sejarah

Mengapa Kyai Aswaja NU Takut Kepada Wahabi?


Alam Islam – Perlu ditegaskan,makna aswaja dalam term kaum tradisionalis bukanlah satu pengamalan beragama yang meneladani Rasulullah SAW dan para sahabatnya dalam akidah maupun ibadah sebagaimana definisi Ahlus Sunnah wal Jama’ah sebenarnya, melainkan satu model baru keislaman yang memadukan berbagai unsur semisal mazhab ilmu kalam Asya’irah, tasawuf, dan ritual-ritual amaliah yang berasal dari warisan kultur.

Maka tak heran, berkembangnya dakwah salafi dari Aceh hingga Papua mendatangkan kegelisahan dari kalangantokoh aswaja NUyang selama ini terlanjur menikmati kedudukan begitu tinggi di tengah-tengah masyarakat ‘santri’.Sikap pobia akutkalangan NU terhadap salafi-wahabi sejatinya sudah tergambarjelas dalam lembaran sejarah seputar berdirinya ormas tersebut. Sebagaimana diketahui,NUbermula dari satu tim panitia “Komite merembuk Hijaz” yang didirikan guna merespon peperangan Wahabi di Saudi Arabia yang berakhir dengan terusirnya Syarif Husein dari Makkah pada 1924.Kemenangan Abdul Aziz Al-Saudyang disebut berhaluanWahabiatasSyarif Husein yang berpaham sufimerupakan pukulan telak bagi kalangan tradisionalis di manapun termasuk di wilayah Hindia-Belanda. Sebab, dengan jatuhnya Makkah ketangan Wahabi, sama artinya dengan hilangnya kemerdekaan bagikaum sufi-tradisionalisuntuk menjalankan praktek amalan-amalan khas quburiyun di tanah suci.

Pada saat bersamaan, di seantero Nusantara juga tengah berkembang dakwah pembaharuan yang dimotori olehMuhammadiyah, Al-Irsyad,dan Persisdengan inti dakwahnya memberantastakhayul, bid’ah, dan khurafat(TBC) serta memerangi sikap taklid buta terhadap kyai.Fakta semakin gencarnya dakwah pembaharuan Islam di tanah air, dan kembali berkuasanyakaum Wahabidi tanah suciitulah yang mendorong inisiatif para tokoh Islam tradisionalis untuk mendirikan satu wadah bersama guna melestarikan corak keberagamaan mereka. Tak cukup dengan berserikat, parapendiri ormas NUjuga merasa perlu untuk merumuskan “bagaimana Islam yang benar versi mereka” hingga lahirlahistilah Aswajauntuk membungkus hakikat keberagamaan warga nahdliyin yang sarat akulturasi dengan budaya pra-Islam. Dan buat melegitimasi sikap pengultusan terhadap kyaiyang memang sudah umum berlaku dikalangannahdliyin, mereka dengan bangga mengemukakan dalil “Ulama adalah ahli waris para Nabi”. Tentu sajatafsir ulama versi aswaja NUadalah kyai yang sejalan dengan model beragama mereka, sepertidemen tahlilan, yasinan, mauludan atau tawashulandengan perantara arwah para wali.Adapun ulama di luar golongan mereka, kendati selevel ahli hadis abad moderenSyaikh Muhammad Nashiruddin al-Albanipun ditolaknya karena fatwa-fatwanya yang justru menelanjangi kesesatan beragama mereka.Jika kaitannya dengan perpolitikan nasional, sikap NU memang berubah-ubah. Dalam Pemilu 1955,NUyang menjelma sebagai sebuah partai politik turut serta memperjuangkan dasar negara Islam bagi republik ini.

Selanjutnya,NUjustru duduk mesra bersama-sama kaum nasionalis dan komunis dalam mengusung paham Nasakom. Pada Pemilu 1977,NUmenyatakan berfusi denganPartai Persatuan Pembangunan(PPP). Sepuluh tahun berselang,NUmalah berperan sebagaipenggembos PPPdengan keputusannya lewatmuktamar Situbondo 1984yang menyatakan kembali ke khittah 1926, tidak berpolitik. Realitanya, kembali ke khittah 1926 ternyata bukannya tidak berpolitik, tetapi justru berpolitik denganmenggembosi PPP. Pasca tumbangnyarezim Orde Baru, kembali ke khittah 1926 yang mereka dengung-dengungkan pun dibuang lagi.PBNUmemfasilitasi lahirnyaPartai Kebangkitan Bangsa(PKB). Sejumlahtokoh NUyang tidak sejalan denganplatform PKB, turut pula membidani lahirnya beberapa partai sepertiPartai Nahdlatul Umat(PNU),Partai Kebangkitan Umat(PKU), danPartai Solidaritas Uni Nasional Indonesia(Partai SUNI). Terkait lahirnya sejumlah parpol yang saling mengklaim sebagai partainya warga NU di awal reformasi,Gus Durpernah berkomentar,“NU itu ibarat ayam, dari pantatnya keluar telur dantai ayam. Yang telur itu PKB, yang partai lain itu taiayam.”Nah, bila untuk soalpolitikNUbersikap pagi kedele sore tempe alias mencla-mencle, lain halnya dengan sikap mereka terhadap dakwah tauhid dan sunnah. Semenjak awal berdirinya hingga hari ini,

NUselalu berada di garda terdepan dalam menentang setiap gerakan pemurnian Islam. Stigma Wahabiseakan menjadi jurus pamungkas membangun opini publik buat membangkitkan kesan horor dan radikal terhadap dakwah tauhid dan sunnah.Hari iniNUmengklaim sebagai ormas Islam yang paling toleran, sampai-sampai rela mengerahkan ribuan anak mudanya yang tergabung dalam banser untuk mengamankan perayaan malam Natal. Demi mendapatkan sebutan pluralis,tokoh-tokoh NUpun lantang mengeluarkanpernyataan-pernyataan yang intinya membela eksistensi sekte-sekte menyimpang di tanah air. Demi mendapatkan predikat nasionalis dan pancasilais, sejumlahkyai NUrela blusukan keluar masuk kelenteng atau gereja. Namun semangat ‘toleran, pluralis, nasionalis, dan pancasilais’yang selalu mereka bangga-banggakan, tiba-tiba berubah 180 derajat kala mereka berhadapan dengan kalangansalafi-wahabi.Beragam cara mereka gunakan untuk membendung dan mendiskreditkan dakwah wahabi.

Akan tetapi, semakin dibendung, dakwah wahabi justru makin tak terbendung. Semakin difitnah, justru semakin banyak yang tercerahkan dengan dakwah wahabi. Pada tahun 2009 misalnya,rumah sejumlahpenganut salafi di Gerung, Lombok Barat diserang warga yang masih jahil dengan Sunnah.

Kejadian ini bukan kali pertama terjadi di provinsi NTB. Namun dengan peristiwa tersebut, yang kemudian diliput luas oleh sejumlah media nasional justru menyebabkan masyarakat semakinfamiliar dengan istilah “salafi-wahabi” dan ujung-ujungnya mereka penasaran mencari tahu, apa sih sebetulnya salafi-wahabi itu. Munculnyaradio RodjadanRodja TVsebagai salah satu media dakwah salafi yang memantik reaksi para tokoh sufi-tradisionalis untuk memperingatkan jamaahnya agar tidak mendengarkan dan menonton siaran tersebut, rupanyamalah menjadi iklan gratis yang menyebabkan radio Rodja dan Rodja TV kian dikenal luas.

Upaya-upaya sejumlah kyai NU yang berusaha menyebarkan opini di tengah masyarakat soal sesatnya ajaran salafi-wahabi justru berujung pada turun tangannyaMUImeneliti gerakan tersebut, dan hasilnya MUI Jakarta Utara dengan tegas menyatakan “Salafi bukan aliran menyimpang”.Begitu pula opini public (baca penyesatan public) yang coba dibangun kang Said Agil Siraj ketum PBNU yang alumni Saudi, bahwa ideology wahabi merupakan akar dari terorisme di tanah air pun mentah di tengah jalan. Nyatanya, dalam beberapatahun terakhir dakwah salafiyah justru semakin berkembang di kalangan aparat pemerintahan.

Bahkan tak jarang para da’i salafi memberikan tausiyah di masjid Mabes Polri, masjid Polda Metro Jaya, atau masjid PTIK. Teranyar, Badan Nasional Penanggulangan Terorisme(BNPT) malah mendatangkan ulama salafi murid Syaikh Albani, yakni Syaikh Ali bin Hasan al-Halabi untuk berdakwahkepada para napi terpidana teroris agar kembali kepada pemahaman Islam yang haq.

Mungkin masih lekat pula dalam benak kita, tatkala di penghujung 2009 taklim Ustadz Zainal Abidin, da’i salafi mantan santri tambak beras di Masjid Amar Ma’ruf Bekasi yang membedah buku Jihad Melawan Teror diserang sejumlah orang yang ditengerai sebagai simpatisan Jamaah Anshorut Tauhid (JAT). Dengan demikian, jelas sudah beda antara salafi dengan takfiri. Kaum salafimenyeru kepada tauhid, sunnah, dan pemahaman sahabat Nabi yang di dalamnya termasuk ketaatan terhadap pemerintah kaum Muslimin.

Sedangkan jamaah takfiri meyeru kepada pengkafiran terhadap pemerintah RI serta hasutan untuk membenci atau bahkan memberontak terhadap pemerintah.Lantas, apa yang menyebabkankyaiaswaja NUbegitumembenci salafi WAHABIdan ketakutan dengan pesatnyaperkembangan dakwah salaf?

Apabila kita mencermati sejarah dakwah para Rasul, niscaya akan dijumpai bahwa kelompok yang paling keras menentang dakwah tauhid para Rasul tersebut adalah mereka yang selalu menamakan dirinya sebagai “pembela ajaran nenek moyang”. Begitu pula kita dapati hari ini, yang paling kerasmenentang dakwah salafyang mengajak umat Islam untuk memurnikan peribadatan kepada Allah, adalah kelompok yang menamakan dirinya sebagai “pemelihara tradisi nenek moyang.”

Selanjutnya, berkembangnya dakwah salafiyah di tengah masyarakat sama artinya dengan terbongkarnya klaim dusta Ahlus Sunnah wal Jama’ah yang selama ini mereka gembar-gemborkan.

Nyatanya, yang mereka praktekkan bukanlah akidah dan amaliah Ahlus Sunnah wal Jama’ah sebagaimana dicontohkan Rasulullah SAW dan para sahabatnya, melainkan amalan-amalan Ahli bid’ahwal firqah, entah itufirqahAsy’ariyah, shufiyah, quburiyah, batiniyah, filsafat, hingga kejawen yang saling bercampur aduk. Dan terakhir, tentu saja dengan tersebarnya pemahaman salafiyah di tengah masyarakat akan menyebabkan jatuhnya status social kyai tradisionalis yang selama ini menikmati sikap pengultusan luar biasa dari kaum santri maupun masyarakat awamnya, danujung-ujungnya turut pula mematikan income sebagian kyai yang juga rangkap profesi sebagai ‘dukun berjubah’.Sekiranya parakyai aswajaNUmau menanggalkan hawa nafsu dan sikap fanatisme yang membabi buta terhadap tradisi leluhur mereka, niscaya mereka bakal mengucapkan terima kasihsebesar-besarnya kepada paradai salafiyang telah meluruskan makna Ahlus Sunnah wal Jama’ah yang selama ini mereka pahami secara keliru.

Oleh : Muhammad Karyono.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *