kisah

Mufakat Jahat

Mufakat jahat untuk menjatuhkan tokoh se rumah dalam sebuah jamaah dakwah.
ilustrasi

Alam Islam – Nabi ternyata juga sulit adil. Adil itu rumit. Tak salah, sejak kecil Yusuf ditinggal ibu, kasih sayang penuh berpidah ke ayah. Namun rumah yang didirikan dengan kebaikan itu tak sepi dari hasad dengki. Kumpulan penilaian sepihak oleh sebelas bintang, matahari dan bulan telah sah jatuh pada Yakub ayah mereka sendiri.

(إِذْ قَالُوا لَيُوسُفُ وَأَخُوهُ أَحَبُّ إِلَىٰ أَبِينَا مِنَّا وَنَحْنُ عُصْبَةٌ إِنَّ أَبَانَا لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ)

Ketika mereka berkata, “Sesungguhnya Yusuf dan saudaranya (Bunyamin) lebih dicintai ayah daripada kita, padahal kita adalah satu golongan (yang kuat). Sungguh, ayah kita dalam kekeliruan yang nyata. (Q.S. Yusuf : 8).

Dr. Fuad Al- Aris membenarkan dalam bukunya Pelajaran Hidup Surat Yusuf ; “Sikap manusia terbentuk dari beberapa tahapan pembentukan. Awalnya melihat dan mencermati dari apa yang tampak diujung mata. Disimpan dalam ingatan dijadikan bukti, berikutnya pengawasan penuh dilancarkan agar mencapai tujuan akhir berupa kesimpulan mendatang keyakinan.”

Kesimpulan sepihak dijadikan landasan keyakinan. Api cemburu nyata gelapkan hati mereka, dengki dibalut hasad menjelma. Merasa diri hebat dengan adanya sokongan musuh manusia (syaithan) lewat hembusan bisikan durjana. Ibarat diatas angin, sebelas saudara Yusuf se-ayah lagi se-rumah adakan mufakat.

Mufakat jahat dilangsungkan, atas dasar kesimpulan menyakinkan sepihak. Objek yang akan disingkirkan terang benderang, tidak jauh lagi tak berdaya. Otak diputar agar muslihat berjaya. Mufakat jahat alot berlangsung supaya tiada celah dan cela. Kecemburuan hanya pada Yusuf bukan ayahnya. Cela tak boleh terlihat oleh orang yang mereka cintai lagi segani.

Dialog pun mengalir, api benci membakar sanubari salah seorang peserta musyawarah. Bunuh saja Yusuf! Kalau tidak buang jauh! Sungguh tipu daya syaithan telah meraja. Usul itu mencerminkan kekerdilan dan ketakutan diri seseorang yang menasbihkan dirinya disebut عصبة (kuat lagi kokoh).

(اقْتُلُوا يُوسُفَ أَوِ اطْرَحُوهُ أَرْضًا يَخْلُ لَكُمْ وَجْهُ أَبِيكُمْ وَتَكُونُوا مِنْ بَعْدِهِ قَوْمًا صَالِحِينَ)

Bunuhlah Yusuf atau buanglah dia ke suatu tempat agar perhatian ayah tertumpah kepadamu, dan setelah itu kamu menjadi orang yang baik.” (Q.S. Yusuf : 9).

Mufakat busuk terus berlanjut. Salah seorang dari mereka mengingat jati diri dan misi mufakat dengan kalimat persuasif. “Jangan bunuh Yusuf! Tapi masukkan saja ia ke dasar sumur agar dipungut oleh siapa saja musafir lewat, jika kalian hendak melakukannya.”

(قَالَ قَائِلٌ مِنْهُمْ لَا تَقْتُلُوا يُوسُفَ وَأَلْقُوهُ فِي غَيَابَتِ الْجُبِّ يَلْتَقِطْهُ بَعْضُ السَّيَّارَةِ إِنْ كُنْتُمْ فَاعِلِينَ)
Seorang di antara mereka berkata, “Janganlah kamu membunuh Yusuf, tetapi masukan saja dia ke dasar sumur agar dia dipungut oleh sebagian musafir, jika kamu hendak berbuat.” (Q.S. Yusuf : 10).

Mufakat jahat berlanjut terus berlanjut karena hati tak kunjung diobati. Cemburu sampai diubun – ubin dibalut hasad menggelora sebelas saudara se- ayah lagi se-rumah. Dosa hasad dirasa sepele, sepakat jahat mudah dilakukan. Sebab dialog mereka batasi sesama penghasad, ajakan berpikir tak dihirau. Sepakat mufakat jahat tetap dijatuhkan atas saudara se-ayah lagi se-rumah.

Samadua, 24 Februari 2019
Roni Haldi

Tinggalkan Balasan