berita nasional

Tragedi Melemahnya Ummat Islam Di Solo


Rabu sore 29 april 2015/ 10 rajab 1436 pukul 15.30 saya tiba di kottabarat..
Sore itu saya harus mengajar di pesantren tahfidzhul qur’an kottabarat ( dibawah supervisi ma’had abu bakar universitas muhammadiyah surakarta )
Sebuah karnaval kirab paskah sore itu begitu ramai.. Polisi dengan seragam hijau sigap mengamankan jalan.. Jalan dari mangkuyudan ke arah kottabarat dialihkan harus belok ke kiri ke arah purwosari..

Kirab tersebut menurut laporan Joglosemar dibumbui dengan arak2 an 270 salib…

Ketika saya sampai di pesantren kottabarat , saya terpukul karena beberapa hal berikut ini:

1) di saat umat islam khususnya di solo masih disibukkan dengan konflik internal dan kurang kuatnya ukhuwwah.. Gereja di surakarta berhasil memobilisasi massa dan seakan ingin menunjukkan kepada publik bahwa solo adalah kota salib
2) yang membuat saya sedih.. Kirab salib ini melewati pesantren kottabarat yang mencetak para penghafal al Qur’an.. Saya malu kepada Allah..
3) membuat saya sedih banyak warga muslim bahkan saya lihat anak2 sd muhammadiyyah kottabarat banyak yg menonton kirab salib tsb.. Ini akan memberikan sebuah pengalaman yg membekas ..
4) membuat saya tambah sedih kirab tersebut bersamaan dengan pelaksanaan shalat ashar di masjid kottabarat..

Banyak orang yg lbh memilih melihat kirab ketimbang melaksanakan shalat tepat waktu..

5) dalam kirab salib tersebut didemonstrasikan peragaan penyiksaan yesus kristus… Jelas ini sebuah demonstrasi besar dengan latar agama yg bisa bermakna ganda.. Selain memiliki makna betapa kuatnya kristenisasi di solo juga memiliki makna kesiapan umat kristiani untuk berduel dalam pilkada surakarta 2015..
Dengan terpilihnya seorang kristiani , hadi rudyatmo sebagai walikota surakarta menggantikan jokowi yg naik jadi RI 1.. Kemungkinan akan maju lagi di pilkada nanti.

Dengan kirab paskah yg diikuti sekitar 1200 umat kristiani cukuplah sebagai pelecut umat Islam di soloraya ini untuk segera merapatkan barisan..

Khusus utk umat Islam di surakarta, tantangan untuk memenangkan pilkada adalah keniscayaan..

Jika di pilkada 2015 ini surakarta kembali dipimpin non muslim, bersiaplah untuk menikmati kebijakan2 yang merugikan umat Islam..

Semoga Allah senantiasa melindungi kita..

oleh: Ahmad syafiul anam
@ ditulis di kottabarat
11 rajab 1436 / 30 april 2015

Tinggalkan Balasan