orang sunda bandung
opini

Urang Sunda Tak Pernah Salah Memilih

Hati-hati dengan kata “dulu”
Aku suka baca sejarah, tapi tidak menjadikan sejarah sebagai pijakan utama menatap orang-orangnya hari ini. Hari ini adalah hari ini dengan dinamika hari ini.

Versi “dulu” aku tentang Urang Sunda sangat berbeda dengan versi “dulu” pa Prof Mahfud, atau AM si peniliti muda.

Dalam benakku :

Dulu
Orang Sunda pernah bikin Negara Pasundan,
Ada dua aliran, pro Belanda dan pro Republik Indonesia ….
Apakah kurang terbukti urang sunda memilih pro Wiranatakusumah, presiden terpilih yang republiken pro Republik Indonesia ?

Negara Pasundan yang pro Republik Indonesia, bukan hancur oleh DI TII, tapi hancur oleh Westerling / Angkatan Perang Ratu Adil

Negara Pasundan saat hancurnya , bukan menyerah pada APRA, tapi kembali bergabung dengan Republik Indonesia.

Kurang apa rakyat Tatar Pasundan setia pada NKRI? Pa Prof?

Tatar Pasundan selalu jadi rebutan.
Tapi rakyat Pasundan teguh
Mereka takkan salah memilih dalam bersikap, Karunia Allah.

Saat itu seorang ningrat Abangan, lahir di Cepu, batas Jawa Timur dan Tengah, di masa mudanya menjadi anggota Jong Islamieten Bond.

Sejarahnya Keluarga Abangan loh.
Dia ikut HOS Cokroaminoto ke Cimahi, ehhh terus kesengsem sama Garut.Belajar Islam di Garut Malangbong dari Kyai Yusuf diantaranya.

Dia KSM, Di Garut nikah sama ningrat santri bernama Dewi Siti Kalsum.

Di era kemerdekaan, berulang kali KSM minta Kyai Yusuf memproklamirkan negara Islam.
Kyai Yusuf yang pituin Sunda, menolak …

Sampai disini paham Prof , sikap asli urang sunda?

Dalam perjalanan Kemerdekaan,
tatkala para politisi beraliran kiri sosialis selalu lemah tak bisa berunding, dalam Renville (Amir Syarifuddin) dalam Linggar Jati (Sutan Syahrir), Republik Indonesia kalah.

Urang Sunda sanggup menerima efek tak enak Renvielle,
hijrah jalan kaki ke Yogyakarta.

Pa Prof bisa? mempertahankan Republik Indonesia Long March kaya gitu?

Semua kelemahan orang-orang kiri, yang suka tampak gagah membela negara kesatuan Republik Indonesia, padahal berundiang aja ga bisa, kelemahanan yang bikin KSM jengkel.

Kyai Yusuf yang pituin sunda lagi-lagi menolak diproklamirkannya negara Islam Indonesia.

Sampai disini masih paham Prof?

Dengan darah gagah perkasa, KSM yang blaster Jawa Tengah Jawa Timur, darah revolusioner, akhirnya KSM memproklamirkan sendiri Negara Islam Indonesia.
Ia menolak Hijrah seperti divisi siliwangi.
Adapun divisi Siliwangi yang gagah perkasa masih mau nurut dengan kelemahan orang-orang kiri dalam berunding.

KSM orang baik seperti dituturkan presiden Soekarno, bersahabat dengan Soekarno, hanya beda jalan pilihan politik.
Dengan kebaikan KSM, saat memproklamirkan negara versinya, orang sekelilingnya, mau tidak mau mendukungnya.

Tapi mayoritas rakyat Sunda memilih suatu jalan, seperti yang Mang Koko lukiskan dalam lagu yang indah :

“Bulan téh langlayangan peuting/ nu ditatar dipulut ku tali gaib/ entong salempang mun kuring miang/ ditatar ti Tatar Sunda/ dipulut nya balik deui ka dieu/ ieuh, masing percaya. “Bedil geus dipéloran/ granat geus disoréndang/ ieu kuring arék miang/ jeung pasukan Siliwangi/ ka Jogja hijrah taat paréntah.”

(Bulan adalah layangan malam / yang dikendalikan dan ditarik oleh tali gaib / jangan khawatir kalau aku pergi / dikendalikan dari Tatar Sunda / kalau ditarik tentu akan kembali ke sini / hai, harus percaya. Senapan sudah terisi peluru / granat sudah dibawa / ini aku akan pergi / dengan pasukan Siliwangi / ke Jogja hijrah taat pada perintah)

Kami tak pernah salah memilih
Kami memilih selalu setia dengan NKRI

Penulis: Tutik Hasanah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *