internasional

Profesor Terkemuka London Tolak Hadiah 5 Milyar Dari Israel

sejarawan akademik London University tolak Hadiah Tel Aviv University Israel
Profesor Catherine Hall

Alam Islam, London – Seorang sejarawan akademik terkemuka asal Inggris telah menolak untuk menerima hadiah sebesar 330.000 dollar (atau setara hampir 5 milyar rupiah) yang merupakan hadiah yang diberikan oleh universitas di Israel. Ia bernama Profesor Catherine Hall yang merupakan guru besar Kampus London University. Dia telah dijadwalkan untuk menerima Hadiah Dan David yang disponsori oleh Tel Aviv University pada hari Minggu (22/5), namun ia menolak menerima karena alasan politik.

“Ini adalah pilihan politik yang independen, saya putuskan setelah mengadakan diskusi dengan orang-orang yang terlibat dalam politik Israel-Palestina, tapi saya punya pandangan yang berbeda tentang bagaimana cara terbaik untuk bertindak,” kata Hall dalam sebuah pernyataannya pada Presstv.

Penghargaan akademik tahunan tersebut juga termasuk dalam serangkaian hadiah $ 1.000.000 yang diserahkan dalam tiga bidang.

Sebagai sejarawan, Hall menolak menerima hadiah karena akan berdampak pada sejarah sosial, sejarah jenis kelamin, ras dan perbudakan.

Komite Inggris untuk Universitas Palestina menggambarkan keputusan Hall sebagai dukungan dan kampanye untuk mengakhiri hubungan negaranya dengan lembaga-lembaga di Israel.

Berita penolakan tersebut muncul di tengah ketegangan antara Tel Aviv dan London atas pernyataan beberapa tokoh politik Inggris yang telah mengutuk kejahatan rezim Israel terhadap rakyat Palestina.

Ken Livingstone, mantan walikota London, diskors dari Partai Buruh pada akhir April lalu setelah mencoba membesarkan isu kejahatan perang Israel dan menyatakan bahwa Adolf Hitler adalah seorang pendukung Zionisme.

Sebelum dia, Naz Shah, anggota Parlemen Inggris mengundurkan diri sebagai wakil ketua partai setelah dipaksa untuk meminta maaf atas perkataan dukungannya bagi Israel untuk mengungsi ke Amerika Serikat.

Seperti diketahui, pada awal Juli 2014, Israel melancarkan perang besar yang menghancurkan wilayah Jalur Gaza. Serangan 50 hari tersebut menewaskan hampir 2.200 warga Palestina, termasuk 577 anak-anak.

Pemerintah Inggris akhirnya melarang semua badan publik untuk bergabung dalam aksi Boikot, Divestasi dan Sanksi (BDS) yaitu gerakan melawan Israel yang menuntut untuk mengakhiri pendudukan Israel dan penjajahan tanah Palestina khususnya melalui konstruksi pemukiman ilegal di wilayah-wilayah yang mereka duduki.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *