artikel

Kisruh Partai Dakwah Islam, Ketika Kepentingan Pribadi diatas Jamaah?

Apakah kisruh partai dakwah karena mementingkan kepentingan pribadi daripada kepentingan jamaah Islam?
ilustrasi

Alam Islam – Dulu, ketika halaqah jamaah Tarbiyah masih sistem menyembunyikan sandal karena ancaman rezim, masalah ukhuwah dan ketaatan tidak perlu dibahas sesering mungkin. Dengan keyakinan sendiri, tanpa paksaan semua kader jamaah tarbiyah yang kelak membidani lahirnya partai dakwah mempraktekkan ukhuwah dan ketaatan karena qiyadahnya bisa menjadi teladan dan yang diperintahkan bukanlah paksaan, apalagi melanggar aturan akhlak. Memakai dana pribadi untuk dakwah adalah buktinya, ketika trombosit dakwah telah mengalir dalam darah, semua pengorbanan adalah kerelaan tanpa paksaan ikrar.

Terus, mengapa sekarang berubah?

Dengan berjalannya waktu, partai dakwah semakin besar. Angin cobaan semakin banyak menerpa. Cobaan harta, cobaan kepentingan bahkan cobaan kekuasaan. Lambat laun semakin banyak dai yang menjadi pejabat pemerintah, semakin rentan terhadap masalah dan kasus. Respon terhadap masalah juga beragam, sejalan dengan memudarnya pemahaman terhadap manhaj jamaah. Halaqah terkadang lebih banyak membahas materi taat dan tsiqah. Padahal ada materi al-fahmu (kefahaman) yang lebih penting dibandingkan keduanya. Memahami mana yang benar dan mana yang salah, kemudian membela pihak yang benar apapun konsekuensi di kemudian hari.

Imam Syahid Hasan Albanna pernah menyebut dalam beberapa tulisannya: “Yang saya maksud dengan tsiqah adalah rasa puasnya seorang prajurit atas komandannya dalam hal kemampuan dan keikhlasan, dengan kepuasan mendalam yang dapat menumbuhkan rasa cinta, penghargaan, penghormatan dan ketaatan.”

Ketika para dai merasa ada kejanggalan atas tingkah laku qiyadahnya, maka yang diutamakan adalah kebenaran, bukan kepatuhan. Karena dalam Islam kebenaran harus ditegakkan walaupun harus menerima berbagai ancaman. Bila qiyadahnya mempunyai teladan yang baik, akrab dengan dengan semua bawahannya serta mengerti semua permasalahan mereka maka rasa tsiqah akan muncul dengan sendirinya. Namun bila qiyadahnya membiarkan kabar hoax menyebar dan membiarkan kisruh dalam jamaah, maka kewajiban mentaati qiyadah sudah batal.

Almarhum Ustadz Rahmat Abdullah atau yang pernah dijuluki sebagai “Syaikhut Tarbiyah” di dalam majalah Sabili dan ditulis dalam buku “Untukmu Kader Dakwah” terbitan Pustaka Dakwatuna pernah menyebut kriteria pemimpin adalah yang dekat dengan rakyat dan tidak membiarkan mitos berkembang di sekitar dirinya tanpa mau menyelesaikan dan menjelaskannya.

“Ia harus dekat dengan tuhannya dan dekat dengan rakyatnya. Tidak harus seorang
presiden itu sufi dalam gambaran awam, karena kesufiannya cukup dengan kecakapan
memimpin tim dan mendeteksi dengut nadi rakyat. Ia tak boleh membohongi rakyat
dengan membiarkan mitos berkembang sekitar dirinya, apa lagi sengaja membuat-buat mitos.”

Ketika seorang qiyadah membiarkan isu dan fitnah menyebar tanpa punya usaha untuk menyelesaikannya, maka dipastikan qiyadah tersebut diuntungkan secara pribadi dengan penyebaran isu dan fitnah tersebut. Saat itulah para kader dakwah yang cerdas dan kritis akan mempertanyakan hal tersebut. Bila dirasa sudah bertahun-tahun tak ada progressnya, maka sangat masuk akal bila para kader yang kritis tersebut mengajukan keberatan dan kritikan secara terbuka.

Bila mengkaji kembali kitab Majmu’ Rasail, maka kita akan disuguhkan bahwa kepentingan jamaah adalah murni kepentingan untuk membuat Islam semakin berkuasa di dunia ini. Karena hanya Islam yang akan membuat dunia menjadi damai tanpa ada penjajahan di berbagai belahan bumi seperti yang terjadi sekarang. Karena itulah jamaah Islam haruslah berorientasi terhadap kemajuan Islam, bukan kepentingan pribadi. Sehingga buku tersebut menukilkan bahwa jamaah Islam harus berkeyakinan untuk menguasai negara agar nantinya bisa menjalin konsolidasi antara bangsa-bangsa muslim terkait masalah politik, ekonomi, sosial, militer dan peradaban Islam.

Bila visi sebuah jamaah sudah mulai pudar dari garis-garis diatas, maka tinggal tunggu waktunya gulung tikar. Visi mulia tersebut akan diambil alih oleh generasi terbaik, generasi Islam cerdas yang kritis dan visioner. Dimana mereka tak segan untuk mengatakan tidak sekalipun ditahzir universal, kehilangan jabatan, terputus persaudaraan, hilang penghasilan bahkan nyawa jadi taruhan demi menegakkan kebenaran yang harus disuarakan.

Generasi tersebut adalah pengganti generasi usang yang hanya mempraktekkan manhaj dakwah setengah-setengah. Memenggal teori dakwah dan ukhuwah demi kepentingan sesaat. Membiarkan konflik mencerai beraikan anak bangsa.

Kebangkitan Islam itu akan hadir di tangan pemimpin yang bisa dipercaya omongannya, yang bisa dipertanggungjawabkan idealismenya, dan bisa merasakan keresahan dan masalah kadernya. Bukan pemimpin yang hanya menyebut tiga kata: taat, bayar atau keluar!

Ketika jamaah sudah dipimpin oleh qiyadah yang berakhlak mulia, akrab dengan kader dan mudah berempati terhadap masalah kader tanpa menyusahkan mereka maka kebangkitan Islam akan mudah dicapai.

Bahkan Ustadz Rahmat Abdullah juga mengatakan bahwa kebangkitan Islam itu bukanlah mimpi belaka.

“Cita-cita kebangkitan Islam bukanlah mimpi di siang bolong. Ia bisa
diwujudkan asal memenuhi syarat untuk bangkit. Selain eksistensi umat yang nyata
disetiap aspek kehidupan, kebangkitan juga mensyaratkan bangkitnya ulama dalam
memimpin umat. Ulama harus menjadi pelopor kebajikan dan suritauladan. Jika
kedua syarat itu terpenuhi, kebangkitan hanya soal waktu.” ujar ustadz yang pernah mengisi di Seminar Nasional “Tarbiyah di Era Baru” di Masjid UI, Kampus UI Depok, berapa tahun sebelum beliau wafat di tahun 2005.

Untuk menuju kebangkitan tersebut, para kader dakwah harus memutuskan untuk mengikuti jalan mana karena semua jalan ada konsekuensinya. Yang jelas semangat pertanggung jawaban harus ada di dalam dada. Ketika suatu saat nadi sudah tak lagi berdenyut dan kita menyesal mengapa kita tidak bersuara atas fitnah-fitnah yang kita biarkan penyebarannya. Seperti penyesalan abadi Peter Parker sang “Spiderman” yang melepas penjahat yang kemudian membunuh pamannya.

Penulis: Mirza Husni,S.Pd.I – Pemerhati Dunia Islam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *