opini

Toleransi Aneh, Dari Spanduk Hingga Warung Nasi

Toleransi itu adalah hormatilah orang yang sedang beribadah. Bukan dibalik. Masak orang yang sedang beribadah disuruh menghormati orang yg tidak beribadah?
Spanduk toleransi

Alam Islam – Pernahkah kita melihat spanduk yang berisi seruan untuk menghormati orang yang tidak nyepi? Yang ada, semua harus ikut sunyi dan sepi. Bahkan bandara sekalipun.

Pernahkah kita melihat spanduk yang berisi seruan untuk menghormati orang yang tidak natalan?
Yang ada, semua penjaga toko dipaksa memakai topi Santa. Bahkan aparat kepolisian pun latah memakainya. Padahal itu melanggar Perkap tentang Seragam Dinas Polri.

Lalu kenapa tiba-tiba ada spanduk yang menyuruh kita untuk menghormati orang yang tidak berpuasa?

Sejak kecil kita diajarkan: “hormatilah orang lain, jika engkau ingin dihormati.” Lah, jika kini engkau tidak menghormati kami yang sedang beribadah, jangan paksa kami untuk menghormati anda. Paham?!

Toleransi itu adalah hormatilah orang yang sedang beribadah. Bukan dibalik. Masak orang yang sedang beribadah disuruh menghormati orang yg tidak beribadah?

Lagi pun…tak patutlah mengajarkan kami tentang makna toleransi. Ajarkan saja toleransi itu kepada mereka yang diundang makan ke istana setelah menimpuki dan membakar masjid saudara kami di Tolikara, Papua pada saat melaksanakan sholat Idul Fitri tahun kemarin. Jangan diulang, Bung!

Di Ramadhan ini kami dilatih akan hakikat kesabaran. Dalam Islam makna sabar itu bukanlah “…siapapun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu”, sabar berasal dari kata “sobaro-yasbiru” yang artinya menahan. Begitu juga dengan puasa (shaum), yang artinya imsak (menahan).

Jadi berpuasa itu juga bermakna menahan atau mencegah diri dan org lain dari kemaksiatan kepada Allah swt. Bukan justru diam dan mlongo saat syariat dilecehkan.

Fakta sejarah mencatat bhw peperangan utk menghadapi org2 yg tidak mau tunduk dan patuh pada perintah Allah dan Rasul-Nya justru banyak terjadi pada saat Ramadhan. ‪

Abu Bakar as-Shiddiq tidak merasa perlu utk menghormati mereka yg tidak mau membayar zakat. Beliau justru memerangi org2 itu.

Yg k*rang ajar….hajar !!!!
Jgn sampai nanti bertebaran spanduk nyeleneh lainnya :
-yg tidak melacur, hormati p*lacur
-yg tidak berjudi, hormati penjudi
-yg tidak mabok, hormati TemanMabok

Aparat penegak hukum seharusnya hadir ketika terjadi perbuatan yg meresahkan dan mengganggu kepentingan publik yg lebih luas.

Bukan malah menjadi sponsor spanduk ngeyel spt gambar diatas. ‪

Apa bisa kita mengatakan: Untuk Kualitas Lalu-lintas Yang Super, HORMATI ORANG YANG TIDAK TAAT RAMBU LALU LINTAS.
(Meniru kalimat spanduk di atas)

Mrk yg waras pasti paham, bahwa setiap pelanggaran harus ditindak. Krn memang sifat hukum itu adalah MEMAKSA. Sebab ada kepentingan yg lebih luas yg harus dilindungi ketimbang kepentingan individu-individu.

Nah…dalam konteks melindungi kepentingan publik yg lebih luas itulah seharusnya penindakan terhadap warung2 makan yg buka di siang ramadhan dipahami.

Krn pastinya sudah ada himbauan dan peringatan terlebih dahulu sebelum penindakan itu dilakukan. Sudah ada kok Surat Edaran Walikota Serang 451.13/739-kesra/2015 ttg larangan membuka warung pada siang hari selama bulan Ramadhan. Bandel….ya ditindak.

Hehehe….lucu banget liat org2 yg mendadak peduli ketika ada seorang penjual nasi yg lapaknya diangkut petugas. Nanti pas ada razia p*lacur, penjudi, dan penjual miras, rame2 ngumpulin duit lagi dong. Kan mrk jg butuh makan.

“Bu…rezeki ibu itu Allah yg kasih; umur ibu itu Allah yg kasih; kesehatan ibu itu Allah yg kasih. GRATIS. Masa’ sih mindahin waktu berjualan ke sore aja gak mau?” *(bisikin di telinga kiri si ibu penjual nasi).

“Bu…ibu masih lebih beruntung krn rumah ibu tidak ikut dihancurin, dan ibu masih bisa berdagang lagi di sore/malam hari. Artinya mata pencarian ibu masih bisa berlanjut. Bandingkan dengan saudara2 ibu di Kp. Aquarium luar batang yg rumahnya hancur digusur gubernur kapir laknat. Dipindahin jauh dari sumber mata pencaharian mrk. Jika 3 bulan nggak sanggup bayar sewa tempat tinggal, mrk akan jadi gembel. Hilang tempat tinggal, hilang mata pencaharian.”
*(bisikin di telinga kanan si ibu penjual nasi).

Eh iya…kemarin2 kemana tuh org2 yg mendadak peduli? Kok gak pada saweran? Apa gak denger berita ttg warga Kp. Aquarium Luar Batang yg rumahnya dihancurin oleh si Gubernur k*pir l*knat? Ratusan loh jumlahnya.

Jujur aja deh…lu olang tuh sebenelnya peduli apa politis sih, hayya?
*duh kok jadi cadel gini.
*Berani Jujur….Pecat :p

Urusan ngaduk2 emosi biar pemirsa mellow sih emang jagonya media sekelas ‘kempes’, ‘tempe’, dan ‘metroTipu’, lah. B*nci kaleng aja bisa mrk dandanin ala ustadz, kok.
Bahkan org yg raisopopo pun, sukses mrk citrakan sbg sosok yg tepat utk ngurus kita semua. Hasilnya? Rasakan aja sendiri hampir 2 tahun ini :p
*ish…ish…ngelantur kemana-mana.

Kembali ke Lap…top. Intinya, saat ini sedang gencar2nya dilakukan kampanye utk mendeskreditkan Islam.

Yg namanya kampanye, tentu dananya melimpah. Mluber malah. Siapa yg mau kebagian, harus jadi agen. Mata sipit-mata belo, hidung pesek-hidung mancung, l*ndo ireng-londo putih, kaum sarungan hingga kaum yg gak suka pakai sarung (baca: gak pakai apa2. Iiii….j*jay), boleh jadi agen.

Btw…bulan desember masih lama. Berarti order jagain gereja jg masih lama. Sedangkan kebutuhan lebaran makin mendesak. Bayar kontrakan rumah, cicilan motor, beli baju baru anak, hingga ongkos mudik nanti. Gimana ndas e gak mumet, coba?

Sekarang zaman edan. Gak edan gak makan. Spanduk diatas adalah contohnya.

Sumber

One Reply to “Toleransi Aneh, Dari Spanduk Hingga Warung Nasi

Tinggalkan Balasan