opini

Jilbab dan Fashion Para Mahmud Kekinian

Alam Islam – Haramkah jilbab dimodel nganu-nganu kekinian, kayak hijab-hijab yg lipat ke kiri sampai telinga lalu tancapkan jarum pentul ke daun kuping, hingga …. pakai cepol, ciput, ninja, CRV, dan sebagainya?

Saya pernah menelitinya dan menuliskannya panjang kali lebar dalam buku Berhala-Berhala Wacana. Banyak tema yg saya bahas dalam buku ini; soal jilbab, banyak anak banyak rezeki, perlukah menikah cepat-cepat, hingga hukum mengucapkan “selamat Natal” pada sahabat non muslim. *iklan detected*

Ttg jilbab punuk onta yang ramai digugat para muslimah nganu itu, dgn berlandas hadits itu, saya tidak menentangnya. Silakan aja make pandangan demikian.

Namun saya juga meneliti dan menuliskan dgn sungguh2 bahwa “Alqur’an bukan kitab suci ttg desain fashion”. An-Nuur 31 dan al-Ahzab 59 saya kupas di sini. Juga asbabun nuzulnya, sebab turunnya ayat, yakni ttg Saudah (istri Nabi) yang pernah ditegur oleh Umar bin Khattab terkait jilbab ini…..

Well, kesimpulannya adalah hukum berjilbab boleh dalam model fashion gimanapun, termasuk yg kau sebut punuk onta haram itu, sepanjang memenuhi maqashid al-syar’i-nya, dan selaras dengan itsbatul hukmi (konteks penetapan sebuah hukum), yakni “menutup aurat dengan cara yang melindungi tubuhnya dari potensi syahwat”. Mau paris, pasmimah, gamis, bercepol, dll., adalah ekspresi-ekspresi kultur kekinian. Boleh saja.

Dalam studi Islam, termasuk menafsirkan dan memahami ayat dan hadits, sewajibnya hanya mereka yang karib dengan metodologi pembentukan hukum Islam sajalah yang mengambil peran. Ushul fiqh. Misal kitab ar-Risalah Imam Syafi’i, yang diakui secara luas sebagai peletak dasar-dasar metodologi itu. Itulah alasannya dalam Alqur’an ada ayat: “wala taqfu ma laisa laka bihi ‘ilmun (dan janganlah kamu melibatkan diri dalam hal yang kamu tidak.memiliki ilmu tentangnya”). *tunjuk muka sendiri* Dilemanya ialah inilah era di mana semua orang sanggup berpendapat, mendukung, membantah, dan bahkan menyalah-nyalahkan sebuah pandangan bukan sebab kekaribannya dengan Ushul Fiqh dan khazanah tafsir salaf, tetapi karena punya akun fesbuk. Betapa barakahnya memang Zuckerberg, ya….

Jilboobs, absolutely, tidak termasuk sukses melindungi tubuhnya dari potensi syahwat.

Jika penjenegan sudah baik-baik menutup aurat, lalu ada lanangan yang masih saja menggeliat, bagaimana hukumnya?

Betapa repotnya ya jadi cewek muslimah yang bentar-bentar dituding “nggarai syahwat lanangan”, di sisi lain ia tertuntut untuk asyik. Njut kudu piye aku, maz….?

Mbokya para lanangan itu sekolahkan lah nalar dan imaji syahwatnya. Mbokya para lanangan itu “menahan pandangannya”, jangan cewek mulu disalahkan, apalagi bila cewek sudah berhijab gitu. Bukankah soal imaji syahwat itu sangat ditentukan oleh standar moral dan nalarmu to, Nang? Buktinya, sabun aja bikin kamu berahi to? Apa iya sabun mau dihijabin nggak bermodel punuk onta agar ente tak berahi?

Ada-ada aja. Tugas cewek menutup aurat dengan baik, wes. Tugas lanangan jaga pandangannya dengan baik, wes. Syariat berjalan niscaya.

Penulis opini: Edi Mulyono

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *