internasional

Media AS Kritik Hukum Cambuk di Aceh. Netizen: Di Barat Juga Wajib Diterapkan!

Alam Islam New York – Media berita internasional ABC News mengkritik penerapan hukum cambuk di Aceh dengan mengatakan bahwa peraturan tersebut bisa menghambat parawisata di daerah tersebut.

“Provinsi terpencil dan indah di Indonesia bernama Aceh seharusnya bisa menjadi hotspot wisata, bukan mengisolasi diri dengan menegakkan hukum Islam yang kaku,” tulis media tersebut pada Sabtu (11/6).

Media tersebut kesal dikarenakan adanya laporan lonjakan jumlah agenda hukuman cambuk warga atas pelanggaran moral di provinsi tersebut.

Amnesty International mengatakan lebih dari 108 orang dicambuk di depan umum tahun lalu atas pelanggaran seperti menjual alkohol, perjudian dan seks di luar nikah.

Wartawan ABC dikabarkan sempat melakukan perjalanan ke provinsi terujung Indonesia tersebut untuk menyaksikan hukuman cambuk warga yang dihukum karena kejahatan moral.

Ia menggambarkan bahwa Aceh adalah daerah yang sangat indah, berbeda jauh dari Jakarta yang berjarak sekitar 2.000 kilometer jauhnya.

Pemberontakan separatis di daerah tersebut berakhir bersamaan dengan musibah tsunami yang meluluhlantakkan garis pantai Aceh pada tahun 2004 dengan korban 200.000 jiwa lebih.

Hukum syariah tersebut merupakan perjanjian untuk mengakhiri pemberontakan dan memberi hak untuk membuat undang-undang sendiri serta menegakkan nilai Islam yang ketat di Aceh.

“Minuman keras dan judi dilarang, perempuan harus menutupi aurat dan pasangan yang belum menikah tidak bisa tinggal bersama-sama. Bila berbaring di pantai dengan baju renang di Aceh bisa jadi akan dihukum cambuk,” tulis wartawan tersebut.

Hukuman fisik diberlakukan sebulan sekali. Hukuman cambuk di bulan ini digelar di depan masjid kubah putih di kota bukit Jantho, setelah shalat Jumat.

Saat acara penghukuman tersebut, sebuah panggung didirikan di depan masjid, di mana ada banyak para polisi dan aparat militer berkumpul. Pejabat kota setempat menempati tenda VIP untuk menonton.

Para tahanan diturunkan dengan truk hitam dan ulama naik ke panggung dan memberikan ceramah agar perbuatan tersebut tidak diulangi lagi.

Dia berpakaian serba hitam dan hanya mata yang terlihat. Ia menawarkan pilihan tongkat bambu yang panjang atau lebih.

Sebanyak enam penjudi dan seorang pelaku khalwat (bersama dengan nonmuhrim) dihukum oleh algojo saat itu.

Hari itu menjadi sebuah peringatan yang tidak akan terlupakan oleh para terpidana. Diarak keseluruh kota oleh polisi, tentara, ulama, para jamaah jumat, teman-temannya, orang tua mereka dan masyarakat hingga pelaku benar-benar malu dan kapok atas tindakan pelanggaran tersebut.

Kritikan tersebut ditentang oleh netizen Aceh.

“Umat Islam wajib menjalankan Hukum Jinayat Islam. Jalankan saja jinayat, tanpa perlu peduli kpd orang yang menolaknya,” Rusydi di laman Facebooknya.

“Peraturan islam atau cambuk itu bukan hanya wajib di aceh tapi diseluruh pelosok dimanapun kaum muslimin ada. dan hukummenyeluruh itu hnya akan bisa diterapkan ketika negara mengdopsi hukum islam yaitu khlafah oleh seorang khlifah.. selmatkan aceh dan kaum muslimin lain dengan khlafah.. Allahuakbaaar…,” tulis Aisyah Binti Chairuddin.

“Aceh punya wilayah sendiri,aceh pnya praturan sendiri,prsetann dg ham ala barat,” ujar Zainal Dayah Reubee.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *