artikel

Obat Narkotik, Haram? (Wajib Dibaca Oleh Orangtua)


Seorang anak panas tinggi
dirumahnya dan tiba-tiba badannya
kejang. Lalu ada tetangganya yang
menasehati.
“Bawalah segera anakmu itu
kerumah sakit. Biar dapat
pengobatan!”
“Tidak! Cukuplah kami bertawakal
saja disini sembari kami obati
dengan ramuan yang tak berbahan
kimia.”
“Tapi anakmu kejang terus. Bahaya
kalau tak segera di obati.”
“Cukup kami bertawakal saja disini
dari pada ke rumah sakit. Dirumah
sakit banyak obat-obat yang dari
babi, narkotika dan dari bahan-
bahan yang tak jelas. Haram! Haram!
Haram!”
Setelah ditunggu sekian lama panas
anak tak juga turun dan kejang pun
bertambah sering. Sang ibu
bertambah panik.
Kemudian ada seorang ibu yang
sudah sepuh tetangga mereka dan
mereka hormati berkunjung. Melihat
si anak yang terbaring sakit laku ia
menasehatkan,
“Bawalah anakmu kerumah sakit
untuk segera di obati.”
“Tidak ummi, kami cukupkan dengan
bertawakal kepada Allah saja.”
“Anakku, ingat tidak bahwa suatu
kali Rasulullah saw pergi ke Tha’if,
beliau tidak bisa masuk Mekkah,
maka beliau mengutus seseorang
untuk menemui al Muth’im bin Adi
dengan mengatakan, “Aku masuk
Makkah dalam jaminan
perlindunganmu.” Padahal bisa saja
beliau masuk Makkah dengan hanya
bertawakal saja kepada Allah, tanpa
meminta bantuan manusia
manapun…”
“…Anakku, pengobatan dengan
bahan alami boleh-boleh saja kau
gunakan dan kau bertawakal hanya
dengan itu. Kau anti dengan
pengobatan medis sebab katamu
banyak bahan kimia dan bahan
haram di sana. Tapi bila itu belum
cukup juga maka tak mengapa kau
meminta bantuan pada yang lain.
Bawalah anakmu ke Rumah Sakit.
Seperti Rasulullah yang juga
meminta bantuan pada yang lain
walau sebenarnya beliau bisa saja
mencukupkan dengan tawakal.”
Karena melihat si anak yang tak juga
reda panasnya dan kejangnya
semakin sering maka dibawalah si
anak dengan berat hati ke Rumah
Sakit. Sesampainya di UGD si anak
langsung diperiksa.
Dipasang infus ditangan kiri. Lalu
dokter memberi beberapa
penjelasan.
“Bu, nanti kalau anak ibu kejang lagi
segera lapor ya bu.” Begitu instruksi
dokter yang marawat.
Tak lama si anak ternyata kejang
lagi. Si ibu dengan gopoh
melaporkan keadaan anaknya.
“Dokter…dokter anak saya kejang!”
Dengan sigap beberapa petugas
segera menghampiri si anak dengan
membawa troli dorong berisi obat-
obat emergensi. Si anak siap di
suntik obat anti kejang.
“Ibu, putra ibu akan kami suntik
diazepam dan Na Phenitoin pelan-
pelan agar kejangnya berhenti.”
“Jangan!”
“Kenapa bu?”
“Obat itu mengandung narkotik.
Saya tidak mau anak saya dimasuki
barang haram!”
“Tapi anak ibu dalam keadaan
darurat dan kejangnya harus
dihentikan.”
“Jangan. Obat itu haram! Haram!”
Tak berapa lama kemudian kejang
berhenti.
Sesaat kemudian ibu dan bapak
anak dipanggil ke ruangan khusus
untuk diberi penjelasan.
“Bapak, ibu. Saya lihat tadi saat
anaknya kejang dilarang disuntik
anti kejang. Kira-kira kenapa?.”
“Iya dokter. Karena obat diazepam
itu mengandung narkotik. Jadi
haram! Apalagi diberikan pada buah
anak tercinta kami.”
“Baiklah. Begini bapak ibu, jika
seseorang dalam keadaan kejang
maka telah terjadi sesuatu pada si
anak terutama pada otak. Termasuk
berhentinya sementara aliran darah
dalam otak. Jika otak dalam waktu
lama tidak teraliri darah maka yang
terjadi adalah otak kekurangan
oksigen. Bila keadaan ini terus
berlanjut ada resiko yang harus
diambil yaitu kematian sebagian
jaringan otak.”
“Kalau sudah begitu apa yang akan
terjadi dokter?”
“Yang akan terjadi adalah kerusakan
yang bisa saja permanen. Misalnya
tangan kaki lumpuh, mental
retaldasi atau kehilangan beberapa
fungsi tubuh lainnya. Jadi kejang
merupakan keadaan emergensi yang
harus segera di atasi. Dengan obat-
obat anti kejang.”
“Tapi obat-obat itu kan mengandung
narkotik, dokter. Apakah tidak ada
obat penenang lainnya yang tidak
mengandung narkotik?”
“Ibu bapak. Obat penenang sampai
saat ini yang ada masih
mengandung narkotik. Belum ada
penggantinya. Semoga saja kedepan
umat Islam menemukan pengganti
selain dari narkotik…”
” Bapak ibu. In syaa Allah tak
mengapa obat-obat jenis narkotik ini
dipakai dalam keadaan darurat. Dan
dipakainya pun secukupnya serta
sesuai indikasi, tidak disalah
gunakan…”
“…Kadang beberapa jenis obat-
obatan yang termasuk dalam napza
atau narkoba dibutuhkan bagi orang
sakit untuk mengobati luka atau
untuk meredam rasa sakit juga
termasuk menghentikan kejang. Ini
adalah keadaan darurat. Dan dalam
keadaan tersebut masih dibolehkan
mengingat kaedah yang sering
dikemukakan oleh para ulama,
ﺍﻟﻀﺮﻭﺭﺓ ﺗﺒﻴﺢ ﺍﻟﻤﺤﻈﻮﺭﺍﺕ
“Keadaan darurat membolehkan
sesuatu yang terlarang”
Imam Nawawi rahimahullah berkata,
“Seandainya dibutuhkan untuk
mengkonsumsi sebagian narkoba
untuk meredam rasa sakit ketika
mengamputasi tangan, maka ada
dua pendapat di kalangan Syafi’iyah.
Yang tepat adalah dibolehkan.
Bagaimana bapak-ibu?”
“Baiklah dokter kami sudah paham
dan tak mengapa bila anak kami
kalau diberikan obat ibu bila
dibutuhkan nantinya.”
***
Tulisan ini lahir dari rasa miris
dihati saat beberapa teman
menyebar beberapa beberapa obat
yang haram dipakai karena
mengandung narkoti. Sedang obat-
obat itu belum ada penggantinya.
Seperti obat bius saat operasi,
beberapa obat relaksan, beberapa
obat anti nyeri dan obat-obat anti
anti kejang. Sedang obat-obat ini
rata-rata obat emergensi.
Penggunaannya pun terbatas. Bukan
obat bebas.
Setelah kemaren saya cari-cari
refrensi ternyata beberapa ulama tak
mengapa menggunakan obat-obat
itu bila dalam keadaan darurat.

penulis: Bintang Polaris

Tinggalkan Balasan