kisah

“Mas, Dalam Islam Poligami Itu Boleh Lho” (Bagian II)


Alam Islam – Ini momen, Saya mau nulis soal LDR, Alias Long Distance Relationship, alias jauhan sama istri. Kebetulan 50 hari sudah ga nelp istri karena keterbatasan sinyal internet. Lalu alhamdulIllah pagi tadi akhirnya saya bisa telp beliau via Whatsapp.

Saya tetiba merasa perlu jadi konsultan pernikahan setelah merasa betapa hubungan jarak jauh jelas-jelas berbahaya bagi kebahagiaan rumah tangga, Utamanya bagi pihak wanita. Kita orang laki mudah saja buka cabang dimanapun ada bumi untuk dipijak dan mertua untuk dijunjung. Yang penting baik kantor pusat maupun cabang harus terurus optimal, Ga berantakan salah satu atau keduanya. Yang penting adil lah, Supaya keduanya merasa bahagia, Akur, Tenteram, Gemah ripah loh jinawi. Sukur-sukur merestui kita buka cabang ketiga dan keempat (eh…)

Tapi tunggu dulu ibu-ibu dan mbak-mbak semua, Baik yang udah jadi ibu, Maupun bakal ibu, Atau baru niat jadi ibu. Saya ga sedang mempromosikan poligami atau promosi madu Yaman Sumroh. Meski terus terang yang terakhir itu sering juga saya promosikan di akun ini. Paragraf tadi cuma buat nyenengin para bapak aja, Biar agak semangat baca status ini.

Jadi gini… Sejauh ini saya punya istri alhamdulIllah terhitung wanita tangguh. Beliau ga kuat angkat galon air atau tabung gas, Tapi kuat banget melepas saya tiga kali ngebolang ke Suriah. Saya bangga soalnya memang banyak orang ngebolang, banyak juga yang ke Suriah, tapi yang ngebolang ke Suriah ya cuma saya (terus apa bedanya ?)
Hehehehe…

Diantara para wanita yang ditinggal jalan-jalan sama suaminya itu terseliplah nama Ummu Quraisy, Yang masyaAllah nya setiap saya tinggal mesti terlihat tabah. Entah tabah beneran atau lagi Tabah Penemuan (silakan gugling). Tapi apapun yang beliau sembunyikan, Meski pura-pura sekalipun, Itu cukup bagi saya untuk membendung airmata tumpah ruah ketika melangkah keluar rumah.

Ya, Saya memang selalu nangis waktu pergi, Hanya saja saya tahan di depannya. Jangan sampai perjalanan panjang belasan ribu kilometer Indonesia – Suriah jadi kisah perjuangan yang didramatisir oleh hal-hal yang lebih kecil daripada jihad fiisabiilIllah. Kebahagiaan istri so pasti penting, Tapi kalau itu artinya harus menolak panggilan jihad, Meski sesampainya disini saya cuma pura-pura jihad, Ya entah lah… Kalau saya sih agak kuatir nanti di akhirat menyesal sebab ga pernah berpartisipasi dalam sebuah momentum agung yang terjadi semasa hidup.

Saya memang macam menduakan istri dalam perkara ini. Pernah saya tegaskan kalau sepertiga hati saya untuk Suriah, sepertiga untuk beliau, dan sepertiga lagi untuk yang satu lagi (hehehehe…). Saya mencintai Suriah sebelum kenal istri, Dan kalau bisa disulap jadi perempuan, Mbak Suriah ini pasti udah saya lamar.

Tapi biar begitu, RasulUllah ShallAllahu A’laihi Wasallam telah mengingatkan sebaik-baik perkara adalah yang pertengahan, Bijaksana, Dan Adil. Maka itu, meski menjadi suami yang berbagi cinta, Saya rasa saya ga perlu lebay sampai mengabaikan kebutuhan istri, Baik ruhaniah maupun jasmaniah. Menjalin hubungan rutin dengannya adalah keharusan, Hak istri yang harus saya tunaikan !
Sejak masuk Suriah, Saya intens menghubungi beliau. Mengatur lalu lintas serta kerumitan rumah tangga, memberinya saran, ide, bahkan perintah untuk menjalankan banyak hal. Saran atau perintah dari saya ada yang umum saja, Ada juga yang detail, terperinci, sampai ke titik koma nya saya tekankan. Saya coba didik beliau untuk jadi seperti Asma’ binti Abu Bakar Ash-Shiddiq RadhiAllahu A’nhum yang memanggul sendiri barang bawaannya, Karena sang ayah sedang berjihad menemani RasulUllah ShallAllahu A’laihi Wasallam.

Bagi saya, Kepergian ke Suriah ini momentum paling baik mendidik kemandirian istri, biar kuat, mandiri, tangguh, dan pemberani seperti ibunda beliau, Ruqayyah Kiki Bawazier dan mertuanya Lutfiah Umar Alydrus. Tapi saya ga sedang membentuknya jadi robot tanpa perasaan, Atau mengabaikan kebahagiaannya. Jadi selain untuk berumah tangga, Komunikasi intens juga penting untuk bersuami istri. Ya, Meski berjauhan, Kebutuhan batin wanita yang ingin diperhatikan, disayang, dimanja, didengar dan disanjung harus pula sebisa-bisa saya penuhi

Wanita itu dimanapun selalunya rumit sekaligus sederhana. Sederhana sekaligus rumit. Bagaimana ia jadinya, Tergantung pada kita sang nahkoda. Kalau rumah tangga disetiri masuk badai, Ya kalang kabut lah kita, Apalagi ternyata kita cuma supir tembak, Yang modal sombong, Dan ora tertib blass.

Contoh gampang. Meski sedang di medan perang saya biasakan pada saat dimana peluru lagi libur ngider diatas kepala, Dan sinyal internet cukup mantap menyala, Saya kirim satu dua kata pembuka di pagi hari waktu Indonesia. Sapaan sayang biar paginya ceria, Atau sekedar gombal mukiyo yang pasti beliau terima sambil ngomel penuh sukacita. Kalau udah gitu, Kehilangan saya tidak beliau rasa. Minimal buat satu hari itu. Kata istri “Kalau abis digombalin, berasa seharian Afat ada disini”
Saya tulis ini berangkat dari keprihatinan.

Tentu antum ga perlu sampai bikinkan meme “Saya Prihatin” seperti memenya pak SBY. Saya prihatin sebab istri cerita kalau beliau sering diinbox para akhwat yang tanya-tanya gimana caranya supaya tabah ditinggal suami. Rupanya beberapa akhwat ditinggal suaminya mak plung begitu saja, Walaa salam walaa kalam.

Alasannya bisa macam-macam. Ada yang bisnis, kerja, kuliah, bahkan ada juga yang sama-sama ke Suriah meski ga bareng saya. Para suami itu rupanya terlalu berkonsentrasi pada tanah yang didatanginya, Sampai lupa rumah yang ditinggalkannya. Padahal kebahagiaan seorang suami sejatinya ada di rumahnya, Bukan di kantornya, Bukan pula di kampusnya.

Jadi sekedar merangkum inti cerita, Saya sarankan antum yang sedang ga bersama istri, Apalagi udah lama ga komunikasi, Tolong segera hubungi dia, ibu atau calon ibu dari anak-anak antum, yang meninggalkan orangtuanya lalu membaktikan hidup demi kebahagiaan antum. Pria tak dikenal, yang datang tiba-tiba, Lalu membawa dia pergi dengan janji akan membahagiakannya.
Usahakan sebisa-bisa. Pasti ada jalan. Saya yang sedang di medan perang aja bisa, Masa antum ga bisa?!

Dan saya beneran sedang di medan perang waktu nelpon tadi. Istri saya dengar ledakan dan tembakan di dekat saya. Sampai dia keheranan “Afat lagi dimana ? Kok ada bunyi tembakan sama ledakan ? Lagi ditembakin ?! Kok ngeri sih ?!”
Saya jawab aja;
“Kalem beb, Udah biasa, Santai aja, Belum se-ngeri kalau ada akhwat yang bisikin Afat
‘Mas, dalam Islam poligami itu boleh lho…”.

Penulis: Fathi Yazid Attamimi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *