opini

Mahalnya Sekolah Islam Terpadu Bukti Keberhasilan Logika Kapitalisme ke Tubuh Ummat

mahalnya sekolah islam terpadu produk kapitalis
ilustrasi

Alam Islam – Eko Prasetyo, aktivis yang peduli isu pendidikan, pernah mengeluhkan mahalnya biaya sekolah di Sekolah Islam Terpadu (SIT).

“Sekolahnya saja Abu Bakar, tetapi biayanya Abu Lahab!” cetusnya tanpa bermaksud berkelakar.

Eko bicara bukan merujuk pada nama sekolah tertentu. Bukan pula bicara dalam rangka memfitnah tanpa bukti. Eko yang menyekolahkan salah satu anaknya di SIT merasakan betul penghasilannya dari menulis buku tak semelesat kenaikan biaya sekolah anaknya.

Entah cetusan apa lagi yang bakal diperdengarkan Eko kalau dia menyimak mahalnya biaya bersekolah di yayasan Islam tidak terjadi di kota-kota besar saja. Eko memang mengeluhkan kasus anaknya di sebuah SIT di Yogyakarta; mungkin dia akan lebih perih menahan luka bila kasusnya di Ibukota dan kota satelitnya.

Pendidikan Islam terpadu memang identik dengan jaminan pembinaan akhlak siswa – sesuatu yang tidak didapat di sekolah umum, baik milik pemerintah ataupun swasta bukan yayasan Islam. Banyak orangtua cemas menurunnya akhlak masyarakat, termasuk pengaruhnya bagi putra-putri kecil mereka. Pilihan menyelamatkan akhlak anak ditempuh, salah satunya, dengan memilihkan pendidikan yang lebih menekankan moral keagamaan.

Selain itu, pendidikan Islam terpadu, dalam banyak kasus, memang telah memberikan bukti – alih-alih sekadar janji di pamflet publikasi – prestasi. Rasanya komitmen pengelola pendidikan SIT tidak perlu diragukan soal ini. Maklum saja, untuk bisa eksis mau tidak mau mereka harus bisa mengoptimalkan potensi yang ada, baik pada siswa maupun pengajar. Dengan segala keterbatasan yang ada di awal pendirian, sekolah-sekolah Islam terpadu kini bermetamorfosa menjadi sekolah unggulkan, elit, dan entah mengapa menjadi mahal.

Belakangan, SIT menjadi ikon sebuah pendidikan Islam berkualitas sekaligus – niscaya – mahal. Sejauh ini banyak yang protes, tetapi suara ini tidak begitu bergaung mengingat berjibunnya pendaftar. Dan para pendaftar itu bukan lagi PNS golongan I; bukan pula anak tukang kebun; bukan pula anak buruh. Yang mendaftar justru anak-anak anggota dewan, pengusaha kaya, dan mereka berduit. Kalaupun ada alokasi bagi siswa yang orangtuanya tak berpunya, persentasenya tak lebih dari 10-20 persen.

Mengapa pendidikan Islam terpadu menjadi mahal? Haruskah pendidikan berkualitas berharga mahal?

Jujur, saya tidak berkompeten soal ini. Tetapi, harus diakui bahwa prestise SIT kini melambung. Dan di kota-kota besar ini kemudian mengharuskan para orangtua berpenghasilan pas-pasan untuk tahu diri tak mendaftar ke sana. Yang berebut masuk adalah orangtua-orangtua berada secara ekonomi. Yang kemudian terjadi, kualitas terkait kegiatan apa pun di SIT berikut yayasannya harus mahal.

Soal terakhir tadi saya mendapati buktinya. Di sebuah yayasan pendidikan Islam (tanpa memakai nama terpadu sebetulnya, tetapi konsepnya sama) di Lembang, Subang, wali murid banyak berasal dari kalangan berada. Maka, ketika yayasan mengadakan kegiatan keagamaan seharga jutaan, peserta membeludak. Karena pengurus yayasan tak ingin berkesan komersial, pada waktu berikutnya harga diturunkan menjadi tiga ratus ribu. Apa yang terjadi? Peserta minim! Rupanya wali dan keluarga anak didik paham bahwa level kegiatan berkualitas di sekolah anaknya itu tidak ratusan ribu. Itu semacam harga ekonomi bagi kalangan bukan mereka.

Mahalnya SIT, juga seminar-seminar motivasi keislaman bertarif jutaan, sesungguhnya keberhasilan logika kapitalisme ke tubuh umat. Ada pembenaran sedemikian rupa untuk mematok harga lebih demi pendidikan berkualitas, tapi saat yang sama abai pada nasib anak-anak Muslim taat dengan ekonomi lemah. Kalau saja ada SIT merekrut kalangan berada, tetapi saat yang alokasi bagi putra-putri Muslim taat tapi miskin dengan persentase tidak sekadar kamuflase, rasanya kita tak boleh menaruh curiga lebih dulu pada sekolah tersebut dengan predikat kapitalisasi pendidikan.

Sejauh ini, saya belum begitu memikirkan SIT dan jejaringnya sebagai tempat menaruh asa buat Emira dan adik-adiknya. Saya masih ingin menyekolahkan Emira dan adik-adiknya dengan home schooling. Tidak mudah memang, tetapi ini lebih realistis di tengah krisis kepercayaan saya pada SIT yang mulai abai pada anak hebat tapi berayah miskin.

Saya memang, alhamdulillah, tidak miskin. Saya mencoba tidak menaruh buah hati ke SIT atau sekolah umum, semata ingin mentradisikan berilmu ulama salaf dulu. Mengajarkan anak untuk mendatangi guru terbaik bukan guru asal-asalan – apalagi guru produk instan sertifikasi bermotif mata duitan. Saya percaya, guru di SIT berkualitas, tetapi apakah di luar SIT tidak berkualitas?

Boleh jadi, biaya untuk pendidikan ala saya ini lebih mahal, tetapi saya puas menghargai langsung ilmu guru atau ulama daripada membayar gedung yang lebih prestise saja.

Penulis: Yusuf Maulana

Tinggalkan Balasan