sejarah

Ternyata NU Pernah Mengharamkan Tahlilan Dan Haul Pada Tahun 1926, Kenapa Berubah?











Alam Islam – Peringatan ulang

tahun kematian Gus
Dur menyelisihi
Muktamar NU ke-1
Tahun 1926 dan
bukan dari Islam.
Karena di Islam tidak
ada ajaran haul
(peringatan ulang
tahun) untuk orang
yang sudah
meninggal. Bahkan
acara ulang tahun
untuk orang hidup
pun tidak ada di
Islam, apalagi untuk
orang yang sudah
meninggal.
Walaupun dihiasi dengan
lambang NU dan gambar
pendiri NU serta
pemimpin dan kyai NU,
acara tahlilan, haul dan
semacamnya yang
berkaitan dengan
peringatan (selamatan)
orang meninggal sejatinya
tidak sesuai dengan
keputusan Muktamar NU
ke-1 di Surabaya tanggal
13 Rabiuts Tsani 1345
H/21 Oktober 1926.
Karena dalam muktamar
itu dirujukkan pada
hadits riwayat Ahmad
ﻋَﻦْ ﺟَﺮِﻳﺮِ ﺑْﻦِ ﻋَﺒْﺪِ ﺍﻟﻠﻪِ ﺍﻟْﺒَﺠَﻠِﻲِّ ،
ﻗَﺎﻝَ : ﻛُﻨَّﺎ ﻧَﻌُﺪُّ ﺍﻻِﺟْﺘِﻤَﺎﻉَ ﺇِﻟَﻰ
ﺃَﻫْﻞِ ﺍﻟْﻤَﻴِّﺖِ ﻭَﺻَﻨِﻴﻌَﺔَ ﺍﻟﻄَّﻌَﺎﻡِ
ﺑَﻌْﺪَ ﺩَﻓْﻨِﻪِ ﻣِﻦَ .ِﺔَﺣﺎَﻴِّﻨﻟﺍ ﺗﻌﻠﻴﻖ
ﺷﻌﻴﺐ : ﻁﻭﺆﻧﺭﻷﺍ ﺻﺤﻴﺢ
Dari Jarir bin Abdullah al
Bajali yang berkata:
”Kami menganggap
berkumpul di (rumah
keluarga) mayit dengan
menyuguhi makanan pada
mereka, setelah si mayit
dikubur, itu sebagai
bagian dari RATAPAN
(YANG DILARANG).”
Kitab I’anatut Thalibin
yang dirujuk Muktamar
NU ke-1 itu di antaranya
menegaskan:
ﻭﻻ ﺷﻚ ﺃﻥ ﻣﻨﻊ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﻣﻦ
ﻫﺬﻩ ﺍﻟﺒﺪﻋﺔ ﺍﻟﻤﻨﻜﺮﺓ ﻓﻴﻪ
ﺇﺣﻴﺎﺀ ﻟﻠﺴﻨﺔ، ﻭﺇﻣﺎﺗﻪ ﻟﻠﺒﺪﻋﺔ،
ﻭﻓﺘﺢ ﻟﻜﺜﻴﺮ ﻣﻦ ﺃﺑﻮﺍﺏ ﺍﻟﺨﻴﺮ،
ﻭﻏﻠﻖ ﻟﻜﺜﻴﺮ ﻣﻦ ﺃﺑﻮﺍﺏ ﺍﻟﺸﺮ
Dan tidak diragukan lagi
bahwa melarang orang-
orang untuk melakukan
Bid’ah Mungkarah itu
(Haulan/Tahlilan : red)
adalah menghidupkan
Sunnah, mematikan
Bid’ah, membuka banyak
pintu kebaikan, dan
menutup banyak pintu
keburukan.
Bagaimana pula ketika
orang NU sendiri
melanggar Keputusan
Muktamar NU dan
sekaligus melanggar Islam
namun dibesar-besarkan
pelaksanaannya seperti
ini?
Haul Gus Dur ke-4
Minggu, 29 Desember
2013 – 09:02 wib
Ribuan jamaah
menghadiri Haul Gus Dur
ke-4 di Ciganjur, Jakarta
Selatan, Sabtu
(28/12/2013). Haul Gus
Dur kali ini dihadiri para
tokoh politik dan ribuah
jamaah, di mana acara
diisi dengan tahlilan dan
pembacaan satu juta
surat Al-Ikhlas.
Di antara tokoh yang
hadir adalah Wakil
Menteri Agama
Nassarudin Umar, Ketua
Dewan Pembina Partai
Gerindra Prabowo
Subianto, Menteri
Perumahan Rakyat Djan
Faridz, Sekjen ICIS Hasyim
Muzadi, dan Romo Magnis
memanjatkan doa untuk
almarhum mantan
Presiden KH Abdurrahman
Wahid (Gus Dur) pada
acara Haul Gus Dur ke-4
di Ciganjur, Jakarta
Selatan, Sabtu
(28/12/2013). Haul Gus
Dur kali ini dihadiri para
tokoh politik dan ribuah
jamaah, di mana acara
diisi dengan tahlilan dan
pembacaan satu juta
surat Al-Ikhlas./viva

*

Dikhawatirkan

tidak boleh
minum air telaga
di Akherat
Dikhawatirkan, orang-
orang yang mengadakan
dan melakukan bid’ah
munkaroh dan sudah
diperingatkan namun
justru dibesar-besarkan
itu akan terkena hadits
tentang orang-orang yang
tidak boleh minum air
telaga di Akherat kelak.
Rasulullah Shallallahu
‘Alaihi
Wasallam bersabda,
ﺃَﻧَﺎ ﻓَﺮَﻃُﻜُﻢْ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟْﺤَﻮْﺽِ ﻓَﻤَﻦْ
ﻭَﺭَﺩَﻩُ ﺷَﺮِﺏَ ﻣِﻨْﻪُ ﻭَﻣَﻦْ ﺷَﺮِﺏَ
ﻣِﻨْﻪُ ﻟَﻢْ ﻳَﻈْﻤَﺄْ ﺑَﻌْﺪَﻩُ ﺃَﺑَﺪًﺍ ﻟَﻴَﺮِﺩُ
ﻋَﻠَﻲَّ ﺃَﻗْﻮَﺍﻡٌ ﺃَﻋْﺮِﻓُﻬُﻢْ
ﻭَﻳَﻌْﺮِﻓُﻮﻧِﻲ ﺛُﻢَّ ﻳُﺤَﺎﻝُ ﺑَﻴْﻨِﻲ
ﻭَﺑَﻴْﻨَﻬُﻢْ ﻗَﺎﻝَ ﺇِﻧَّﻬُﻢْ ﻣِﻨِّﻲ
ﻓَﻴُﻘَﺎﻝُ ﺇِﻧَّﻚَ ﻟَﺎ ﺗَﺪْﺭِﻱ ﻣَﺎ ﺑَﺪَّﻟُﻮﺍ
ﺑَﻌْﺪَﻙَ ﻓَﺄَﻗُﻮﻝُ ﺳُﺤْﻘًﺎ ﺳُﺤْﻘًﺎ
ﻟِﻤَﻦْ ﺑَﺪَّﻝَ ﺑَﻌْﺪِﻱ
“ Aku adalah pendahulu
kalian menuju telaga.
Siapa saja yang
melewatinya, pasti akan
meminumnya. Dan
barangsiapa
meminumnya, niscaya
tidak akan haus
selamanya. Nanti akan
lewat beberapa orang
yang melewati diriku, aku
mengenali mereka dan
mereka mengenaliku,
namun mereka terhalangi
menemui diriku.” Beliau
melanjutkan,
“Sesungguhnya mereka
termasuk umatku.” Maka
dikatakan, “Sesungguhnya
kamu tidak mengetahui
perkara yang telah
mereka rubah
sepeninggalmu.”
Kemudian aku (Rasulullah
Shallallahu ‘Alaihi
Wasallam) bersabda:
“jauhlah, jauhlah! bagi
orang yang merubah
(ajaran agama)
sesudahku. ” (HR. Al-
Bukhari dan Muslim)

*

Hukum
TAHLILAN
menurut NU,
silahkan dibaca,
mudah-
mudahan bermanfaat,..
April 8, 2012
Muktamar NU ke-1 di
Surabaya tanggal 13
Rabiuts Tsani 1345 H/21
Oktober 1926
Mencantumkan pendapat
Ibnu Hajar al-Haitami dan
menyatakan bahwa
selamatan kematian
adalah bid’ah yang
hina namun tidak sampai
diharamkan dan merujuk
juga kepada Kitab Ianatut
Thalibin.
Namun Nahdliyin
generasi berikutnya
menganggap pentingnya
tahlilan tersebut sejajar
(bahkan melebihi) rukun
Islam/Ahli Sunnah wal
Jama’ah. Sekalipun
seseorang telah
melakukan kewajiban-
kewajiban agama, namun
tidak melakukan tahlilan,
akan dianggap tercela
sekali, bukan termasuk
golongan Ahli Sunnah wal
Jama’ah.
Di zaman akhir yang ini
dimana keadaan pengikut
sunnah seperti orang
‘aneh’ asing di negeri
sendiri, begitu banyaknya
orang Islam yang
meninggalkan kewajiban
agama tanpa rasa malu,
seperti meninggalkan
Sholat Jum’at, puasa
Romadhon,dll.
Sebaliknya masyarakat
begitu antusias
melaksanakan tahlilan ini,
hanya segelintir orang
yang berani
meninggalkannya. Bahkan
non-muslim pun akan
merasa kikuk bila tak
melaksanakannya.
Padahal para ulama
terdahulu senantiasa
mengingat dalil-dalil yang
menganggap buruk
walimah (selamatan)
dalam suasana musibah
tersebut.
Dari sahabat Jarir bin
Abdullah al-Bajali: “Kami
(para sahabat)
menganggap kegiatan
berkumpul di rumah
keluarga mayit, serta
penghidangan makanan
oleh mereka merupakan
bagian dari niyahah
(meratapi mayit)”.
(Musnad Ahmad bin
Hambal (Beirut: Dar al-
Fikr, 1994) juz II, hal 204
& Sunan Ibnu Majah
(Beirut: Dar al-Fikr) juz I,
hal 514)
MUKTAMAR I NAHDLATUL
ULAMA (NU) KEPUTUSAN
MASALAH DINIYYAH NO:
18 / 13 RABI’UTS TSAANI
1345 H / 21 OKTOBER
1926 DI SURABAYA
.
TENTANG KELUARGA
MAYIT MENYEDIAKAN
MAKAN KEPADA
PENTAKZIAH
TANYA :
Bagaimana hukumnya
keluarga mayat
menyediakan makanan
untuk hidangan kepada
mereka yang datang
berta’ziah pada hari
wafatnya atau hari-hari
berikutnya, dengan
maksud bersedekah untuk
mayat tersebut? Apakah
keluarga memperoleh
pahala sedekah tersebut?
JAWAB :
Menyediakan makanan
pada hari wafat atau hari
ketiga atau hari ketujuh
itu hukumnya MAKRUH ,
apabila harus dengan
cara berkumpul bersama-
sama dan pada hari-hari
tertentu, sedang hukum
makruh tersebut tidak
menghilangkan pahala
itu.
KETERANGAN :
Dalam kitab I’anatut
Thalibin Kitabul Janaiz:
“ MAKRUH hukumnya bagi
keluarga mayit ikut duduk
bersama orang-orang yang
sengaja dihimpun untuk
berta’ziyah dan
membuatkan makanan
bagi mereka, sesuai
dengan hadits riwayat
Ahmad dari Jarir bin
Abdullah al Bajali yang
berkata: ”kami
menganggap berkumpul
di (rumah keluarga) mayit
dengan menyuguhi
makanan pada mereka,
setelah si mayit dikubur,
itu sebagai bagian dari
RATAPAN (YANG
DILARANG).”
Dalam kitab Al Fatawa Al
Kubra disebutkan :
“Beliau ditanya semoga
Allah mengembalikan
barokah-Nya kepada kita.
Bagaimanakah tentang
hewan yang disembelih
dan dimasak kemudian
dibawa di belakang mayit
menuju kuburan untuk
disedekahkan ke para
penggali kubur saja, dan
TENTANG YANG
DILAKUKAN PADA HARI
KETIGA KEMATIAN DALAM
BENTUK PENYEDIAAN
MAKANAN UNTUK PARA
FAKIR DAN YANG LAIN,
DAN DEMIKIAN HALNYA
YANG DILAKUKAN PADA
HARI KETUJUH, serta yang
dilakukan pada genap
sebulan dengan
pemberian roti yang
diedarkan ke rumah-
rumah wanita yang
menghadiri proses
ta’ziyah jenazah.
Mereka melakukan semua
itu tujuannya hanya
sekedar melaksanakan
kebiasaan penduduk
setempat sehingga bagi
yang tidak mau
melakukannya akan
dibenci oleh mereka dan
ia akan merasa
diacuhkan. Kalau mereka
melaksanakan adat
tersebut dan bersedekah
tidak bertujuaan (pahala)
akhirat, maka bagaimana
hukumnya, boleh atau
tidak?
Apakah harta yang telah
ditasarufkan, atas
keinginan ahli waris itu
masih ikut dibagi/
dihitung dalam
pembagian tirkah/harta
warisan, walau sebagian
ahli waris yang lain tidak
senang pentasarufan
sebagaian tirkah
bertujuan sebagai
sedekah bagi si mayit
selama satu bulan
berjalan dari
kematiannya. Sebab,
tradisi demikian, menurut
anggapan masyarakat
harus dilaksanakan
seperti “wajib”,
bagaimana hukumnya.”
Beliau menjawab bahwa
semua yang dilakukan
sebagaimana yang
ditanyakan di atas
termasuk BID’AH YANG
TERCELA tetapi tidak
sampai haram (alias
makruh), kecuali (bisa
haram) jika prosesi
penghormatan pada mayit
di rumah ahli warisnya
itu bertujuan untuk
“meratapi” atau memuji
secara berlebihan
(rastsa’).
Dalam melakukan prosesi
tersebut, ia harus
bertujuan untuk
menangkal “OCEHAN”
ORANG-ORANG BODOH
(yaitu orang-orang yang
punya adat kebiasaan
menyediakan makanan
pada hari wafat atau hari
ketiga atau hari ketujuh,
dst-penj.), agar mereka
tidak menodai
kehormatan dirinya, gara-
gara ia tidak mau
melakukan prosesi
penghormatan di atas.
Dengan sikap demikian,
diharapkan ia
mendapatkan pahala
setara dengan realisasi
perintah Nabi terhadap
seseorang yang batal
(karena hadast) shalatnya
untuk menutup
hidungnya dengan tangan
(seakan-akan hidungnya
keluar darah). Ini demi
untuk menjaga
kehormatan dirinya, jika
ia berbuat di luar
kebiasaan masyarakat.
Tirkah tidak boleh
diambil / dikurangi
seperti kasus di atas.
Sebab tirkah yang belum
dibagikan mutlak harus
disterilkan jika terdapat
ahli waris yang majrur
ilahi. Walaupun ahli
warisnya sudah pandai-
pandai, tetapi sebagian
dari mereka tidak rela
(jika tirkah itu digunakan
sebelum dibagi kepada
ahli waris).
[Buku “Masalah
Keagamaan” Hasil
Muktamar/ Munas Ulama
NU ke I s/d XXX (yang
terdiri dari 430 masalah)
oleh KH. A. Aziz Masyhuri
ketua Pimpinan Pusat
Rabithah Ma’ahid
Islamiyah dan Pengasuh
Ponpes Al Aziziyyah
Denanyar Jombang. Kata
Pengantar Menteri Agama
Republik Indonesia : H.
Maftuh Basuni]
Keterangan lebih
lengkapnya lihat dalam
Kitab I’anatut Thalibin
Juz 2 hal. 165 -166 ,
Seperti terlampir di
bawah ini :
ﻭﻗﺪ ﺃﺭﺳﻞ ﺍﻻﻣﺎﻡ – ﻲﻌﻓﺎﺸﻟﺍ
ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻪ – ﺇﻟﻰ ﺑﻌﺾ
ﺃﺻﺤﺎﺑﻪ ﻳﻌﺰﻳﻪ ﻓﻲ ﺍﺑﻦ ﻟﻪ ﻗﺪ
ﻣﺎﺕ ﺑﻘﻮﻟﻪ: ﺇﻧﻲ ﻣﻌﺰﻳﻚ ﻻ
ﺇﻧﻲ ﻋﻠﻰ *ﺔﻘﺛ * ﻣﻦ ﺍﻟﺨﻠﻮﺩ،
ﻭﻟﻜﻦ ﺳﻨﺔ ﺍﻟﺪﻳﻦ ﻓﻤﺎ ﺍﻟﻤﻌﺰﻯ
ﺑﺒﺎﻕ ﺑﻌﺪ * ﻪﺘﻴﻣ * ﻭﻻ
ﺍﻟﻤﻌﺰﻱ ﻭﻟﻮ ﻋﺎﺷﺎ ﺇﻟﻰ ﺣﻴﻦ
ﻭﺍﻟﺘﻌﺰﻳﺔ: ﻫﻲ ﺍﻻﻣﺮ ﺑﺎﻟﺼﺒﺮ،
ﻭﺍﻟﺤﻤﻞ ﻋﻠﻴﻪ ﺑﻮﻋﺪ ﺍﻻﺟﺮ،
ﻭﺍﻟﺘﺤﺬﻳﺮ ﻣﻦ ﺍﻟﻮﺯﺭ ﺑﺎﻟﺠﺰﻉ،
ﻭﺍﻟﺪﻋﺎﺀ ﻟﻠﻤﻴﺖ ﺑﺎﻟﻤﻐﻔﺮﺓ
ﻭﻟﻠﺤﻲ ﺑﺠﺒﺮ ﺍﻟﻤﺼﻴﺒﺔ، ﻓﻴﻘﺎﻝ
ﻓﻴﻬﺎ: ﺃﻋﻈﻢ ﺍﻟﻠﻪ ﺃﺟﺮﻙ،
ﻭﺃﺣﺴﻦ ﻋﺰﺍﺀﻙ، ﻭﻏﻔﺮ ﻟﻤﻴﺘﻚ،
ﻭﺟﺒﺮ ﻣﻌﺼﻴﺘﻚ، ﺃﻭ ﺃﺧﻠﻒ
ﻋﻠﻴﻚ، ﺃﻭ ﻧﺤﻮ ﺫﻟﻚ.ﻭﻫﺬﺍ ﻓﻲ
ﺗﻌﺰﻳﺔ ﺍﻟﻤﺴﻠﻢ .ﻢﻠﺴﻤﻟﺎﺑ
ﻭﺃﻣﺎ ﺗﻌﺰﻳﺔ ﺍﻟﻤﺴﻠﻢ ﺑﺎﻟﻜﺎﻓﺮ
ﻓﻼ ﻳﻘﺎﻝ ﻓﻴﻬﺎ: ﻭﻏﻔﺮ ﻟﻤﻴﺘﻚ،
ﻻﻥ ﺍﻟﻠﻪ ﻻ ﻳﻐﻔﺮ .ﺮﻔﻜﻟﺍ
ﻭﻫﻲ ﻣﺴﺘﺤﺒﺔ ﻗﺒﻞ ﻣﻀﻲ
ﺛﻼﺛﺔ ﺃﻳﺎﻡ ﻣﻦ ﺍﻟﻤﻮﺕ، ﻭﺗﻜﺮﻩ
ﺑﻌﺪ ﻣﻀﻴﻬﺎ.ﻭﻳﺴﻦ ﺃﻥ ﻳﻌﻢ
ﺑﻬﺎ ﺟﻤﻴﻊ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﻤﻴﺖ ﻣﻦ
ﺻﻐﻴﺮﻭﻛﺒﻴﺮ، ﻭﺭﺟﻞ ﻭﺍﻣﺮﺃﺓ، ﺇﻻ
ﺷﺎﺑﺔ ﻭﺃﻣﺮﺩ ﺣﺴﻨﺎ، ﻓﻼ
ﻳﻌﺰﻳﻬﻤﺎ ﺇﻻ ﻣﺤﺎﺭﻣﻬﻤﺎ،
ﻭﺯﻭﺟﻬﻤﺎ.ﻭﻳﻜﺮﻩ ﺍﺑﺘﺪﺍﺀ ﺃﺟﻨﺒﻲ
ﻟﻬﻤﺎ ﺑﺎﻟﺘﻌﺰﻳﺔ، ﺑﻞ ﺍﻟﺤﺮﻣﺔ
.ﺏﺮﻗﺃ ﻭﻳﻜﺮﻩ ﻻﻫﻞ ﺍﻟﻤﻴﺖ
ﺍﻟﺠﻠﻮﺱ ﻟﻠﺘﻌﺰﻳﺔ، ﻭﺻﻨﻊ ﻃﻌﺎﻡ
ﻳﺠﻤﻌﻮﻥ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﻋﻠﻴﻪ، ﻟﻤﺎ ﺭﻭﻯ
ﺃﺣﻤﺪ ﻋﻦ ﺟﺮﻳﺮ ﺑﻦ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﻠﻪ
ﺍﻟﺒﺠﻠﻲ، ﻗﺎﻝ: ﻛﻨﺎ ﻧﻌﺪ
ﺍﻻﺟﺘﻤﺎﻉ ﺇﻟﻰ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﻤﻴﺖ
ﻭﺻﻨﻌﻬﻢ ﺍﻟﻄﻌﺎﻡ ﺑﻌﺪ ﺩﻓﻨﻪ
ﻣﻦ ﺍﻟﻨﻴﺎﺣﺔ، ﻭﻳﺴﺘﺤﺐ ﻟﺠﻴﺮﺍﻥ
ﺃﻫﻞ ﺍﻟﻤﻴﺖ – ﻭﻟﻮ – ﺐﻧﺎﺟﺃ
ﻭﻣﻌﺎﺭﻓﻬﻢ – ﻭﺇﻥ ﻟﻢ ﻳﻜﻮﻧﻮﺍ
ﺟﻴﺮﺍﻧﺎ – ﻭﺃﻗﺎﺭﺑﻪ ﺍﻻﺑﺎﻋﺪ – ﻭﺇﻥ
ﻛﺎﻧﻮﺍ ﺑﻐﻴﺮ ﺑﻠﺪ ﺍﻟﻤﻴﺖ – ﺃﻥ
ﻳﺼﻨﻌﻮﺍ ﻻﻫﻠﻪ ﻃﻌﺎﻣﺎ
ﻳﻜﻔﻴﻬﻢ ﻳﻮﻣﺎ ﻭﻟﻴﻠﺔ، ﻭﺃﻥ
ﻳﻠﺤﻮﺍ ﻋﻠﻴﻬﻢ ﻓﻲ
ﺍﻻﻛﻞ.ﻭﻳﺤﺮﻡ ﺻﻨﻌﻪ ﻟﻠﻨﺎﺋﺤﺔ،
ﻻﻧﻪ ﺇﻋﺎﻧﺔ ﻋﻠﻰ .ﺔﻴﺼﻌﻣ
ﻭﻗﺪ ﺍﻃﻠﻌﺖ ﻋﻠﻰ ﺳﺆﺍﻝ ﺭﻓﻊ
ﻟﻤﻔﺎﺗﻲ ﻣﻜﺔ ﺍﻟﻤﺸﺮﻓﺔ ﻓﻴﻤﺎ
ﻳﻔﻌﻠﻪ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﻤﻴﺖ ﻣﻦ
ﺍﻟﻄﻌﺎﻡ.ﻭﺟﻮﺍﺏ .ﻚﻟﺬﻟ ﻢﻬﻨﻣ
‏( ﻭﺻﻮﺭﺗﻬﻤﺎ‏).
ﻣﺎ ﻗﻮﻝ ﺍﻟﻤﻔﺎﺗﻲ ﺍﻟﻜﺮﺍﻡ ﺑﺎﻟﺒﻠﺪ
ﺍﻟﺤﺮﺍﻡ ﺩﺍﻡ ﻧﻔﻌﻬﻢ ﻟﻼﻧﺎﻡ
ﻣﺪﻯ ﺍﻻﻳﺎﻡ، ﻓﻲ ﺍﻟﻌﺮﻑ
ﺍﻟﺨﺎﺹ ﻓﻲ ﺑﻠﺪﺓ ﻟﻤﻦ ﺑﻬﺎ ﻣﻦ
ﺍﻻﺷﺨﺎﺹ ﺃﻥ ﺍﻟﺸﺨﺺ ﺇﺫﺍ
ﺍﻧﺘﻘﻞ ﺇﻟﻰ ﺩﺍﺭ ﺍﻟﺠﺰﺍﺀ، ﻭﺣﻀﺮ
ﻣﻌﺎﺭﻓﻪ ﻭﺟﻴﺮﺍﻧﻪ ﺍﻟﻌﺰﺍﺀ، ﺟﺮﻯ
ﺍﻟﻌﺮﻑ ﺑﺄﻧﻬﻢ ﻳﻨﺘﻈﺮﻭﻥ
ﺍﻟﻄﻌﺎﻡ، ﻭﻣﻦ ﻏﻠﺒﺔ ﺍﻟﺤﻴﺎﺀ
ﻋﻠﻰ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﻤﻴﺖ ﻳﺘﻜﻠﻔﻮﻥ
ﺍﻟﺘﻜﻠﻒ ﺍﻟﺘﺎﻡ، ﻭﻳﻬﻴﺌﻮﻥ ﻟﻬﻢ
ﺃﻃﻌﻤﺔ ﻋﺪﻳﺪﺓ، ﻭﻳﺤﻀﺮﻭﻧﻬﺎ
ﻟﻬﻢ ﺑﺎﻟﻤﺸﻘﺔ ﺍﻟﺸﺪﻳﺪﺓ.ﻓﻬﻞ
ﻟﻮ ﺃﺭﺍﺩ ﺭﺋﻴﺲ ﺍﻟﺤﻜﺎﻡ -ﺑﻤﺎ ﻟﻪ
ﻣﻦ ﺍﻟﺮﻓﻖ ﺑﺎﻟﺮﻋﻴﺔ، ﻭﺍﻟﺸﻔﻘﺔ
ﻋﻠﻰ ﺍﻻﻫﺎﻟﻲ – ﺑﻤﻨﻊ ﻫﺬﻩ
ﺍﻟﻘﻀﻴﺔ ﺑﺎﻟﻜﻠﻴﺔ ﻟﻴﻌﻮﺩﻭﺍ ﺇﻟﻰ
ﺍﻟﺘﻤﺴﻚ ﺑﺎﻟﺴﻨﺔ ﺍﻟﺴﻨﻴﺔ،
ﺍﻟﻤﺄﺛﻮﺭﺓ ﻋﻦ ﺧﻴﺮ ﺍﻟﺒﺮﻳﺔ ﻭﺇﻟﻰ
ﻋﻠﻴﻪ ﺭﺑﻪ ﺻﻼﺓ ﻭﺳﻼﻣﺎ، ﺣﻴﺚ
ﻗﺎﻝ: ﺍﺻﻨﻌﻮﺍ ﻵﻝ ﺟﻌﻔﺮ
ﻃﻌﺎﻣﺎ ﻳﺜﺎﺏ ﻋﻠﻰ ﻫﺬﺍ ﺍﻟﻤﻨﻊ
ﺍﻟﻤﺬﻛﻮﺭ ؟ ﺃﻓﻴﺪﻭﺍ ﺑﺎﻟﺠﻮﺍﺏ ﺑﻤﺎ
ﻫﻮ .ﺭﻮﻄﺴﻣﻭ ﻝﻮﻘﻨﻣ
‏(ﺍﻟﺤﻤﺪ ﻟﻠﻪ ﻭﺣﺪﻩ ‏) ﻭﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ
ﻭﺳﻠﻢ ﻋﻠﻰ ﺳﻴﺪﻧﺎ ﻣﺤﻤﺪ
ﻭﻋﻠﻰ ﺁﻟﻪ ﻭﺻﺤﺒﻪ ﻭﺍﻟﺴﺎﻟﻜﻴﻦ
ﻧﻬﺠﻬﻢ ﺑﻌﺪﻩ.ﺍﻟﻠﻬﻢ ﺃﺳﺄﻟﻚ
ﺍﻟﻬﺪﺍﻳﺔ .ﺏﺍﻮﺼﻠﻟ
ﻧﻌﻢ، ﻣﺎ ﻳﻔﻌﻠﻪ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﻣﻦ
ﺍﻻﺟﺘﻤﺎﻉ ﻋﻨﺪ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﻤﻴﺖ
ﻭﺻﻨﻊ ﺍﻟﻄﻌﺎﻡ، ﻣﻦ ﺍﻟﺒﺪﻉ
ﺍﻟﻤﻨﻜﺮﺓ ﺍﻟﺘﻲ ﻳﺜﺎﺏ ﻋﻠﻰ
ﻣﻨﻌﻬﺎ ﻭﺍﻟﻲ ﺍﻻﻣﺮ، ﺛﺒﺖ ﺍﻟﻠﻪ
ﺑﻪ ﻗﻮﺍﻋﺪ ﺍﻟﺪﻳﻦ ﻭﺃﻳﺪ ﺑﻪ
ﺍﻻﺳﻼﻡ .ﻦﻴﻤﻠﺴﻤﻟﺍﻭ
ﻗﺎﻝ ﺍﻟﻌﻼﻣﺔ ﺃﺣﻤﺪ ﺑﻦ ﺣﺠﺮ
ﻓﻲ ‏(ﺗﺤﻔﺔ ﺍﻟﻤﺤﺘﺎﺝ ﻟﺸﺮﺣﻚ
ﺍﻟﻤﻨﻬﺎﺝ‏) : ﻭﻳﺴﻦ ﻟﺠﻴﺮﺍﻥ
ﺃﻫﻠﻪ – ﺃﻱ ﺍﻟﻤﻴﺖ – ﺗﻬﻴﺌﺔ
ﻃﻌﺎﻡ ﻳﺸﺒﻌﻬﻢ ﻳﻮﻣﻬﻢ
ﻭﻟﻴﻠﺘﻬﻢ، ﻟﻠﺨﺒﺮ
ﺍﻟﺼﺤﻴﺢ.ﺍﺻﻨﻌﻮﺍ ﻵﻝ ﺟﻌﻔﺮ
ﻃﻌﺎﻣﺎ ﻓﻘﺪ ﺟﺎﺀﻫﻢ ﻣﺎ
ﻳﺸﻐﻠﻬﻢ
.
ﻭﻳﻠﺢ ﻋﻠﻴﻬﻢ ﻓﻲ ﺍﻻﻛﻞ ﻧﺪﺑﺎ،
ﻻﻧﻬﻢ ﻗﺪ ﻳﺘﺮﻛﻮﻧﻪ ﺣﻴﺎﺀ، ﺃﻭ
ﻟﻔﺮﻁ ﺟﺰﻉ.ﻭﻳﺤﺮﻡ ﺗﻬﻴﺌﻪ
ﻟﻠﻨﺎﺋﺤﺎﺕ ﻻﻧﻪ ﺇﻋﺎﻧﺔ ﻋﻠﻰ
ﻣﻌﺼﻴﺔ، ﻭﻣﺎ ﺍﻋﺘﻴﺪ ﻣﻦ ﺟﻌﻞ
ﺃﻫﻞ ﺍﻟﻤﻴﺖ ﻃﻌﺎﻣﺎ ﻟﻴﺪﻋﻮﺍ
ﺍﻟﻨﺎﺱ ﺇﻟﻴﻪ، ﺑﺪﻋﺔ ﻣﻜﺮﻭﻫﺔ –
ﻛﺈﺟﺎﺑﺘﻬﻢ ﻟﺬﻟﻚ، ﻟﻤﺎ ﺻﺢ ﻋﻦ
ﺟﺮﻳﺮ ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻪ.ﻛﻨﺎ ﻧﻌﺪ
ﺍﻻﺟﺘﻤﺎﻉ ﺇﻟﻰ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﻤﻴﺖ
ﻭﺻﻨﻌﻬﻢ ﺍﻟﻄﻌﺎﻡ ﺑﻌﺪ ﺩﻓﻨﻪ
ﻣﻦ .ﺔﺣﺎﻴﻨﻟﺍ
ﻭﻭﺟﻪ ﻋﺪﻩ ﻣﻦ ﺍﻟﻨﻴﺎﺣﺔ ﻣﺎ
ﻓﻴﻪ ﻣﻦ ﺷﺪﺓ ﺍﻻﻫﺘﻤﺎﻡ ﺑﺄﻣﺮ
.ﻥﺰﺤﻟﺍ
ﻭﻣﻦ ﺛﻢ ﻛﺮﻩ ﺍﺟﺘﻤﺎﻉ ﺃﻫﻞ
ﺍﻟﻤﻴﺖ ﻟﻴﻘﺼﺪﻭﺍ ﺑﺎﻟﻌﺰﺍﺀ، ﺑﻞ
ﻳﻨﺒﻐﻲ ﺃﻥ ﻳﻨﺼﺮﻓﻮﺍ ﻓﻲ
ﺣﻮﺍﺋﺠﻬﻢ، ﻓﻤﻦ ﺻﺎﺩﻓﻬﻢ
.ﻢﻫﺍﺰﻋ
.ﻩﺍ
ﻭﻓﻲ ﺣﺎﺷﻴﺔ ﺍﻟﻌﻼﻣﺔ ﺍﻟﺠﻤﻞ
ﻋﻠﻰ ﺷﺮﺡ ﺍﻟﻤﻨﻬﺞ: ﻭﻣﻦ ﺍﻟﺒﺪﻉ
ﺍﻟﻤﻨﻜﺮﺓ ﻭﺍﻟﻤﻜﺮﻭﻩ ﻓﻌﻠﻬﺎ: ﻣﺎ
ﻳﻔﻌﻠﻪ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﻣﻦ
ﺍﻟﻮﺣﺸﺔﻭﺍﻟﺠﻤﻊ ﻭﺍﻻﺭﺑﻌﻴﻦ، ﺑﻞ
ﻛﻞ ﺫﻟﻚ ﺣﺮﺍﻡ ﺇﻥ ﻛﺎﻥ ﻣﻦ ﻣﺎﻝ
ﻣﺤﺠﻮﺭ، ﺃﻭ ﻣﻦ ﻣﻴﺖ ﻋﻠﻴﻪ ﺩﻳﻦ،
ﺃﻭ ﻳﺘﺮﺗﺐ ﻋﻠﻴﻪ ﺿﺮﺭ، ﺃﻭ ﻧﺤﻮ
.ﻚﻟﺫ
ﺍﻩ.ﻭﻗﺪ ﻗﺎﻝ ﺭﺳﻮﻝ
ﺍﻟﻠﻪ ‏(ﺹ ‏) ﻟﺒﻼﻝ ﺑﻦ ﺍﻟﺤﺮﺙ
ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻪ: ﻳﺎ ﺑﻼﻝ ﻣﻦ
ﺃﺣﻴﺎ ﺳﻨﺔ ﻣﻦ ﺳﻨﺘﻲ ﻗﺪ
ﺃﻣﻴﺘﺖ ﻣﻦ ﺑﻌﺪﻱ، ﻛﺎﻥ ﻟﻪ ﻣﻦ
ﺍﻻﺟﺮ ﻣﺜﻞ ﻣﻦ ﻋﻤﻞ ﺑﻬﺎ، ﻻ
ﻳﻨﻘﺺ ﻣﻦ ﺃﺟﻮﺭﻫﻢ .ﺎﺌﻴﺷ
ﻭﻣﻦ ﺍﺑﺘﺪﻉ ﺑﺪﻋﺔ ﺿﻼﻟﺔ ﻻ
ﻳﺮﺿﺎﻫﺎ ﺍﻟﻠﻪ ﻭﺭﺳﻮﻟﻪ، ﻛﺎﻥ
ﻋﻠﻴﻪ ﻣﺜﻞ ﻣﻦ ﻋﻤﻞ ﺑﻬﺎ، ﻻ
ﻳﻨﻘﺺ ﻣﻦ ﺃﻭﺯﺍﺭﻫﻢ
ﺷﻴﺌﺎ.ﻭﻗﺎﻝ ‏( ﺹ‏) : ﺇﻥ ﻫﺬﺍ
ﺍﻟﺨﻴﺮ ﺧﺰﺍﺋﻦ، ﻟﺘﻠﻚ ﺍﻟﺨﺰﺍﺋﻦ
ﻣﻔﺎﺗﻴﺢ، ﻓﻄﻮﺑﻰ ﻟﻌﺒﺪ ﺟﻌﻠﻪ
ﺍﻟﻠﻪ ﻣﻔﺘﺎﺣﺎ ﻟﻠﺨﻴﺮ، ﻣﻐﻼﻗﺎ
ﻟﻠﺸﺮ.ﻭﻭﻳﻞ ﻟﻌﺒﺪ ﺟﻌﻠﻪ ﺍﻟﻠﻪ
ﻣﻔﺘﺎﺣﺎ ﻟﻠﺸﺮ، ﻣﻐﻼﻗﺎ .ﺮﻴﺨﻠﻟ
ﻭﻻ ﺷﻚ ﺃﻥ ﻣﻨﻊ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﻣﻦ
ﻫﺬﻩ ﺍﻟﺒﺪﻋﺔ ﺍﻟﻤﻨﻜﺮﺓ ﻓﻴﻪ
ﺇﺣﻴﺎﺀ ﻟﻠﺴﻨﺔ، ﻭﺇﻣﺎﺗﻪ ﻟﻠﺒﺪﻋﺔ،
ﻭﻓﺘﺢ ﻟﻜﺜﻴﺮ ﻣﻦ ﺃﺑﻮﺍﺏ ﺍﻟﺨﻴﺮ،
ﻭﻏﻠﻖ ﻟﻜﺜﻴﺮ ﻣﻦ ﺃﺑﻮﺍﺏ ﺍﻟﺸﺮ،
ﻓﺈﻥ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﻳﺘﻜﻠﻔﻮﻥ ﺗﻜﻠﻔﺎ
ﻛﺜﻴﺮﺍ، ﻳﺆﺩﻱ ﺇﻟﻰ ﺃﻥ ﻳﻜﻮﻥ
ﺫﻟﻚ ﺍﻟﺼﻨﻊ ﻣﺤﺮﻣﺎ.ﻭﺍﻟﻠﻪ
ﺳﺒﺤﺎﻧﻪ .ﻢﻠﻋﺃ ﻰﻟﺎﻌﺗﻭ
ﻛﺘﺒﻪ ﺍﻟﻤﺮﺗﺠﻲ ﻣﻦ ﺭﺑﻪ
ﺍﻟﻐﻔﺮﺍﻥ: ﺃﺣﻤﺪ ﺑﻦ ﺯﻳﻨﻲ
ﺩﺣﻼﻥ – ﻣﻔﺘﻲ ﺍﻟﺸﺎﻓﻌﻴﺔ
ﺑﻤﻜﺔ ﺍﻟﻤﺤﻤﻴﺔ – ﻏﻔﺮ ﺍﻟﻠﻪ ﻟﻪ،
ﻭﻟﻮﺍﻟﺪﻳﻪ، ﻭﻣﺸﺎﻳﺨﻪ،
.ﻦﻴﻤﻠﺴﻤﻟﺍﻭ
‏(ﺍﻟﺤﻤﺪ ﻟﻠﻪ‏) ﻣﻦ ﻣﻤﺪ ﺍﻟﻜﻮﻥ
ﺃﺳﺘﻤﺪ ﺍﻟﺘﻮﻓﻴﻖ ﻭﺍﻟﻌﻮﻥ.ﻧﻌﻢ،
ﻳﺜﺎﺏ ﻭﺍﻟﻲ ﺍﻻﻣﺮ – ﺿﺎﻋﻒ
ﺍﻟﻠﻪ ﻟﻪ ﺍﻻﺟﺮ، ﻭﺃﻳﺪﻩ – ﻩﺪﻴﻳﺄﺘﺑ
ﻋﻠﻰ ﻣﻨﻌﻬﻢ ﻋﻦ ﺗﻠﻚ ﺍﻻﻣﻮﺭ
ﺍﻟﺘﻲ ﻫﻲ ﻣﻦ ﺍﻟﺒﺪﻉ
ﺍﻟﻤﺴﺘﻘﺒﺤﺔ .ﺭﻮﻬﻤﺠﻟﺍ ﺪﻨﻋ
ﻗﺎﻝ ﻓﻲ ‏( ﺭﺩ ﺍﻟﻤﺤﺘﺎﺭ ﺗﺤﺖ
ﻗﻮﻝ ﺍﻟﺪﺍﺭ ﺍﻟﻤﺨﺘﺎﺭ‏) ﻣﺎ
ﻧﺼﻪ: ﻗﺎﻝ ﻓﻲ
ﺍﻟﻔﺘﺢ: ﻭﻳﺴﺘﺤﺐ ﻟﺠﻴﺮﺍﻥ ﺃﻫﻞ
ﺍﻟﻤﻴﺖ، ﻭﺍﻻﻗﺮﺑﺎﺀ ﺍﻻﺑﺎﻋﺪ،
ﺗﻬﻴﺌﺔ ﻃﻌﺎﻡ ﻟﻬﻢ ﻳﺸﺒﻌﻬﻢ
ﻳﻮﻣﻬﻢ ﻭﻟﻴﻠﺘﻬﻢ،
ﻟﻘﻮﻟﻪ ‏(ﺹ ‏) : ﺍﺻﻨﻌﻮﺍ ﻵﻝ
ﺟﻌﻔﺮ
ﻃﻌﺎﻣﺎ
‏(ﻣﺎ ﻓﻘﺪ ﺟﺎﺀﻫﻢ ﻣﺎ
ﻳﺸﻐﻠﻬﻢ.ﺣﺴﻨﻪ ﺍﻟﺘﺮﻣﺬﻱ،
.ﻢﻛﺎﺤﻟﺍ ﻪﺤﺤﺻﻭ
ﻭﻻﻧﻪ ﺑﺮ ﻭﻣﻌﺮﻭﻑ، ﻭﻳﻠﺢ
ﻋﻠﻴﻬﻢ ﻓﻲ ﺍﻻﻛﻞ، ﻻﻥ ﺍﻟﺤﺰﻥ
ﻳﻤﻨﻌﻬﻢ ﻣﻦ ﺫﻟﻚ، ﻓﻴﻀﻌﻔﻮﻥ
ﺣﻴﻨﺌﺬ.ﻭﻗﺎﻝ ﺃﻳﻀﺎ: ﻭﻳﻜﺮﻩ
ﺍﻟﻀﻴﺎﻓﺔ ﻣﻦ ﺍﻟﻄﻌﺎﻡ ﻣﻦ ﺃﻫﻞ
ﺍﻟﻤﻴﺖ، ﻻﻧﻪ ﺷﺮﻉ ﻓﻲ ﺍﻟﺴﺮﻭﺭ،
ﻭﻫﻲ ﺑﺪﻋﺔ.ﺭﻭﻯ ﺍﻻﻣﺎﻡ ﺃﺣﻤﺪ
ﻭﺍﺑﻦ ﻣﺎﺟﻪ ﺑﺈﺳﻨﺎﺩ ﺻﺤﻴﺢ، ﻋﻦ
ﺟﺮﻳﺮ ﺑﻦ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﻠﻪ، ﻗﺎﻝ:ﻛﻨﺎ
ﻧﻌﺪ ﺍﻻﺟﺘﻤﺎﻉ ﺇﻟﻰ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﻤﻴﺖ
ﻭﺻﻨﻌﻬﻢ ﺍﻟﻄﻌﺎﻡ ﻣﻦ
.ﻩﺍ.ﺔﺣﺎﻴﻨﻟﺍ
ﻭﻓﻲ :ﺯﺍﺰﺒﻟﺍ ﻭﻳﻜﺮﻩ ﺍﺗﺨﺎﺫ
ﺍﻟﻄﻌﺎﻡ ﻓﻲ ﺍﻟﻴﻮﻡ ﺍﻻﻭﻝ
ﻭﺍﻟﺜﺎﻟﺚ ﻭﺑﻌﺪ ﺍﻻﺳﺒﻮﻉ ، ﻭﻧﻘﻞ
ﺍﻟﻄﻌﺎﻡ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﻘﺒﺮ ﻓﻲ
ﺍﻟﻤﻮﺍﺳﻢ ﺇﻟﺦ.ﻭﺗﻤﺎﻣﻪ ﻓﻴﻪ،
ﻓﻤﻦ ﺷﺎﺀ ﻓﻠﻴﺮﺍﺟﻊ.ﻭﺍﻟﻠﻪ
ﺳﺒﺤﺎﻧﻪ ﻭﺗﻌﺎﻟﻰ ﺃﻋﻠﻢ.ﻛﺘﺒﻪ
ﺧﺎﺩﻡ ﺍﻟﺸﺮﻳﻌﺔ ﻭﺍﻟﻤﻨﻬﺎﺝ: ﻋﺒﺪ
ﺍﻟﺮﺣﻤﻦ ﺑﻦ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﻠﻪ ﺳﺮﺍﺝ،
ﺍﻟﺤﻨﻔﻲ، ﻣﻔﺘﻲ ﻣﻜﺔ
ﺍﻟﻤﻜﺮﻣﺔ – ﻛﺎﻥ ﺍﻟﻠﻪ ﻟﻬﻤﺎ
ﺣﺎﻣﺪﺍ ﻣﺼﻠﻴﺎ ﻣﺴﻠﻤﺎ
Terjemahan kalimat yang
telah digaris bawahi atau
ditulis tebal di atas, di
dalam Kitab I’anatut
Thalibin :
1. Ya, apa yang dikerjakan
orang, yaitu berkumpul di
rumah keluarga mayit dan
dihidangkannya makanan
untuk itu, adalah
termasuk Bid’ah Mungkar,
yang bagi orang yang
melarangnya akan diberi
pahala.
2. Dan apa yang telah
menjadi kebiasaan, ahli
mayit membuat makanan
untuk orang-orang yang
diundang datang
padanya, adalah Bid’ah
yang dibenci.
3. Dan tidak diragukan
lagi bahwa melarang
orang-orang untuk
melakukan Bid’ah
Mungkarah itu (Haulan/
Tahlilan : red) adalah
menghidupkan Sunnah,
mematikan Bid’ah,
membuka banyak pintu
kebaikan, dan menutup
banyak pintu keburukan.
4. Dan dibenci bagi para
tamu memakan makanan
keluarga mayit, karena
telah disyari’atkan
tentang keburukannya,
dan perkara itu adalah
Bid’ah. Telah
diriwayatkan oleh Imam
Ahmad dan Ibnu Majah
dengan sanad yang
Shahih, dari Jarir ibnu
Abdullah, berkata : “Kami
menganggap
berkumpulnya manusia di
rumah keluarga mayit dan
dihidangkan makanan ,
adalah termasuk Niyahah”
5. Dan dibenci
menyelenggarakan
makanan pada hari
pertama, ketiga, dan
sesudah seminggu dst.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *