kisah

Para Pahlawan Kemanusiaan Tanpa Pencitraan (Kisah Nyata Relawan Pengungsi Rohingya Di Aceh)

Alam Islam, Aceh – “Belum ada kabar sampai saat ini.. entah siapa yang bertanggung jawab atas kehilangannya, pihak kepolisian menegaskan mereka tidak tahu menahu.”

semua orang yang duduk di dalam ruang ini terdiam, gundah dan susah jelas tergambar di raut wajah mereka. berita buruk ini datang menguncang seluruh keluarga besar mahasiswa Unsyiah. Dari tingkatan relawan hingga tingkatan para ketua bidang BEM Unsyiah. Kehilangan adalah hal buruk yang datang tanpa pemberitahuan. dan kehilangan sosok jiwa baik, berani, bertanggung jawab serta penuh kepedulian adalah hal paling buruk yang terjadi ketika konflik bersenjata melanda aceh.

Sungguh langka menemukan sosok-sosok baik ketika banyak jiwa memilih menjadi bungkam, apatis, mementingkan diri sendiri karena rasa pengecut didalam diri. dan ketika kabar buruk datang akan sosok baik yang hilang diantara amuk konflik, yakni saat mengantarkan bantuan kepada pengungsi yang sejatinya adalah saudara sekampungnya sendiri. kita tidak dapat berbuat banyak dalam menolongnya. kecuali berdoa dan melakukan advokasi kepada pihak aparat keamanan.

Tersebutlah Sayuti Nur, nama yang hilang diantara amukan konflik.  Saya mengenalkan dua minggu sebelum kepergiannya untuk selamanya. sosok ideal dengan tinggi 170 cm, berambut pendek, berkulit gelap, bercita-cita menjadi guru, wajahnya tampan khas suku Aceh. Beliau melanjutkan studi di FKIP Unsyiah.

ketika sampai berita bahwa di kampungnya telah tejadi eksodus besar-besaran akibat bentrokan paska konflik antara aparat dan GAM, beliau bertekad kembali untuk pulang demi mengantarkan bantuan yang kita kumpulkan semampunya.

“Saya membayangkan mereka tidur di bawah tenda apa adanya dengan ketakutan bahkan tanpa pakaian yang layak, mereka semua saudara saya. bila bukan kita yang membantu siapa lagi? saat ini datang atas nama lembaga mahasiswa adalah satu-satunya cara teraman sampai ke lokasi pengungsian. hanya lembaga mahasiswa yang dianggap paling netral dari kedua belah pihak.” ucapnya.

saya yang kebetulan berada di kantor BEM Unsyiah saat itu  masih ingat percakapan antara Sayuti nur dengan beberapa pengurus utama Badan Eksekutif Mahasiswa.

“Tapi resikonya besar sekali Sayuti. kita tidak bisa menjamin apapun. yang bisa kita bantu adalah meminta surat rekomendasi dari pihak kepolisian dan pihak TNI bahwa benar anda adalah perwakilan dari kami.”

“Itu saja sudah cukup.” ucapnya mantap.

Berangkatlah Sayuti Nur kembali ke kampung Halaman dalam huru hara konflik yang demi Allah kami saat itu tidak pernah tahu apakah hal tersebut akan mereda atau tidak. keyakinan kami bahwa perang akan berakhir sama seperti keyakinan kami akan hujan yang pasti mereda. namun langit tetap gelap bertahun-tahun, hujan air mata dan peluru deras terus saja jatuh, teriakan panik, histeris bahkan mencaci maki seolah menjadi kebiasaan hidup bagi orang yang hidup didalam konflik.

Dan Sayuti Nur benar-benar sosok pemuda pemberani yang menerobos hujan kebencian dan peluru demi menolong orang-orang yang dicintai. dia pulang ke kampung demi menemui saudaranya,  Hanya saja Allah berkehendak lain, perjalanan dia kali ini bukanlah perjalanan menuju kampungnya di dunia, namun kepulangannya menuju kampung akhirat untuk tidak kembali lagi ke dunia selamanya.

Sayuti Nur menghilang sejak tahun 2000 hingga kini, tahun 2015.

15 tahun saya mengenang sosok pemberani muda perkasa layak dianya. dialah salah satu ikon yang terus membarakan sifat kerelawanan dalam hidup saya.

Masih lekat dalam ingatan bagaimana ketika berita buruk itu datang, kami, sekumpulan muda belia berumur antara 19 tahun hingga 23 tahun memberanikan diri menghadap Kapolda dibawah pengawalan ketat demi menuntut pertanggung jawabannya. tidak hanya sampai disitu, kami pula menemui pihak TNI demi memastikan tidak ada salah tangkap dari para personil mereka. bahkan gubernur yang sedang melakukan halal bi halal di kediamannya kami datangi dan memastikan mereka bertanggung jawab dengan kehilangan relawan asal mahasiswa tersebut.

Sayuti Nur tetaplah hilang dan tidak ada yang tahu kemana kabarnya di dunia, namun seperjalanan hidup saya, sosok-sosok seideal Sayuti Nur terus saja muncul dan berlintasan sejarah dengan saya. termasuk didalam penampungan muslim Rohingya di Kuala Cangkoi Aceh Utara.

Salah satunya sebut saja namanya Iswadi, Lengkapnya saya tidak menanyakannya. dia masih muda, kuliah di Universitas Malikussaleh. tidak ada yang istimewa darinya bila kita tinjau dari rupa dan penampilan. bicaranya juga tidak menampakkan intelektualitas seorang aktivis mahasiswa kelas atas. namun dibalik kesemua hal biasanya itu dia memiliki sesuatu hal yang luar biasa istimewa. yakni ketulusan dari seorang relawan.

Iswadi adalah sosok yang bila bicara kadang kala menimbulkan kesan tegas dan kaku bagi orang-orang yang baru mengenalnya. namun yang mengherankan entah mengapa begitu banyak anak-anak Rohingya malah bermain di sekelilingnya. bahkan sering mereka menjadikannya sebagai ‘tempat tidur’ ketika mereka telah lelah.

Dua minggu saya sudah saya memperhatikan sosok istimewa ini, kenapa dan mengapa pada sosok asing berwajah tidak setampan Dude Harlino, bersuara lembut selayak Teuku Wisnu itu malah para jiwa polos ini dapat tidur dengan nyenyaknya? bermain dengan riangnya? Bercanda seolah dialah anggota keluarga yang dikenal sejak kecil.

Kenapa pula pada sosok-sosok tampan rupawan, cantik jelita, datang kepenampungan menaiki mobil CRV atau setidaknya mobil berharga 200 juta yang membawa banyak bantuan, makanan, dan senyuman malah mereka tidak dihiraukan sama sekali oleh para anak-anak tersebut?

Jawabannya kemungkinan karena kami ( ya termasuk saya didalamnya ) hanya memberikan perhatian secuil dari waktu yang kita punya. kami datang di waktu senggang, lalu hilang dan kembali pulang serta larut didalam aktivitas masing-masing. kami datang dan duduk paling lama enam jam, mengambil foto dan mengunggahnya di media sosial demi penampakan wujud solidaritas kepada para muslim Rohingya, namun Iswadi dan sahabat relawan yang berbeda dengan kita. mereka menghabiskan waktu hampir seharian di lokasi penampungan walau tanpa pemberitaan apalagi pencitraan semata.

Saya memperhatikan sendiri bagaimana sosok-sosok seperti Iswadi dan sahabat relawan lain yang kemudian berjibaku mengejar dan memandikan mereka, anak-anak pengungsi yang memang belum memiliki kebiasaan mandi sehari dua kali dan memakai sabun. bahkan hingga bagian mengurusi kotoran mereka pun mereka sigap dalam melakukannya.

Saya memperhatikan sendiri bagaimana dengan bahasa yang tidak dimengerti sama sekali, para relawanlah yang mengajari anak-anak Rohingya cara bersabun, bersampo, memakai pakai dalaman walau diluarnya telah dipakaikan terusan bawah yang panjang.

Saya melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana sabar mereka diguncang tubuhnya ketika lelah demi diajak becanda, di ganggu waktu istirahat makannya, di paksa untuk bangun dengan tubuh mereka dijadikan tempat gayutan.

Saya juga melihat bagaimana ketika salah seorang dari mereka menangis, para relawan ini dengan sigap berdiri dan membawa mereka kedalam tenda serta menghiburnya walau bahasa yang mereka gunakan nyaris tidak dimengerti oleh anak-anak tersebut.

Bagi kita boleh jadi Iswadi dan kawan-kawan adalah sekadar relawan. namun bagi para anak-anak rohingya merekalah sosok ayah dan ibunda mereka yang mereka temukan dibelahan dunia lainnya.

Sosok Iswadi tentunya bukan satu-satunya sosok istimewa di lokasi penampungan muslim Rohingya. ada banyak nama lain yang mungkin bila saya menuliskan satu persatu, maka note ini akan menjadi panjang sekali. namun biarlah satu ungkapkan satu hal untuk menjelaskan semuanya dengan mudah. Iswadi hanyalah satu bagian dari puluhan bagian istimewa lainnya dalam kumpulan relawan ACT Aceh Utara yang saya kenal.  Saya percaya, diluar ACT pun, baik di PMI, RAPI, Adik-adik BEM UNIMAL dan STAIN, terdapat sosok-sosok seistimewa Iswadi dan rekan-rekannya.

Bagi saya, merekalah tangan-tangan yang mewakili kita para dermawan yang shalih/at dalam mengurusi saudara jauh kita dari Rohingya. kita mungkin memiliki kelebihan harta, namun mereka memiliki kekayaan jiwa serta kebaikan akhlak pula.

Kita bisa membantu para pengungsi dengan makanan dan pangan, para relawan menolong mereka agar dapat tersenyum dan kembali ceria setelah tercukupi makanan dan pangannya.

Kita boleh jadi teristimewakan karena bantuan harta kita, sedangkan mereka para relawan teristimewakan karena bantuan tenaga dan waktunya.

Maka di bagian akhir dari catatan ini saya ingin mengucapkan ribuan terimakasih kepada para relawan yang telah bersedia mewakafkan waktunya kepada para pengungsi hingga kewajiban fardhu kifayah kita dalam merawat para pengungsi menjadi terpenuhi karena mereka.

Terimakasih untukmu wahai Sayuti nur, Iswadi, Dan ribuan relawan muslim di seluruh dunia. karena anda ada, kebaikan itu menjadi nyata.

Penulis: Rahmat Idris

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *