berita nasional

Tokoh Barat Berada di Belakang Hizbut Tahrir?


Dua langkah telah dilakukan
untuk menghambat perjuangan
amar ma’ruf nahi mungkar di
parlemen, pertama,
mengharamkan parlemen dan
jalan menuju ke parlemen yaitu
pemilu atau demokrasi, kedua,
membentuk opini negatif dengan
jalan mengungkap kelemahan,
kejelekan dan kesalahan orang-
orang yang berjuang di parlemen,
dari dua langkah tersebut
diharapankan umat Islam
menjauhi dan tidak mendukung
perjuangan di parlemen.
Langkah pertama sangat relevan,
karena mencari hukum sebuah
perbuatan akan sangat
bermanfaat bagi kehidupan umat
Islam, tapi sayangnya, telah
nyata tidak ada nash yang
mengharamkannya tetap mencari-
cari nash untuk
mengharamkannya, sehingga
mudharat yang akan didapat,
karena akan dapat
mengharamkan sesuatu yang
tidak haram seperti libur hari
Sabtu-Minggu, pajak 10%, sistem
jenjang pendidikan SD sampai
perguruan tinggi, gelar kelulusan
atau ijazah dan banyak hal lagi
yang harus diharamkan.
Langkah kedua tidak relavan,
pertama, mencari-cari kelemahan
dan kesalahan sesama muslim
untuk membentuk citra buruk
adalah larangan agama :
Abu Hurairah ra berkata :
bersabda Nabi saw: “Tiada
seorang yang menutupi aurat
kejelekan orang lain di dunia,
melainkan Allah akan menutupi
kejelekannya di hari kiamat,” (HR.
Muslim).
Padahal kalau memang terdapat
kejelekan dan kesalahan orang-
orang yang berjuang di parlemen,
seharusnya diberi nasehat dan
didoakan agar istiqomah dan
selalu dalam kebaikan bukan
malah dibuka aibnya, kedua,
disebabkan sibuk mencari
kelamahan dan kesalahan orang
lain, dia sendiri lupa bahwa dia
justru tidak mencapai kemajuan
sedikitpun dalam dakwahnya dan
lupa untuk instropeksi diri,
padahal alangkah bermanfaatnya
bila segenap tenaga dan pikiran
dicurahkan untuk mencapai
kemajuan dakwahnya, dan ada
yang lebih berbahaya dari itu
semua yaitu boomerang yang
sedang menuju dirinya, pepatah
mengatakan senjata makan tuan,
sibuk melempar boomerang ke
arah musuh, tidak sadar
boomerang mengarah balik ke
dirinya.
Kalau kita kritis, pembentukan
opini negatif oleh orang-orang
yang mengharamkan parlemen
yang ditujukan untuk
memberikan citra negatif kepada
orang-orang yang berjuang di
parlemen, sebetulnya juga
berlaku bagi pembuat opini itu
sendiri, misalnya opini yang
paling sering dihembuskan baik
di internet, buku maupun diskusi
face to face adalah :
Tidak mungkin syariat Islam
ditegakkan melalui demokrasi
yang notabene bukan dari Islam,
tidak ada dalam sejarah, syariat
Islam yang berhasil ditegakkan
melalui parlemen dan demokrasi.
Pertama, opini tersebut
dimaksudkan untuk menggiring
umat Islam supaya mempunyai
pemahaman bahwa orang-orang
yang berjuang di parlemen tidak
akan pernah berhasil untuk
menegakkan syariat Islam dan
akan menemui kesia-siaan.
Diharapkan setelah terbentuk
opini tersebut umat Islam akan
menarik dukungannya terhadap
perjuangan di parlemen.
Tanpa pemahaman kritis, sangat
logis bila opini tersebut nampak
sebagai pendapat yang benar,
karena yang dinyatakan dalam
opini tersebut adalah dhahir
realita, yang memang realitanya
tidak ada dalam sejarah, syariat
Islam yang berhasil ditegakkan
melalui parlemen dan demokrasi,
dan pada saat inipun masih
sangat jauh dan tidak mudah
merealisasikannya karena harus
adu bargaining dengan orang-
orang kafir-sekular yang tidak
bisa diremehkan.
Namun bila sedikit kritis dan
mau berpikir, opini tersebut
telah salah dalam menyatakan
hakekat perjuangan di parlemen,
kesalahannya terletak pada
penggunaan “tegaknya syariat
Islam” sebagai alat ukur satu-
satunya untuk mengetahui
keberhasilan perjuangan dalam
parlemen, padahal ada alat ukur
lain untuk mengetahui kadar
keberhasilan, yaitu seberapa
besar tambahan kebaikan dan
pengurangan keburukan, dalam
bahasa agama sejauh mana
dapat melaksanakan amar ma’ruf
nahi mungkar.
Dalam kitab Al-A’lamul
Muwaqqi’in Ibnu Qoyyim
mengutip perkataan Ibnu Aqil :
“Politik ialah adanya langkah-
langkah perbuatan yang manusia
dapat berada lebih dekat kepada
kebaikan, dan lebih menjauhkan
dari kerusakan…..”
Syaikh Albani kepada partai FIS
dan kepada umat Islam Aljazair
memfatwakan : “Aku katakan ini,
– walaupun aku meyakini bahwa
pencalonan dan Pemilu ini tidak
merealisasikan sasaran yang
dituju (tegaknya syariat Islam)
sebagaimana keterangannya di
atas.- namun dari bab membatasi
kejahatan, atau menolak
kerusakan yang lebih besar
dengan kerusakan yang lebih
kecil, seperti yang diperkatakan
oleh Ahli Fiqih (maka aku
nasehatkan untuk memilih dari
mereka golongan muslim).” Fatwa
kedua: “Syariat Islam bukanlah
tujuan yang akan dapat
direalisasikan, namun demikian
ada tujuan lain yang dapat dan
harus dicapai melalui perjuangan
di parlemen dan demokrasi yaitu
membatasi kejahatan, dan dalam
kaidah ushul dinyatakan senada
dengan fatwa syaikh Albani :
“Jika tidak bisa meraih semua
maka jangan tinggalkan
semuanya Bila tidak dapat
merealisasikan syariat Islam
secara kaffah maka jangan
tinggalkan seluruhnya
realisasikan walau hanya 1%.”
Al-Hafidz al-Suyuti mengutip
sebuah hadits : Rasulullah saw
bersabda : “Jika aku
memerintahkan kepada kalian
suatu perkara, maka kerjakanlah
apa yang kalian mampu.”
Dan dalam al-Qur’an dinyatakan
Allah SWT tidak membebani
seseorang melainkan sesuai
kesanggupannya QS. 2:286 dan
dalam ayat yang lain Allah SWT
berfirman yang artinya : “Maka
bertaqwalah kamu kepada Allah
menurut kesanggupanmu,” (QS.
64:16).
Menutup mata terhadap point-
point keberhasilan dalam
perjuangan di parlemen adalah
sikap yang tidak adil, tidak jujur,
tidak mencerdaskan dan tidak
mendewasakan umat, karena
diakui atau tidak, telah banyak
point-point keberhasilan tersebut
dan telah dinikmati oleh umat
Islam Indonesia, misalnya,
kebebasan memakai jilbab, ruu
sisdiknas, SKB 3 menteri lalu 2
menteri, beberapa perda yang
bernuansa ke-Islam-an,
kebebasan berdakwah,
diberantasnya kemaksiatan yaitu
dengan menangkapi pasangan
bukan suami istri di dalam kamar
hotel, penutupan rumah-rumah
bordil, perjudian, bila kita mau
adil dengan membandingkan
antara rezim orde baru dengan
sekarang, maka kita akan
mengetahui bahwa telah ada
tambahan kebaikan dan
pengurangan kerusakan, atau
bandingkan dengan negara-
negara lain yang di dalam
parlemennya tidak ada umat
Islam seperti perancis, Yunani,
Belanda dan lain-lain yang
memakai jilbab atau untuk
membangun masjid saja tidak
bisa.
Menuntut kepada orang-orang
yang berjuang di parlemen untuk
membuktikan syariat Islam dapat
tegak 100% sementara dirinya
sendiri tidak menunjukkan
adanya langkah nyata dalam
menegakkan syariat Islam maka
hal itu sama saja telah melempar
boomerang untuk dirinya sendiri.
Karena yang telah menunjukkan
langkah nyata saja tidak dapat
menunjukkan tegaknya syariat
Islam karena gagal, apalagi yang
belum menunjukkan langkah
nyata, memang tidak ada
kegagalan yang dialami tapi juga
tidak ada keberhasilan, seperti
orang yang tidak pergi perang,
memang tidak akan mengalami
kekalahan tapi dalam waktu yang
sama juga tidak akan mengalami
kemenangan.
Kedua, Opini di atas juga
dimaksudkan menggiring umat
Islam agar mempunyai
pemahaman bahwa tidak adanya
bukti tegaknya syariat Islam
menunjukkan jalan perjuangan
melalui parlemen dan demokrasi
adalah bathil. Sehingga dengan
yakin memberikan statemen :
“Tidak mungkin syariat Islam
ditegakkan melalui demokrasi.”
Tentu saja opini ini menarik
untuk dikaji, karena sampai
kinipun tidak ada syariat Islam
yang tegak oleh perjuangan
mereka, jadi menyatakan
demokrasi sebagai jalan bathil
karena tidak adanya syariat yang
tegak melalui demokrasi,
merupakan boomerang bagi
dirinya sendiri, karena juga tidak
ada syariat Islam yang tegak
melalui jalan yang ditempuhnya,
tidak dipungkiri syariat Islam
pernah tegak oleh rasulullah saw,
para sahabat, tabiut-tabiin,
tetapi menyatakan diri sesuai
sunnah dan menyatakan
perjuangan di parlemen tidak
sesuai sunnah perlu pengujian
secara ilmiah, nabi saw berhasil
menegakkan syariat Islam setelah
melalui beberapa fase
perjuangan seperti fase dakwah,
fase penyebaran, fase
menghindari konflik, fase
menyusun kekuatan dan fase
konfrontasi atau fase menghadapi
musuh, sungguh saya mohon
maaf bila bertanya, apakah
orang-orang yang mengharamkan
parlemen telah berusaha melalui
fase-fase tersebut ?
Kalau belum, tentu saja menurut
hemat saya mencurahkan
segenap tenaga dan pikiran
untuk kemajuan dakwah adalah
jauh lebih bermanfaat ketimbang
mencurahkan untuk membuat
opini yang menjelek-jelekkan
saudara-saudara kita yang
berjuang di parlemen, juga akan
sangat bermanfaat bila
mencurahkan segenap tenaga
dan pikiran untuk menasehati
dan menghibur mereka dengan
doa agar istiqomah dengan
tujuannya dan diberi kesabaran
atas musibah-musibah yang
dialami? karena saudara-saudara
kita yang berjuang di parlemen
telah berusaha menempuh fase-
fase itu hanya saja belum
berhasil menegakkan syariat
Islam dan tidak sedikit dari
mereka yang harus meregang
nyawa karena ketidakrelaan Barat
terhadap kemenangan mereka
seperti di Mesir, Turki, Aljazair
dan negeri-negeri bermayoritas
muslim lainnya.
Dan apa yang menimpa kamu
pada hari bertemunya dua
pasukan, maka (kekalahan) itu
adalah dengan izin (takdir) Allah,
dan agar Allah mengetahui siapa
orang-orang yang beriman. QS.
3:166
Atau bukankah sebaiknya tenaga
dan pikiran dicurahkan untuk
menempuh fase-fase seperti yang
rasulullah tempuh ? Insya Allah
andai-kata saudara-saudara tidak
berhasil semoga Allah SWT
mencatatnya sebagai amal
syuhada dan sebagai orang-orang
yang konsisten dalam membela
agama Allah, karena musuh
bergerak secara nyata nonsen
bila dihadapi hanya dengan
retorika dan dakwah.
Kembali lagi ke masalah
pembentukan opini, opini lain
yang cukup ilmiah untuk
memberikan citra negatif adalah
: Ikut demokrasi berarti telah
mengikuti kemauan Barat,
padahal dalam QS 2:120 Allah
telah mengingatkan : “Orang-
orang Yahudi dan Nasrani tidak
akan senang kepada kamu
sehingga kamu mengikuti agama
mereka.”
Opini tersebut walaupun dapat
berupa nasihat tetapi tujuannya
untuk menggiring pemahaman
umat bahwa berjuang di
parlemen atau demokrasi adalah
mengikuti kemauan Barat.
Sekali lagi, tanpa pemahaman
kritis opini tersebut akan nampak
benar, karena yang diungkap
dalam opini adalah dhahir
realita, yaitu memang realitanya
Barat memanfaatkan demokrasi
untuk dapat masuk ke
pemerintahan-pemerintahan
yang mayoritas rakyatnya adalah
umat Islam, sementara itu
sebagian besar umat Islam
masuk ke dalam demokrasi untuk
menghadang kemauan Barat,
wajar dan tidak dapat disalahkan
begitu saja bila orang-orang yang
mengharamkan perjuangan
melalui parlemen dan demokrasi
menyimpulkan bahwa berjuang
melalui parlemen dan demokrasi
berarti telah mengikuti kemauan
Barat, namun benarkah
demikian ?
Dari beberapa kasus mulai mesir,
Aljazair, Turki hingga Indonesia,
Barat justru kebakaran jenggot
bila ada partai Islam yang ingin
berusaha memasukkan ajaran-
ajaran Islam dalam parlemen,
kejadian terakhir di Turki
menunjukkan hal tersebut,
mereka orang-orang sekular
melakukan demo besar-besaran
bahkan terbesar di dunia untuk
menjegal partai Islam di sana
yang akan ikut pemilu, dan
sangat kuat disinyalair demo
tersebut tidak lepas dari
keinginan dan pembiayaan Barat,
begitu juga dengan di Indonesia
beberapa tahun lalu, partai yang
berusaha memasukkan nilai-nilai
Islam dalam parlemen di
opinikan terlibat jaringan teroris,
tujuannya agar dapat menjegal
partai tersebut dalam pemilu.
Begitu juga di Aljazair ketika
partai Islam akan menang, dan
ingin menerapkan syariat Islam
maka atas pesanan Barat militer
Aljazair mengkudeta FIS. Jadi
sangat tidak beralasan bila
orang-orang yang berjuang di
parlemen untuk memasukkan
nilai-nilai Islam dikatakan telah
mengikuti kemauan Barat,
buktinya Barat justru kebakaran
jenggot.
Kalau kita mau jujur, terhadap
sikap pengharaman perjuangan
di parlemen dan tidak
menempuh fase-fase nyata dalam
menghadapi Barat, justru akan
membuat Barat senang dan
berterima-kasih, karena tidak
perlu repot-repot menjegal partai
yang ingin memperjuangkan
nilai-nilai Islam di parlemen,
sudah ada yang membantunya
untuk menjegal yaitu umat Islam
sendiri, istilahnya memukul umat
Islam dengan meminjam tangan
umat Islam dan tinggal nonton
TV di gedung putih.
Jadi sebetulnya siapa yang telah
mengikuti kemauan Barat dan
menguntungkan barat, orang-
orang yang berjuang di parlemen
untuk menerapkan nilai-nilai
Islam ataukah yang
mengharamkannya tetapi tidak
ada tindakan nyata untuk
menghadapi Barat ?
Hati-hati menuduh perjuangan di
parlemen sebagai mengikuti
kemauan Barat tetapi tidak sadar
dirinya sendiri telah membantu
Barat, ini boomerang yang kedua.
Ada beberapa opini lain yang
dapat menjadi boomerang bagi
pembentuk opini itu sendiri
misalnya dinyatakan membuat
partai berarti telah berpecah
belah, padahal Allah telah
melarangnya, kalau sedikit kritis,
masuk partai atau tidak hal itu
dapat terjadi, cobalah amati
orang-orang yang mengharamkan
partai, mereka telah terpecah
belah menjadi beberapa
kelompok, ini juga boomerang.
Dan masih banyak lagi opini-
opini lain yang tidak mungkin di
bahas satu persatu karena alasan
keterbatasan ruang halaman dan
takut membeberkan strategi
perjuangan di parlemen, tetapi
yang jelas dengan sedikit kritis,
maka opini tersebut akan nyata
dapat berlaku bagi yang
diopinikan maupun bagi
pembuat opini itu sendiri
(menjadi boomerang) .
Oleh karena itu, kalau memang
ada kesalahan mereka, alangkah
baiknya bila diberi nasehat,
bukan membuat opini negatif,
kalau tidak bisa mendukung
tidakkah jauh lebih bermanfaat
segenap tenaga dan pikiran
dicurahkan untuk perjuangan
Islam dengan metode yang
diyakini ? Siapa tahu nanti
secara sinergi perjuangan di
parlemen dapat kompatible
dengan perjuangan di luar
parlemen dalam menegakkan
Islam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *