artikel

Intelijen dalam Organisasi Dakwah, Misi Terpuji atau Pemecah Belah?

Intelijen organisasi dakwah bisa saja mengemban misi terpuji atau bisa menjadi pemecah belah ukhuwah.
ilustrasi

Alam Islam – Dunia intelijen sangat benderang ditampilkan dalam film Enemy of The State. Film lawas yang mendapat nilai IMDB cukup tinggi tersebut menceritakan tentang kehebatan agen intelijen rahasia NSA (National Security Agency) lengkap dengan intrik dan kecanggihan peralatan penyadapan komunikasi dalam dunia spionase. Sang tokoh utama diburu oleh intel NSA karena telah menyimpan informasi penting tentang pembunuhan dengan menggunakan bantuan alat-alat canggih. Bahkan ia tanpa sadar telah dipasangi alat penyadap super canggih dalam bentuk sepatu, pulpen, jas, kancing celana hingga arloji. Sadisnya, untuk memuluskan misi mereka dengan mudah membunuh siapa saja yang menghalangi tujuan utama.

Dunia intelijen sudah ada di nusantara sejak masa penjajahan Belanda. Tahi Bonar Simatupang dalam bukunya, Laporan Dari Banaran: Kisah Pengalaman Seorang Prajurit Selama Perang Kemerdekaan (1980: 166) menyebutkan tentang eksistensi badan intelejen di masa penjajahan Belanda. Kehadiran badan rahasia yang bernama Netherlands Forces Intelligence Service (NEFIS) tersebut mempunyai misi untuk mencari info tentang pejuang Republik Indonesia. Badan intelijen ini adalah momok bagi para pejuang kemerdekaan.

Sedangkan dunia intelijen masa kini dimana kontrolnya sudah berada di bawah kekuasaan negara, maka badan rahasia tersebut hanya akan dijalankan sesuai dengan kepentingan.
Mantan Deputi Bidang Produksi dan Analisa Badan Koordinasi Intelijen Negara (BIN) Supono Soegirman, yang juga penulis buku intelijen berjudul “Intelijen Profesi Unik Orang-Orang Aneh”, menyebutkan: “Dalam pengabdian pada kepentingan nasional, intelijen senantiasa berpegang pada adagium “tidak ada kawan atau lawan yang abadi, kecuali kepentingan.”

Ironinya, dunia intelijen Indonesia terkadang masih dianggap sebagai pengekal kekuasaan, alat politik dan belum efektif menjadi alat pertahanan negara dari serangan dunia luar. Hal tersebut diungkapkan oleh Andi Widjojanto, penulis buku “Hubungan Intelijen-Negara 1945-2004”: “Intelijen yang saat ini dibutuhkan bukan intelijen dengan konsep lama yang bekerja untuk kepentingan politik. Bukan pula intelijen yang membantu mengekalkan kekuasaan penguasa. Tapi intelijen baru yang mampu mengantisipasi munculnya ancaman bagi keamanan nasional.”

Begitu pula ketika teori intelijen mulai diterapkan dalam organisasi dakwah, yang dituai bukanlah kemaslahatan malah menambah konflik dan beban dakwah. Munculnya kecurigaan, nilai plus minus setiap kader menjadikan perangkat intelijen tersebut menjadi hakim sekaligus pelaksana vonis tanpa kontrol dari pihak independen. Badan rahasia yang dulunya didirikan tersebut malah menjadi senjata makan tuan karena sangat mudah dijadikan alat untuk memuluskan kepentingan tokoh pribadi untuk mengekalkan kekuasaan.

Ketiadaan kontrol atas penggunaan dana organisasi dakwah untuk kepentingan intelijen juga menjadikan organisasi dakwah semakin kerdil dan kehilangan tajinya di mata internasional. Ibarat kanker yang akan menggerogoti setiap bagian tubuh, pelan tapi pasti akan mematikan organisasi dakwah itu sendiri.

Secara naluri, dunia intelijen sekalipun di organisasi dakwah rentan akan penerapan teori bolehnya melakukan apapun untuk memuluskan aksi dan misi. Dari sanalah setiap sendi idealisme aktifis dakwah akan tercabut karena ketiadaan panduan yang jelas dan sesuai dengan ajaran Islam. Seperti lazimnya dunia intelijen, adalah hal biasa bila menabrak nilai-nilai etika dan moral dalam menjalankan misinya. Karena hal itulah pembentukan organsisasi rahasia yang memantau internal organisasi dakwah secara liar itu harus dibubarkan karena malah menjadi ancaman yang lebih besar daripada ancaman eksternal.

Seiring dengan adanya pelabelan dan demarketing secara vulgar dalam dunia intelijen di organisasi dakwah, maka hal tersebut lambat laun akan menjadi pemecah ukhuwah. Karena ukhuwah adalah sebuah faktor yang membuat para dai saling satu visi. Dengan ukhuwah akan jauh dari kecurigaan yang memunculkan jarak dan ketidakpercayaan.

Dengan sistem pelabelan maka akan memudahkan pemecatan para kader dakwah, sehingga organisasi dakwah tak sadar sedang menginjeksi sistem takfiri (mudah mengkafirkan) di dalam pengelolaannya.

Melihat dari dampak mengerikan sistem intelijen tak terkontrol dalam organisasi dakwah, maka dibutuhkan keseriusan bagi setiap kader dakwah untuk memperbanyak referensi dan sumber yang lebih riil, terbuka dan bisa dipercaya, bukan info dunia gelap yang tak bisa dipertanggungjawabkan keabsahannya. Setiap dai harus menempatkan taat pada tempatnya dan sesuai porsinya, bukan taat buta, taqlid buta apalagi cinta buta.

Ingatlah bahwa menurut Imam Syahid Hasan Al-Banna, rukun baiat sebelum taat dan tsiqah itu ada Al-fahmu. Dimana al-fahmu adalah pemikiran harus mendahului gerakan, gambaran yang benar merupakan pendahuluan dari perbuatan yang lurus.

Ketika melakukan sesuatu, seorang dai harus benar-benar memikirkan dan meneliti apa yang dia dengarkan, kemudian melaksanakan tanpa mencederai nilai-nilai Islam. Kumpulkan fakta dan realita, karena hal tersebut yang akan membuat seorang dai terhindar dari kesesatan takfiri yang tak kenal ampun.

Segala sumber perpecahan tersebut harus dihapuskan, karena Islam adalah bagai tubuh yang satu, dan ingatlah bahwa yang memegang kebenaran bukan hanya organisasi dakwah tertentu saja . Bila biang kerok perpecahan bernama tim intelijen rahasia pemecah belah tersebut tidak dihapuskan, maka kegemilangan dakwah akan semakin jauh dari target yang diimpikan.

Penulis: Mirza Husni,S.Pd.I (Pemerhati dakwah dan dunia Islam)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *