artikel

Pemecatan Imam Mesjid dan Fakta Runtuhnya Pemahaman Aktifis Dakwah

Imam Mesjid Dipecat oleh partai dakwah di Indonesia fakta runtuhnya pemahaman
ilustrasi

Alam Islam – Dalam Islam, imam mesjid adalah salah satu profesi yang sangat mulia. Dalam sebuah mesjid, ia memimpin semua orang dibelakangnya dengan berbagai strata yang berbeda. Karena itu seorang imam haruslah mempunyai bacaan dan pemahaman Islam yang kuat dan bisa dipertanggungjawabkan. Beberapa syarat untuk menjadi seorang imam shalat yang layak berdasarkan Al-Quran Sunnah adalah muslim, akil, baligh, laki-laki, mampu membaca Al-Quran dengan fasih, selamat dari Uzur dan mampu melaksanakan rukun-rukun shalat dengan sempurna.

Namun ironinya, sejumlah oknum aktifis dakwah mulai menambah syarat yang tak masuk akal seperti harus satu organisasi, sekelompok, separtai dan seharakah. Sehingga terjadilah sebuah noktah hitam dalam sejarah dakwah Islam yaitu pemecatan imam mesjid oleh kader partai dakwah yang seyogyanya tidak harus terjadi. Kebencian jelas akan memusnahkan akal sehat, sehingga begitu mudahnya seorang yang dianggap mempunyai pemahaman Islam yang baik malah memecat imam yang tak punya kesalahan lain kecuali bergabung dengan organisasi baru yang malah tidak bertentangan dengan Islam dan negara.

Mungkin inilah mengapa ummat susah sekali bersatu, padahal Allah hanya menetapkan satu syarat untuk terjalinnya ikatan ukhuwah yaitu iman, hanya iman. Sayangnya perintah ini diabaikan oleh sejumlah oknum yang mempunyai kepentingan dan kebencian kepada suatu organisasi sehingga menjadikan pemecatan tersebut adalah hal kecil yang tak perlu diributkan. Malah dianggap hoax yang bertujuan untuk meruntuhkan partai dakwah tersebut.

Sang imam akan menjalani takdirnya sendiri, dan pelaku pemecatan akan bersiul gembira bahwa masalah tersebut dianggap bukan masalah besar sehingga terlalu berlebihan bila dibawa ke ranah hukum. Namun yang perlu dicamkan, hal tersebut adalah salah satu proses membelokkan idealisme dakwah Islam yang lurus menuju faham takfiri yang bisa berujung seperti organisasi teroris yang mengaku membawa nama Islam. Dakwah seharusnya bernada lembut dan penuh silaturrahim, bukan ancam pecat, sikat dan babat.

Pemecatan imam mesjid tersebut merupakan tanda idealisme partai dakwah yang telah bergeser dari faham menghargai perbedaan kepada faham takfiri yang dengan mudah membuat garis tahzir kepada yang berlainan organisasi. Jelas ini adalah kemunduran yang semakin membuat partai dakwah tersebut mundur puluhan tahun ke belakang di masa masih sangat kaku dalam memahami sebuah khilafiyah.

Tentu saja, gaya tersebut tidak akan laku lagi di era dakwah milenial. Semua harus terbuka dengan semua perbedaan, sejauh itu perbedaan yang masih bisa ditolerir. Bila tidak memperbaiki diri, bisa jadi partai dakwah tersebut akan ditinggalkan dan tenggelam di dasar samudra kejumudan.

Sudah seharunya rasa cinta dalam berdakwah itu harus disemai, agar faham takfiri tidak menemukan tempatnya.

Anis Matta pernah menuturkan tentang ikatan cinta yang lahir dari ikatan iman: “Sebab ketika Allah mempersaudarakan orang-orang beriman, ia hanya ingin mengatakan bahwa komunitas sosial kita harus diikat dengan cinta yang lahir dari iman. Hanya dengan begitu kita bisa menentukan kekuatan perekat abadi, tembus masa dan ruang, dan bebas dari berbagai perubahan situasi. Disaat persatuan bangsa dipertaruhkan di tengah badai alam atau politik atau ekonomi atau sosial atau keamanan, cinta adalah satu-satunya jawaban.”

Dengan hadirnya aksi pemecatan imam dan aktifis dakwah cukup menjadi bukti bahwa cinta itu sudah sirna. Ia telah berubah karena kepentingan yang jelas takkan berujung ketenangan.

Selain pemecatan, munculnya tahzir ekonomi atau larangan bermuamalah secara bisnis adalah suatu tanda keruntuhan akhlak mulia yang pernah dicontohkan oleh Rasulullah saw dimana seorang dai boleh bermuamalah dengan siapapun tanpa harus membedakan agama dan rasnya, apalagi organisasinya.

Selain itu, sejumlah tindakan pemangkasan materi dakwah adalah hal tercela yang tak patut terjadi. Ketika materi dakwah hanya taat dan tsiqah, maka aktifis dakwah hanya akan menjadi mobil remote tanpa injeksi nilai al-fahmu (pemahaman). Mereka tak ubahnya presiden boneka, hanya beda baju saja.

Tak bisa dipungkiri, pemecatan imam mesjid tersebut juga karena adanya tim rahasia yang bekerja untuk mengutak ngatik kader dakwah seenak hatinya. Karena nilai ekstrimisme tersebut mustahil dimasukkan oleh satu orang, disitulah tim rahasia tersebut bermain dan menyumbat arteri dakwah, sehingga stroke dan akan berujung kematian.

Terkait perbedaan yang berujung kebencian tersebut, mari dengarkan salah satu pendapat Imam Hasan Al Banna: “Ketahuilah, semoga Allah memberikan pemahaman kepada anda, pertama, bahwa dakwah al- Ikhwan al- Muslimun dakwah umum tidak berasosiasi pada golongan tertentu, dan tidak berafiliasi pada pendapat yang terkenal oleh publik dengan warna yang khas, keharusan dan dan komitmen spesifik, ia mengarah pada inti agama. Kami menginginkan seluruh sisi pandang dan keinginan kuat menyatu sehingga aktivitas lebih efektif dan produknya lebih lebih  besar.Dengan demikian dakwah Ikhwan merupakan dakwah yang putih dan jernih, tidak diwarnai dengan warna tertentu, ia bersama kebenaran dimana ia berada, cinta kebersamaan, tidak suka nyeleneh (lain dari yang lain), dan bahwa sesuatu  paling besar  yang  mematikan kaum muslimin adalah perpecahan dan perbedaan, dan dasar kemenangan mereka adalah cinta dan persatuan.Tidak akan baik generasi akhir ummat ini kecuali dengan apa yang membuat baik generasi pertama. Inilah kaidah dasar dan tujuan yang sudah diketahui oleh setiap muslim, dan merupakan aqidah kami yang menancap dalam jiwa kami, dan menjadi sumber rujukan kami serta  kami berdakwah kepadanya”.

Dengan begitu, para oknum rahasia yang telah memecah belah aktifis dakwah tersebut jelas telah mengingkari perkataan Imam Hasan Al-Banna diatas. Seharusnya partai dakwah haruslah menjauhi perbedaan dan perpecahan, bukan malah membiarkan dan menikmatinya walaupun ia diuntungkan dengan kondisi tersebut. Bila pemecatan dan pemangkasan materi dakwah tersebut terus berlanjut, maka partai dakwah tersebut akan hanya akan tercatat dalam sejarah sebagai sebuah kegagalan yang akan terus disesali di dalam lingkaran-lingkaran mingguan. Sekian.

Penulis: Mirza Husni,S.Pd.I (pemerhati dakwah dan dunia Islam)
Sumber: www.alamislam.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *