nasional

Muallaf Ini Jadi Pemain Terbaik di Liga Santri

muallaf pemain bola terbaik di liga santri

Alam Islam, Jakarta – Tim ponpes asal Jember, Pondok Pesantren Nurul Islam (Nuris) berhasil memenangkan Liga Santri Nusantara (LSN) edisi perdana di Stadion Gelora Delta Sidoarjo, pada Minggu (6/12) lalu. Tim mereka mengalahkan tim ponpes Banten, Al Asyariah, lewat adu penalti dengan skor 7-6 yang sangat menegangkan.

Yang cukup menjadi perbincangan sepanjang turnamen berlangsung adalah Richard Rahmad, pemain Nuris yang dinobatkan menjadi pemain terbaik LSN. Sang gelandang mendapatkan predikat tersebut setelah tampil konsisten, menciptakan banyak assist, dan menjadi ruh permainan Nuris.

Ia sering dibicarakan karena ia seorang mualaf. Kisah hidupnya pun dituturkan oleh pelatih Nuris yang juga sang ayah, Sutikno, yang sampai saat ini masih beragama non Muslim. Ia menuturkan, Sejak kecil, Richard beragama kristen mengikuti keyakinannya. Sekolahnya pun di SD kristen.

Ketika memasuki SMP, Richard disekolahkan di SMP katholik di Jember. Sedangkan saat SMA ia disekolahkan di sekolah katolik. “Jadi mulai kecil terbiasa di sekolah yang tidak harus sama agamanya,” kata Sutikno, dalam seperti dilansir Republika, Ahad (13/12)

Ia baru menjadi mualaf Juli 2015 lalu, dan sebenarnya ingin menjadi mualaf sejak 2013 lalu. Namun, Sutikno meminta sang anak tak terburu-buru. Ketika itu dia khawatir anaknya hanya terpengaruh saja sehingga ingin pindah agama. Tapi ternyata, setelah masuk SMA dia kemudian memantapkan hati untuk menjadi mualaf.

Dikarenakan menganggap anak sudah dewasa, dia tidak mau menghalangi kepercayaan anaknya. Juli lalu, Richard sudah menjadi muslim. Secara legal, pada Agustus lalu perubahan agamanya diakui negara.

Ayahnya bahkan diminta menandatangani surat tidak keberatan anaknya berpindah agama. Dia kaget kenapa permasalahan anaknya yang dianggap non muslim ikut Liga Santri mengemuka setelah event selesai. Jika memang bermasalah, maka seharusnya sejak verifikasi anaknya tidak bisa lagi ikut Liga Santri.

“Tapi anak saya lolos verifikasi. Tidak ada yang salah dengan dia. Kalau pun dia non muslim, apakah salah dia bermain sepak bola dan mengikuti Liga Santri. Toh, di regulasi juga dijelaskan soal itu,” katanya.

Ayahnya menyebutkan, dari kecil ia memang getol berlatih sepak bola. Dia pernah mendapatkan beasiswa SSI Arsenal di Surabaya pada 2012 lalu selama setahun. Tapi karena jarak yang jauh dari Jember ke Surabaya, Richard pun kembali ke SSB Niagara dan berlatih pula dengan SSB Nuris.

Saat berlatih sepak bola dan sekolah di SMA katholik St Paulus Jember Richard juga nyantri di Ponpes Nuris. Dia mengaji setiap Senin, Kamis, dan Sabtu. “Jangan toleransi hilang gara-gara ada masalah suka dan tidak suka. Sepak bola itu kan menolak rasisme,” kata Sutikno.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *