada Piagam Madinah.
3. Pada akhirnya mereka menyerahkan diri dan siap untuk diberi hukuman sesuai keputusan yang diberikan Sa’ad bin Muadz, pimpinan qabilah ‘Aus yang merupakan sekutu Bani Quraizhah di Madinah. 

Yang dimaksud sekutu ini adalah: Bani Quraizhah bukanlah penduduk asli Madinah, mereka juga para pendatang. Ketika mereka tinggal di Madinah, mereka menjadikan qabilah ‘Aus sebagai klen bersandar. Kalau istilah orang Minang Bani Quraizhah ini “malakok” (nempel) kepada qabilah ‘Aus di Madinah.
Sa’ad bin Muadz seorang Anshar yang shaleh berhati lembut, yang imbangannya dari Muhajirin seperti Abu Bakar, dikira oleh Bani Quraizhah akan bersikap lembut dan kasihan kepada mereka. Ternyata keputusan yang diberikan beliau terhadap mereka adalah “bunuh seluruh laki-laki yang sudah bisa berperang (dewasa), jadikan perempuan dan anak-anak sebagai tawanan (budak) dan jadikan harta mereka sebagai ghanimah yang dibagi-bagi kepada kaum muslimin”.

Ternyata keputusan Sa’ad tersebut sejalan dengan apa yang dikehendaki Allah SWT.

4. Keputusan itu betul-betul dilaksanakan pada waktu itu juga. Seluruh laki-laki yang sudah dewasa dipancung dan dikuburkan dalam sebuah parit yang sudah disiapkan sebelumnya oleh kaum muslimin.
Tinggal sekarang dua hal yang barangkali membuat kening kita mengernyit dan sebagian orang merasa ini adalah tindakan kejam yang memperburuk wajah Islam di hadapan non muslim.
Pertama: Siapa yang dimaksud dengan (المقاتلة) atau angkatan perang?

Bila kita baca riwayat dengan teliti yang dimaksud dengan (المقاتلة) yang disebutkan di dalam shahih Bukhari, kitab al Maghazi hadits nomor 4122 adalah laki-laki dewasa. Penjelasan itu bisa kita temukan di dalam sunan at Turmudzi hadits nomor 1582, sunan An Nasa’i hadits nomor 8626 dan shahih Ibnu Hibban hadits nomor 4782. Di mana di dalam riwayat tersebut diungkapkan dengan kata (رجال) “laki-laki dewasa”.

Lebih jelasnya lagi hal ini bisa kita fahami dari ungkapan ‘Athiyyah al Qurazhy salah seorang dari anak-anak yang menjadi tawanan perang Bani Quraizhah yang nantinya masuk Islam. 
عن عَطِيَّةُ الْقُرَظِيُّ، قَالَ: «كُنْتُ مِنْ سَبْيِ بَنِي قُرَيْظَةَ، فَكَانُوا يَنْظُرُونَ، فَمَنْ أَنْبَتَ الشَّعْرَ قُتِلَ، وَمَنْ لَمْ يُنْبِتْ لَمْ يُقْتَلْ، فَكُنْتُ فِيمَنْ لَمْ يُنْبِتْ»
Dari  ‘Athiyyah al Qurazhy, ia berkata: “Adalah aku di antara tawanan Bani Quraizhah. Adalah mereka (shahabat-shahabat Rasulullah) melihat siapa yang telah tumbuh bulu (di sekitar kemaluannya) dibunuh, dan siapa yang belum tumbuh tidak dibunuh. Aku salah seorang yang belum tumbuh”. (HR. Abu Daud no. 4404, Turmudzi no. 1584, Ibnu Majah no 2541)

Jadi yang dimaksud dengan “al muqatilah” adalah setiap laki-laki yang sudah baligh. Karena anak-anak di zaman itu bukan seperti anak-anak zaman sekarang. Bagi mereka seorang anak laki-laki yang sudah baligh mesti bisa angkat senjata berperang membela qabilahnya. Bukan tentara khusus yang dilatih untuk maju ke medan tempur. Semua laki-laki harus bisa menjadi seorang prajurit. Begitulah kebiasaan mereka di waktu itu.

Kedua: Berapa jumlah yang dibunuh?

Dalam hal ini terjadi perbedaan pendapat ulama ahli sirah. Akan tetapi yang terpenting di dalam hal ini, jumlah yang terbunuh ratusan orang, bukan puluhan atau hanya 40 orang saja. Hal itu berdasarkan riwayat shahih:
عَنْ جَابِرٍ، أَنَّهُ قَالَ: رُمِيَ يَوْمَ الأَحْزَابِ سَعْدُ بْنُ مُعَاذٍ فَقَطَعُوا أَكْحَلَهُ أَوْ أَبْجَلَهُ، فَحَسَمَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالنَّارِ، فَانْتَفَخَتْ يَدُهُ، فَتَرَكَهُ فَنَزَفَهُ الدَّمُ، فَحَسَمَهُ أُخْرَى، فَانْتَفَخَتْ يَدُهُ، فَلَمَّا رَأَى ذَلِكَ، قَالَ: اللَّهُمَّ لَا تُخْرِجْ نَفْسِي حَتَّى تُقِرَّ عَيْنِي مِنْ بَنِي قُرَيْظَةَ، فَاسْتَمْسَكَ عِرْقُهُ، فَمَا قَطَرَ قَطْرَةً، حَتَّى نَزَلُوا عَلَى حُكْمِ سَعْدِ بْنِ مُعَاذٍ، فَأَرْسَلَ إِلَيْهِ، فَحَكَمَ أَنْ يُقْتَلَ رِجَالُهُمْ وَتُسْتَحْيَا نِسَاؤُهُمْ، يَسْتَعِينُ بِهِنَّ المُسْلِمُونَ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «أَصَبْتَ حُكْمَ اللَّهِ فِيهِمْ»، وَكَانُوا أَرْبَعَ مِائَةٍ، فَلَمَّا فَرَغَ مِنْ قَتْلِهِمْ انْفَتَقَ عِرْقُهُ فَمَاتَ.

Dari Jabir, ia berkata, "Pada saat perang Ahzab, Sa'ad bin Mu'adz terkena anak panah, kemudian mereka (para sahabat) memotong otot lengannya —atau otot tangannya—. Rasulullah kemudian membakarnya dengan api (untuk menghentikan keluarnya darah), sehingga tangannya membengkak. Beliau kemudian meninggalkannya, sementara darahnya masih tetap mengalir. 

Beliau kemudian membakarnya untuk kedua kali, sehingga tangannya membengkak (lagi). Tatkala melihat itu, dia berdo'a, 'Ya Allah, janganlah engkau mengeluarkan nyawaku, hingga kedua mataku teduh karena kehancuran orang-orang bani Quraizhah; lalu uratnya tidak lagi meneteskan darah, hingga mereka menuruti keputusan Sa'ad bin Mu'adz'. 

Beliau kemudian mendatangi mereka, dan menghukum; kaum laki-laki Bani Quraizhah harus dibunuh, sementara kaum perempuannya dibiarkan hidup. Mereka dijadikan pembanntu oleh kaum Muslimin. Maka Rasulullah bersabda, "Engkau telah melakukan hukum Allah dalam (menghukumi) mereka." Mereka berjumlah empat ratus orang. Setelah selesai membunuh mereka, luka Sa'ad kembali terbuka dan meneteskan darah sehingga ia pun meninggal dunia".(HR. Turmudzi no. 1582, Sunan An Nasa’i no. 8626, Shahih Ibnu Hibban no. 4784)

Berdasarkan ini, ternyata jumlah yang berbeda-beda dalam masalah ini bukan datang dengan riwayat tanpa dasar. Para Imam ahli sejarah tidak mungkin serampangan. Seperti yang diungkapkan oleh Ibnu Katsir di Al Bidayah wan Nihayah, Ibnu Atsir di dalam Kamil fit Tarikh, Ibnu Hajar di dalam Fathul Bari, Ibnu Ishaq di dalam Sirah Nabawiyah, Al Mubarakfuri di dalam Rahiqul Makhtum, dan Syekh Muhammad Sayyid Thanthawy di dalam Bani Israil fil Qur’an was Sunnah. Semua mereka ini meriwayatkan jumlah di atas 600 orang.

Riwayat yang mengatakan jumlah mereka sampai 400 orang sudah jelas sebagaimana kita sebutkan di atas. Sedangkan tambahannya yang sampai 600, 700, 800 bahkan sampai 900 orang dari mana? 
Ibnu Hajar di dalam Fathul Bari mengatakan: 
فيحتمل في طريق الجمع أن يقال إن الباقين كانوا أتباع.
“Maka boleh jadi dengan metode mengumpulkan riwayat-riwayat tentang itu bisa dikatakan bahwa lebihnya adalah pengikut”.

Hal ini bisa kita ketahui bahwa Huyay bin Akhthab yang ikut terbunuh dalam peristiwa ini bukanlah anggota Bani Quraizhah, ia adalah pimpinan Yahudi Bani Nadhir yang sudah diusir Rasulullah ke daerah Khaibar. Ia datang ke Madinah untuk menggembosi Ka’ab bin Asad kepala Bani Quraizhah untuk berkhianat kepada Rasulullah dan ia berjanji akan berdiri dibelakangnya.

Bisa kita fahami, Huyay selaku kepala suku datang ke Madinah untuk mendukung perlawanan terhadap kaum muslimin tentu tidak akan datang sendirian. Tentu ia membawa pasukan yang siap perang. Maka boleh jadi tambahan dari 400 orang yang disebutkan dalam riwayat yang shahih adalah pasukan Huyay yang datang dari Khaibar, yang jumlah mereka berbeda-beda riwayat menyebutkannya.
Di samping melalui riwayat shahih, dengan logika dan nalar kritis kita juga bisa memahami bahwa jumlah mereka bukanlah puluhan, tapi ratusan orang. 

1. Seluruh shahabat yang ikut dalam perang Khandaq diperintahkan Rasulullah untuk ikut dalam memerangi Bani Quraizhah, bahkan Malaikat Jibril ikut serta dalam perperangan ini dengan merubah wujudnya menyerupai shahabar Rasulullah Dihyah al Kalby. 

Sementara jumlah shahabat waktu itu ada ribuan. Di mana sebelumnya mereka sudah menggali Khandaq sepanjang lebih dari 5 km, dengan lebar 6 meter dan kedalaman 4 meter dalam waktu kurang satu bulan. Dengan peralatan sederhana yang ada waktu itu. 

Sesampai di Bani Quraizhah mereka mengepungnya yang bernaung di dalam benteng selama 25 hari. Setelah sekian lama dikepung barulah mereka menyerahkan diri.

Di sini bisa kita gunakan logika dan nalar kritis, apakah masuk akal bila jumlah shahabat yang sebegitu banyak mengepung orang yang hanya 40 orang dalam waktu 25 hari? Bukankah itu tindakan buang-buang waktu? Dengan jumlah sekian besar dan musuh yang sangat sedikit tentu sangat mudah bagi shahabat Rasulullah untuk melumat mereka dengan benteng-bentengnya sekalian. Fafham!

2. Ketika terjadi perang Khandaq sebelumnya, pasukan kafir Quraisy yang jumlahnya sampai 10.000 orang meminta bantuan berupa pangan dan makanan untuk hewan tunggangan mereka kepada Bani Quraizhah. Ketika itulah nyata pengkhianatan Bani Quraizhah.

Mungkinkah orang Quraisy yang sebanyak itu akan minta bantuan kepada mereka kalau mereka tidak punya perbendaharaan makanan banyak? Dan tentu saja Bani Quraizhah punya banyak SDA sebelumnya untuk menghasilkan kekayaan yang melimpah.

3. Pada peristiwa ini kaum muslimin mendapatkan ghanimah; 1500 pedang, 2000 panah, 300 baju besi, 1500 tameng. Selain unta, kambing dan perkakas yang banyak. Untuk apa mereka menyimpan alat perang sebanyak itu kalau jumlah mereka hanya puluhan?
4. Di dalam riwayat itu dikatakan sebelum pengkhianat dari Bani Quraizhah dihabisi mereka dikumpulkan di “Daar” binti al Harits  seorang perempuan dari Bani an Najjar.

“Ad Daar” tidak mesti kita artikan rumah, karena di zaman itu rumah biasa disebut dengan kalimat “al hujrah”. Sementara yang dimaksud dengan ad daar adalah:
الدَّارُ : المَحَلُّ يجمع البناءَ والسَّاحةَ
Ad Daar adalah: tempat yang mengumpulkan bangunan dan pekarangan.
Ini bisa kita lihat sampai sekarang perumahan orang di perkampungan Arab biasanya terdiri dari rumah dan perkarangan yang cukup luas, yang dipagari dengan dinding tembok. Bahkan daar juga berarti kampung kecil. Hal ini banyak kita temukan di kitab siar. Jadi masuk akal bila ratusan orang bisa ditahan di dalamnya. 

Selanjutnya, bila kisah ini diangkat para orientalis akan mengkritik Islam sebagai umat yang haus darah, karena tega membunuh orang sebanyak itu dalam sehari.

Yang namanya musuh Islam tetap akan mencari celah untuk menyerang Islam walau umat Islam selalu menampakkan kelembutan. Mereka sendiri, apakah tidak ingat kalau mereka telah menghabisi jutaan umat Islam di Andalusia (Spanyol) sampai tidak tersisa Islam di sana. Tidakkah mereka melihat kalau orang kafir membantai jutaan manusia di Baghdad? Bila Fir’aun Mesir membuat piramida dari batu, mereka malah membuat piramida dari kerangka umat Islam. 

Kita tidak butuh kasihan umat lain. Kita harus menyampaikan Islam apa adanya dan pemahaman yang semestinya. Umat Islam bukanlah umat yang haus darah, yang kejam dan bengis sebagaimana yang dituduhkan oleh sebagian umat Islam itu sendiri. Umat Islam hanyalah menunjukkan ketegasan di waktu harusnya tegas, keras di waktu dituntut untuk keras. Dan akan berlaku lemah lembut sepanjang tidak ada yang memaksa mereka berbuat tegas. 

Dan tegasnya Islam tetap dalam koridor kemanusiaan, keadilan dan adab yang benar. Bukan membabi buta, kasar dan kejam. Sepanjang sejarah hal itu terbukti. 

NB: Kalau lah tidak takut kepanjangan, insyaallah kita bisa mendatangkan dalil riwayat dari setiap perkara yang kita sampaikan di atas.


Penulis: Zulfi Akmal

Nama

artikel,171,cerpen,1,foto,2,internasional,93,kisah,50,konsultasi,2,kultum,28,nasional,151,opini,72,sejarah,24,video,11,
ltr
item
ALAMISLAM.COM: Islam Agama Damai dan Kasih Sayang, Tapi Terkadang juga Tegas
Islam Agama Damai dan Kasih Sayang, Tapi Terkadang juga Tegas
Islam Agama Damai dan Kasih Sayang, Tapi Terkadang juga Tegas
https://1.bp.blogspot.com/-BbDvCaumZZY/X5EHAhvHJwI/AAAAAAAAC0E/x3MzrEJ-fe0eRgOjqsQWom1uDt8j_mFfwCNcBGAsYHQ/s16000/Islam-Agama-Damai-dan-Kasih-Sayang.jpg
https://1.bp.blogspot.com/-BbDvCaumZZY/X5EHAhvHJwI/AAAAAAAAC0E/x3MzrEJ-fe0eRgOjqsQWom1uDt8j_mFfwCNcBGAsYHQ/s72-c/Islam-Agama-Damai-dan-Kasih-Sayang.jpg
ALAMISLAM.COM
https://www.alamislam.com/2020/10/islam-agama-damai-dan-kasih-sayang-tapi.html
https://www.alamislam.com/
https://www.alamislam.com/
https://www.alamislam.com/2020/10/islam-agama-damai-dan-kasih-sayang-tapi.html
true
4345512471650341497
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS PREMIUM CONTENT IS LOCKED STEP 1: Share. STEP 2: Click the link you shared to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy