opini

Merdeka dari Mentalitas Perbudakan Pemadam Daya Kritis

Mentalitas perbudakan memadamkan daya kritis dalam berpikir hingga ia tidak mampu menentukan pilihan.
ilustrasi merdeka

Alam Islam – Burung yang lahir dalam sangkar, tentu akan meyakini bahwa terbang bebas sangat dilarang. Manusia yang berada di ruang-ruang sempit, akan menganggap, terik matahari itu membahayakan.

Menentukan pilihan jalan, memperjuangkannya, berani mengeksplorasi potensi, lalu teguh secara spartan dan siap sedia akan setiap tantangan dan rintangan, maka ia tengah meniti jalan kemerdekaan.

Dulu perbudakan selalu mempersempit ruang ekspresi dan ekplorasi potensi siapapun yang ada dalam cengkeramannya. Tuntutan hanya satu: turut dan laksanakan apa yang diperintahkan.

Model manusia yang betah berada di arena perbudakan, adalah korban dari realita dan kondisi yang di sekitarnya. Terbentuklah mentalitas hobi membully tanpa bisa berhenti.

Kendati strata pendidikan rampung hingga doktoral, mentalitas perbudakan memadamkan daya kritis dalam berpikir hingga ia tidak mampu menentukan pilihan, padahal potensi pemikiran dan ilmiah lengkap.

Berawal dari pemikiran yang tunduk pada hal-hal yang di luar nalar, berdampak pada tindakan dan aksi perbudakan di tataran jasad, perbuatan, hingga kebijakan.

“Sejak kapan perbudakan atas manusia terjadi, padahal manusia lahir dalam keadaan merdeka? Mengapa manusia cenderung ketakutan untuk sekedar menyatakan dirinya merdeka?”

Kemerdekaan hakiki berasal dari kegelisahan, lalu bergerak untuk mengembalikan kekuatan ruh dan menemukan potensi terbaik dalam diri. Kita paling bertanggungjawab atas diri kita, bukan orang lain.

Adapun kebersamaan itu bagian dari penyempurnaan ikhtiar, bukan terminal akhir perjalanan. Saat anda berada di satu organisasi, ketahuilah, itu bukan destinasi terakhir tapi justru awal kebangkitan.

Masalahnya adalah, jika kebersamaan malah memudarkan nalar dan meruntuhkan nilai-nilai. Di sini kita harus memilih, berada dalam kebersamaan yang membutakan atau membangun kebersamaan baru berbasis bashirah.

Anda merdeka, sebagaimana saya merdeka. Tidak ada paksaan memilih agama, apalagi sekedar memilih partai politik, ormas, atau pergerakan. Toch sebagai manusia merdeka, hisab Allah pada diri kita bukan?

Judul: Merdeka
Penulis: Nandang Burhanudin
Ketum Gerakan Arah Baru Indonesia (GARBI) JABAR

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *