internasional

Junta Kudeta Akan Meregang Nyawa


Lama menanti. Duka nestapa dan
derita silih berganti. Manusia-
manusia tak berdosa meregang
mati. Demi tercapainya ambisi,
berkuasa walau dengan nista tak
terperi. Ya, itulah fragmen kudeta
yang terjadi di Mesir. Perlawanan
rakyat yang tak kenal kata
berhenti. Kini menemui harapan
pasti, bahwa junta kudeta tak
akan lama lagi menghembuskan
nafas bahwa lonceng kematian
telah menanti.
Berawal dari Raja Salman yang
bersikap “acuh tak acuh”
terhadap As-Sisi. Sejak berkuasa,
Raja Salman telah menerima
delegasi Presiden 6 negara, minus
As-Sisi. Kedekatan dengan
Erdogan-Emir Tamim dari Qatar,
membentuk poros baru yang
membuat Emirates Arab-Kuwait
berpikir ulang untuk terus
menerus menjadi donatur kudeta
di Mesir. Obama, Presiden AS
yang tak lain komprador kudeta
pun berubah haluan.
Kepentingan AS di Timur Tengah
lebih dikedepankan. Obama tidak
ingin AS dituduh menjadi
antidemokrasi, seiring dengan
bukti-bukti rekaman yang bocor ..
bocor ..bocor seputar konspirasi
untuk menangkap, memenjarakan,
dan mengkudeta Presiden Mursi.
Sewaktu di Mesir, saya beberapa
kali menanyakan, mengapa
Ikhwanul Muslimin lebih memilih
jalan damai daripada mengangkat
senjata? Jawabannya, “Inna
thabi’atashshira’ bainal haqqi wal
bathil tahtaahu ilaa fahmin
wataqwiimin shahihin. Wadh’u
ash-shiraa’ wa-athraafahu fii
ghairi ithaarihi ash-shahih,
fahuwa yaziidu baathil
quwwatahu.” (Tabiat pergumulan
antara haq dan batil
membutuhkan pemahaman dan
penilaian yang tepat dan benar.
Meletakkan pergumulan hak dan
batil berikut anasir-anasirnya
secara tidak benar, justru akan
semakin memperkokoh kebatilan
itu sendiri).
Semua tahu, junta kudeta di
Mesir sejak awal terjadinya telah
mengalami guncangan bahkan
kelumpuhan. Arab Springs yang
terjadi di Mesir, atau Revolusi
Januari, ternyata atas seizin dan
sepengetahuan Mubarak. Maka
wajar, seluruh kabinet rezim
Mubarak dibebaskan tanpa syarat.
Namun sikap As-Sisi yang terlalu
berlebihan dalam kezhaliman, dan
bernafsu melenyapkan Ikhwanul
Muslimin, adalah kesalahan fatal.
Kini rakyat Mesir justru semakin
kokoh berada di barisan Ikhwanul
Muslimin, suka atau tidak suka.
Sebaliknya malah sangat anti
terhadap siapapun yang berbaju
militer. Sungguh di sini saya
mengagumi ijtihad Mursyid
Ikhwanul Muslimin, Syaikh
Profesor Doktor Muhammad
Badie’, yang secara pengorbanan
(tadhiyah) tidak perlu disangsikan
lagi.
Maka menurut Advokat Senior
Mesir, Profesor Doktor ‘Iman Abu
Hasyim, akan terjadi revolusi
kembali yang dilakukan elemen
militer terhadap Jenderal As-Sisi.
Penyebabnya sangat sederhana,
bukan cinta Mesir atau cinta
Ikhwan, tapi anggota militer Mesir
sangat khawatir akan masa depan
nyawa mereka yang pasti akan
segera dihabisi, cepat atau
lambat. Hal ini yang membuat
rekaman pembicaraan As-Sisi saat
menjadi Menhan dan Brigjen M.
Ibrahim sang Mendagri haus
darah, bocor..bocor..bocor!
Terlebih Emirates Arab, Kuwait,
Saudi Arabia, menghentikan
cairan infus kepada kudeta di
Mesir.
Saya justru sedikit bertanya, apa
sikap ormas-orpol-atau gerakan
berbau Islam yang dahulu sangat
gemar memuji-muji As-Sisi dan
mencaci maki Mursi berikut
Ikhwanul Muslimin. Mungkin
mereka berharap, jika As-Sisi
dikudeta, Ikhwanul Muslimin
membuka pintu maaf selebar-
lebarnya. Mereka takut mati,
maka menjadi penjilat adalah
pilihannya. Mereka kini pun tak
mampu membendung arus
Kristenisasi di Mesir, yang makin
hari semakin gencar menebar
propaganda untuk pindah agama.
Suatu hal memilukan di negeri
1001 menara. Mari terus kita
doakan, Mesir kembali ke
pangkuan Islam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *