salafi wahabi shaf shalat
artikel

Shaf Salafi Wahabi dan Kekeliruan Kejar Kaki dalam Sholat

Kelirunya Salafi Wahabi saat Memaknai Sunnah Merapatkan Shaf

Fenomena shaf Salafi Wahabi dalam ajang kejar mengejar kaki dalam shaf shalat jamaah dan kekeliruan salafi wahabi memahami hadits terkait.

HENDAKNYA TIDAK BERLEBIHAN DALAM MERAPATKAN SHOF KETIKA SHOLAT BERJAMA’AH

As Syaikh Abdullah Bin Sholih Al Fauzan -hafizhohullah- di dalam kitab beliau “Minhatul ‘Allam Syarh Bulughul Marom” mengatakan :

“Adapun menempelkan kaki dengan kaki (seperti yang dilakukan oleh sebagian orang) maka perbuatan tersebut merupakan bentuk MENGGANGGU ORANG LAIN, dan di dalam nya juga terdapat :

1. Menyibukkan diri sendiri terhadap suatu perkara yang TIDAK DISYARI’ATKAN, sekaligus membuat seseorang TERLALU BANYAK BERGERAK, dan sibuk menutup celah setelah bangkit dari sujud.

2. (Juga) Membuat orang lain (teman sebelahnya) sibuk mengejar kakinya..” [Minhatul ‘Allam Fii Syarh Bulughul Marom, 3/411, cet. Daar Ibnul Jauzi – Saudi]

Lalu Bagaimana Dengan Riwayat Dari Anas Bin Malik -rhodiyallahu ‘anhu- Dan Nu’man Bin Basyir -rhodiyallahu ‘anhu, yang menjelaskan bahwa para sahabat menempelkan kaki dan pundak mereka ketika sholat berjama’ah?

1. Riwayat Anas Bin Malik -rhodiyallahu ‘anhu-:

“Dan dahulu salah seorang dari kami MENEMPELKAN pundaknya ke pundak teman sebelahnya, juga MENEMPELKAN kakinya ke kaki teman sebelahnya.”

2. Hadits Nu’man Bin Basyir -rhodiyallahu ‘anhu-:

“Maka akupun melihat seseorang MENEMPELKAN pundaknya dengan pundak temannya, lututnya ke lutut temannya, matakakinya ke matakaki temannya.”

Maka As Syaikh memberikan komentarnya:

“Riwayat tersebut sama sekali sama sekali tidak menunjukkan yg demikian, karna maksudnya (seperti yang dijelaskan oleh Al Hafizh Ibnu Hajar Al Asqolani) adalah MUBALAGHOH (hiperbola) dalam menjelaskan lurusnya shof dan tertutupnya celah. Dengan dasar, bahwa menempelkan lutut dengan lutut adalah suatu hal yang MUSTAHIL, menempelkan pundak dengan pundak seseorang adalah SIKAP YANG TERLALU MEMAKSAKAN, dan begitu juga dengan menempelkan matakaki dengan matakaki.” [Minhatul ‘Allam, 3/411]

Wallahu a’lam..

JUDUL: HENDAKNYA TIDAK BERLEBIHAN DALAM MERAPATKAN SHOF KETIKA SHOLAT BERJAMA’AH

Penulis: Ustadz Muhammad Aziz El Iman

Berikut sejumlah tanggapan warganet atas fenomena tersebut.

“Mohon maaf justru saya pribadi ketika berjamaah dg golong orang yg ke arab2an malah jadi tidak khusyu, karena kaki saya sampai terinjak ini membuat saya kadang gagal fokus, krn merasa kurang nyaman. Rapatkan shaf sewajarnya antara bahu yg satu dg yg lain bersentuhan itu sudah cukup,” ujar warganet bernama Alex Santoso di laman facebook.

“Lalu keterangan kitab fiqihnya mana? dlm riqih syafiiyyah jarak antara kedua kaki itu satu jengkal, dari mana dasar fiqihnya yg menyentuhkan kakinya dgn kaki org lain tapi jarak antara kedua kakinya terkadang dua jengkal lebih,” jelas Uci Sanusi.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *