artikel

Inilah 6 Kesalahan Dalam Mendidik Anak

cara mendidik anak dengan baik

Alam Islam – Betapa sering kita melihat orangtua beranggapan seorang anak menjadi nakal dikarenakan kesalahan anak itu sendiri yang mungkin disebabkan oleh lingkungan atau pergaulannya. Kita sering lupa bahwasanya seorang anak dilahirkan kedunia ini dalam keadaan suci, tapi orang tuanyalah yang memberi warna hitam ataupun putih kepada perkembangan anak itu sendiri. Allah SWT berfirman:

“Dari Abu Hurairah ra berkata, Rasulullah SAW telah bersabda:

             “Tidaklah setiap anak yang lahir kecuali dilahirkan dalam keadaan fitrah. Maka kedua orangtuanyalah yang akan menjadikannya sebagai Yahudi, Nasrani, atau Majusi. Seperti hewan melahirkan anaknya yang sempurna, apakah kalian melihat darinya buntung (pada telinga)?”

            Hadits diriwayatkan oleh Al-Imam Malik  dalam Al-Muwaththa` (no. 507); Al-Imam Ahmad t dalam Musnad-nya (no. 8739); Al-Imam Al-Bukhari t dalam Kitabul Jana`iz (no. 1358, 1359, 1385), Kitabut Tafsir (no. 4775), Kitabul Qadar (no. 6599); Al-Imam Muslim  dalam Kitabul Qadar (no. 2658)

Anak yang sholeh dan sholehah adalah dambaan setiap orang tua, tidak banyak atau bahkan tidak ada satupun orang tua didunia ini menginginkan anaknya menjadi anak yang jahat, nakal, bahkan durhaka sama orang tuanya. Tidak bisa dipungkiri anak merupakan anugerah dan bisa juga cobaan bagi orang tuanya, anak itu anugerah ketika seorang anak berbakti kepada orang tuanya dan anak itu bisa menjadi cobaan ketika sang anak durhaka kepada orang tuanya. Dalam kenyataannya sering kita temui anak yang sholeh dan sholehah dilahirkan dari Ibu dan Bapak yang sholeh, namun tidak sedikit pula orangtua yang sholeh memiliki anak yang durhaka, misalnya anak nabi Nuh as yang durhaka kepada orangtunya dan tidak mau diajak masuk kedalam perahunya Nabi Nuh as, sehingga Allahswt murka dan meneggelamkannya bersama-sama umat nabi Nuh as yang tidak mau taat kepada ajakan beliau.

Ikhwatifillah, pemuda dan pemudi islam adalah pemuda harapan bangsa, generasi berikutnya akan ditentukan sejauh mana kualitas dari pemuda sekarang. Untuk itu dalam membentuk bangsa yang Baldatun Toyyibatun Warobbun Ghofur  harus dimulai dari masyarakat dan keluarga yang islami, hal tersebut tidak semudah seperti membalikkan telapak tangan, akan tetapi harus ada usaha dari setiap insan manusia untuk memperbaiki diri sendiri, keluarga, masyarakat sampai kepada bangsa dan Negara.

Berikut penulis menjabarkan ada beberapa kesalahan ibu-bapak dalam mendidik anak, sehingga mengapa kemudian anak tidak penurut,nakal,keras kepala bahkan durhaka kepada orang tuanya, antara lain :

Pertama, Salah memilih jodoh

            Jodoh,rizki dan ajal merupakan hal mutlak yang harus diterima oleh setiap orang, serta sudah diatur oleh Allah dengan sebaik mungkin.Dalam hal perkara jodoh meskipun Allah SWT sudah mengatur akan tetapi harus dipersiapkan dengan sebaik mungkin, kerna Allah berfirman dalam  Al-Quran “ Wanita-wanita yang tidak baik untuk laki-laki yang tidak baik, dan laki-laki yang tidak baik adalah untuk wanita yang tidak baik pula. Wanita yang .baik untuk lelaki yang baik dan lelaki yang baik untuk wanita yang baik. (Qs. An Nur:26)

            Oleh sebab itu hal yang harus dipersiapkan adalah memperbaiki diri sebaik mungkin, mendekatkan diri kepada Allah swt, menegakkan amalan yaumi,bermuamalah dengan baik, hubungan vertikal dengan Allah dan horizontal dengan manusia sehingga kemudian Allah swt lah yang akan memberikan yang kita mau, kerna Dia lah yang menguasai seluruh alam semeseta dan isinya untuk dipersembahkan kepada hamba-hambanya yang selalu taat dan bersyukur.

             Masa muda adalah masa dimana terjadi gejolak yang maha dahsyat di dalam diri manusia serta merasa semua keinginan harus direalisasikan dengan instan, tanpa harus berfikir panjang lagi. Perasaan ingin mencoba sesuatu hal yang baru dapat membutakan mata seseorang, mereka dapat berbuat sesuka hati mereka tanpa memikirkan lagi akibat atau dampak setelah mereka melakukan itu, misalnya menggunakan narkoba, minum-minuman keras, seks bebas dan pergaulan bebas sehingga mengakibatkan perzinaan merajalela, yang berdampak kepada seseorang terpaksa harus menikah kerna harus mempertanggungjwabkan perbuatannya. Pernikahan seperti inilah yang membuat rumah tangga seseorang tidak tentram, sehingga berujung kepada perceraian, akhirnya anak tidak terdidik dan terbina dengan baik, dan sangat mempengaruhi psikologi seorang anak, alhasil anak menjadi keras kepala, tidak mau diatur, ingin menang sendiri dan tidak memiliki sandaran ketika memiliki permaslahan.

             Orang seperti ini menganggap rumah tangga dan pernikahan hanya untuk melegalkan nafsu birahi saja, padahal rumah tangga dan pernikahan adalah merupan pintu syurga bagi seorang pemuda dan pemudi seandainya mereka memahmi hakikat pernikahan itu sendiri.  Allah swt menegaskan dalm surat Ar-rum:21

“Dan diantara tanda-tanda kekuasan-Nya ialah diciptakan-Nya untukmu pasangan hidup dari jenismu sendiri supaya kamu mendapat ketenangan hati dan dijadikan-Nya kasih sayang diantara kamu. Sesungguhnya yang demikian menjadi tanda-tanda kebesaran-Nya bagi orang-orang yang berfikir”.

            Dari penjelasan ayat di atas berarti tujuan utama pernikahan adalah untuk untuk memberikan ketentraman dan ketenangan hati, kerna sesungguhnya kegelisahan selama ini adalah bersumber dari hati yang senantiasa dibisiki dan dibumbui oleh syaitan-syaitan yang senantiasa ingin menjerumuskan manusia kepada berbuat zina. Kemudiaan dengan hati yang tenang dan tentram seseorang akan khusuk beribadah termasuk ketika dalam sholat,

 Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam haditsnya yg cukup masyhur

Dari Abi Hurairah ra bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,`Wanita itu dinikahi karena 4 hal : karena agamanya, nasabnya, hartanya & kecantikannya. Maka perhatikanlah agamanya kamu akan selamat (Hadis Riwayat: Bukhari, Muslim)

Rasulullah saw mengajarkan kepada kita dalam hal memilih jodoh, Rasulullah faham akan watak setiap manusia akan kecendrungaannya untuk memilih yang cantik, kaya dan keturunannya baik, namun itu semua akan sirna begitu saja. Akan tetapi ketika seseorang memilih karena agamanya maka ia akan mendapat separuh agama. Artinya ketika seseorang mendapatkan istri yang sholehah berarti ia telah memiliki perisai yang kuat untuk selalu membentengi dirinya ketika ia nanti lalai dalam beribadah kepada Allah maka ada istri yang selalu mengingatkan. Jadi ketika kita sudah salah memilih jodoh berarti kita sudah gagal pada tahap pertama dalam upaya menciptakan rumah tangga yang islami.

 Kedua, salah karena tidak membaca doa ketika hendak bersetubuh

            Ikhwafillah, salah satu etika atau adab yang diajarkan Rasulullah saw kepada kita adalah membaca doa ketika kita ingin bersenggama dengan istri kita, karena jika tidak setan bisa masuk kedalam janin istri kita, dan tak menutup kemungkinan ketika anak kita sudah besar maka dia adalah seorang yang durhaka, melawan orang tua bahkan sering kita dengar di TV seorang anak memperkosa ibunya sendiri.Naudzubillah

            Dalam sebuah hadist yang diriwayatkan Abdullah bin Abbas dituturkan, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda: Jika salah seorang diantara kalian hendak mencampuri istrinya, maka hendaknya sebelum senggama membaca doa: Bismillaahi, Alloohumma jannibnaashshaythoona wa jannibishaiythoona maa rijaktanaa “Dengan Nama Allah, ya Allah, jauhkanlah kami dari syaitan dan jauhkan syaitan agar tidak mengganggu apa (anak) yang Engkau rizkikan kepada kami.” Dan jauhkan setan dari apa-apa yang Engkau karuniakan kepada kami (anak keturunan). Dengan memanjatkan doa, diharapkan anak yang lahir dari buah percintaan tidak goyah diperdaya setan, akan tetapi serta selalu dekat kepada Allah.

 Ketiga, Salah karena tidak memberi nama yang baik untuk anak

            Ikhwafillah, memberikan nama yang baik pada anak merupakan sesuatu yang harus diperhatikan oleh orang tua selain dari melaksanakan aqiqah dengan menyembelih kambing aqiqah. Sering orang tua memberi nama anaknya dengan nama-nama yang dia sendiri tidak mengetahui artinya, misalnya Yohannes, Ronaldo, Rivaldo, Roney dll. Tidak diragukan lagi bahwa ada kaitan antara arti sebuah nama dengan yang diberi nama. Hal tersebut ditunjukan dengan adanya sejumlah nash syari yang menyatakan hal tersebut.

            Dari Abu Hurairoh Ra, Nabi SAW bersabda: “Kemudian Aslam semoga Allah menyelamatkannya dan Ghifar semoga Allah mengampuninya”. (HR. Bukhori 3323, 3324 dan Muslim 617). Ibnu Al-Qoyyim berkata: “Barangsiapa yang memperhatikan sunah, ia akan mendapatkan bahwa makna-makna yang terkandung dalam nama berkaitan dengannya sehingga seolah-olah makna-makna tersebut diambil darinya dan seolah-olah nama-nama tersebut diambil dari makna-maknanya”. Dan jika anda ingin mengetahui pengaruh nama-nama terhadap yang diberi nama (Al-musamma) maka perhatikanlah hadits di bawah ini:

            Dari Said bin Musayyib dari bapaknya dari kakeknya Ra, ia berkata: Aku datang kepada Nabi SAW, beliau pun bertanya: “Siapa namamu?” Aku jawab: “Hazin” Nabi berkata: “Namamu Sahl” Hazn berkata: “Aku tidak akan merobah nama pemberian bapakku” Ibnu Al-Musayyib berkata: “Orang tersebut senantiasa bersikap keras terhadap kami setelahnya”. (HR. Bukhori) (At-Thiflu Wa Ahkamuhu/Ahmad Al-‘Isawiy hal 65)

            Oleh karena itu, pemberian nama yang baik untuk anak-anak menjadi salah satu kewajiban orang tua. Di antara nama-nama yang baik yang layak diberikan adalah nama nabi penghulu jaman yaitu Muhammad. Sebagaimana sabda beliau : Dari Jabir Ra dari Nabi SAW beliau bersabda: “Namailah dengan namaku dan janganlah engkau menggunakan kunyahku”. (HR. Bukhori 2014 dan Muslim 2133)

 Keempat, Salah kerna tidak memberikan pemahaman agama sejak dini

“Dan (Ingatlah) ketika Luqman Berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar”. (Q.S. Lukman: 13)
BANYAK orang tua yang berharap kelak anaknya menjadi seorang yang sukses dan pintar. Paradigma seperti ini, sebagian besar ditujukan pada kesuskesan dunia semata tanpa memikiran kesuksesan di akhirat. Padahal, jika para orang tua berpikir jernih tentang arti kesuksesan hidup, pasti mereka akan berpikir, betapa pentingnya menyelamatkan anak dari jerat duniawi (godaan hidup di dunia).

Tidak salah berharap anak sukses, akan tetapi jangan hanya didunia, terlalu sempit harapan itu, karena kesuksesan akhiratnya jauh lebi penting dan tentu lebih besar. Dunia hanya perahu tempat kita berlayar, sedangkan akhirat pelabuhan terakhir kehidupan, dimana tidak akan kita temui usaha untuk hal apapun. Semuanya telah ditentukan di dunia, maka rasional ukuran kesuksesan umat Islam adalah menyelamatkan anak dari gelombang-arus dunia yang bisa menyeret pada kesengsaraan hidup kelak diakhirat.

Oleh karena itu, orang tua muslim seharusnya sudah mulai mementingkan pendidikan agama pada anaknya sejak dini. Pentingnya pendidikan ini disebabkan kewajiban mutlak mendidik anak adalah orang tuanya. Menyayangi anak bukan berarti membuainya dengan kehidupan dunia semata, namun akhiratnya harus jauh lebih dipersiapkan sejak dini.

Sebagai ciri perhatian utama orang tua terhadap pendidikan agama anak. Baik halnya jika mereka (baca: anak-anak) sejak dini dikenalkan pada Tuhan-Nya. Hal itu tidak sulit, mengenalkan beragam asma-asma Allah Swt, menjaganya dari pemahaman mistik yang menjeratnya pada kemusyrikan dan juga memperkenalkan kekuasan-Nya, “siapa yang menciptakan alam raya ini” misalnya,. Hal ini bukan sepertinya mudah, memang sangat mudah, jika para Orang tua mengerti dan melakukannya.

Disamping itu, untuk menumbukan kesemangatan anak dalam menjalani tahap pengenalan hidup. Seorang anak harus dimotivasi, bahwa apabila mereka melakukan amal kebaikan (beramal saleh), maka akan mendapat pahala dan pujian dari Allah Swt. Dan apabila mereka berbuat hal tidak baik, akan mendapat dosa dan celaan dari Allah swt.

Dengan demikian, anak itu akan kritis dan bertanya-tanya tentang Tuhan-Nya, arti pahala dan dosa, alam ini kenapa ada dan miliki siapa dan lain sebagainya. Sudah barang tentu cara mendidik seperti ini akan menumbuhkan dua aspek positif. Pertama, merintis keimanan anak dan yang akan melahirkan perangai yang baik, dan yang kedua menumbuhkan sikap kritis anak terhadap apa yang belum ia ketahui. Sajian ruhaniyah ini, kendati hanya berupa perkenalan, diusahakan agar pemahan tersebut mudah dimengerti.

Seperti pendidikan agama yang telah dipraktekan Luqman terhadap anaknya di dalam al-Qur’an surat Luqman ayat 13, “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar”. Kata-kata ini memang masih umum (belum diperhalus) sehingga sukar dimengerti oleh anak. Cuma, yang harus jadi catatan, mengenalkan tentang eksistensi ketuhanan terhadap anak arti pahala dan dosa. Itu akan memotivasi anak berbuat kebajikan seperti, memberi pada sesama, saling tolong-menolong, dan lain sebagainya. Memperkenalkan dosa, akan menumbuhkan kebiasaan takut terhadap kemarahan Tuhan dan merasa bersalah jika melakukan hal yang tidak baik, misalnya mencuri, berkelahi, menghina atau menangisi teman perempuannya (jika ia anak laki-laki), dan hal lain sebagainya.

Kalau hanya mendidik anak dengan menakuti akan kekuatan manusia, misalnya, “jangan menjaili anaknya pak anu…. Nanti bapaknya marah”. Wah, hal ini berbahaya. Bagaimana tidak? Pemahaman itu bisa dimengerti oleh anak karena ia masih kecil, kalau sudah besar, sedah remaja atau pemuda yang gagah dan jantan. Bisa-bisa bukan hanya jail tapi lebih dari itu. Kita harus ingat, memberikan pendidikan agama pada anak sedini mungkin, itu untuk bekal pembentukan karakternya kelak saat ia mencapai usia dewasa (baligh).

Kalau pendidikan agama dilakukan setelah ia dewasa, itu tidak mudah karena kemungkinan besar anak jika sudah dewasa pemikirannya sudah dikonstruk oleh lingkungan. Sehingga, apabila ia diberi pemahaman lain, apalagi tentang agama yang kadang kala tidak bisa diterima akal (irasional), sukar orang tersebut menerimanya. Apalagi, jika ia sudah asyik dengan dunia glamour dan betah bergaul tanpa batasan keagamaan.

Maka, para Orang tua harus membiaskan mendidik anaknya terhadap pengetahuan agama agar ia mempunyai perangai yang baik. Sehingga ia akan terbiasa berbuat kebajikan karena Tuhann-Nya dan menjauhi hal tercela karena Tuhan-Nya, bukan karena ada bapak anu…yang lebih kuat.

Kelima, Salah tidak menyekolahkan anak pada sekolah agama

            “Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia, sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai” [Ar-Rum : 7]

Ayat diatas merupakan peringatan keras bagi orang yang hanya mementingkan urusan dunia sedangkan urusan akhiratnya dilupakan. Sebagian besar orang tua menyerahkan pendidikan anaknya kepada lembaga pendidikan yang berorientasi dunia belaka, sedangkan masalah aqidah, manhaj, adab dan keselamatan di dunia dan akhirat diabaikan.

            Perhatian mereka hanya berfokus kepada sekolah yang bisa mengantarkan anaknya menjadi cerdas dan cepat dalam pekerjaan. Prinsip ini bukan hanya ada pada orang awam saja, tetapi tokoh agama dan da’i yang menggebu-gebu membela Islam lebih senang menyekolahkan anaknya pada lembaga pendidikan umum yang tidak jelas aqidah dan manhajnya daripada menyekolahkan anaknya di pesantren yang dikelola menurut Sunnah.

            Bahkan mereka ragu dan was-was bila anaknya masuk pesantren karena tidak diterima di sekolah umum. Mereka khawatir masa depan anaknya suram, tidak bertitelkan sarjana, tidak diterima sebagai pegawai negeri, tidak bisa mencari rezeki, dan alasan lainnya.
Inilah kondisi umat Islam pada umumnya, bahkan ada yang sampai hati memarahi anaknya dan tidak memberi nafkah kepada anaknya bila mereka putus kuliah karena ingin mencari ilmu Dienul Islam di pesantren, lantaran dianggapnya durhaka kepada orang tua. Mereka tidak mau bertanya mengapa anaknya keluar dari bangku kuliah. Bahkan bila hal itu terjadi pada putrinya, maka diusir dari rumah, apalagi jika memakai cadar atau hijab muslimah dituduhnya mengikuti aliran keras dan semisalnya, karena orang tua merasa hina dan malu kepada tetangga dan temannya.

 Keenam, Salah karena tidak mendoakan anak

            Doa Ibu bapak untuk anak-anaknya sangat makbul. Jangan sia-siakan kemuliaan yang Allah kurniakan kepada ibubapa iaitu mustajabnya doa ibubapa untuk anak-anak.

Rasulullah SAW dalam hadis yang diriwayatkan Ibnu Majjah menegaskan tiga golongan jika berdoa pasti dimakbulkan iaitu orang dizalimi, orang musafir dan doa ibu bapa kepada anaknya. Rugilah bagi sesiapa yang mensia-siakan peluang ini. Setiap ibubapa pasti mengimpikan anak-anak mereka menjadi orang-orang yang berjaya di dunia, lebih-lebih lagi di akhirat. Nah, gunakan kemuliaan yang Allah kurniakan ini untuk berdoa untuk anak-anak.

 Berikut ini adalah panduan doa yang masyhur untuk anak-anak.

 Doa supaya anak-anak tetap mengerjakan solat:

Surah Ibrahim ayat 40-41

 Ertinya ” Wahai Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mengerjakan solat, Ya Tuhan kami, perkenankanlah doa kami. Tuhanku, ampunilah aku dan ibubapaku serta sekelian sorang-orang mukmin pada hari hisab nanti“

Doa mohon keturunan yang soleh, penyenang hati dan menajdi orang yang bertakwa

Surah al-Furqan ayat 74

  Artinya”Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami dari isteri dan keturunan kami menjadi penyenang hati kami dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa“

 Doa anak taat kepada Allah

Surah Al-Baqarah (ayat 128)

 Ertinya ” Wahai tuhan kami, jadikanlah kami berdua ini orang yang patuh dan berserah diri kepadaMU, dan jadikanlah di kalangan keturunan kami umat yang patuh dan berserah diri kepadaMU, serta tunjukkanlah kepada kami syari’at cara-cara ibadah haji kami dan terimalah taubat kami; sesungguhnya Engkaulah Maha Penerima taubat, lagi Maha Penyayang.”

 Doa anak pandai belajar

Surah Anbiya ayat 79

  Artinya ” Maka Kami beri Sulaiman memahami hukum yang lebih tepat bagi masalah itu; dan masing-masing (daripada mereka berdua) Kami berikan hikmah kebijaksanaan dan ilmu (yang banyak); dan Kami tundukkan gunung-ganang dan burung-burung memuji Kami bersama-sama dengan Daud. Kami sememangnya berkuasa melakukan semua ini.”

Doa-doa lain;

Doa supaya anak rajin belajar dan rajin ke sekolah:

Surah Taha ayat 1 – 5

Doa memohon rahmat

Surah Ali-Imran, ayat 8-9.

Doa anak lembut hati

Surah Al-Anbiya, (ayat 69) atau Al-Hasyar (ayat 22-24) Surah Al-Imran ayat 200

Doa mohon zuriat yang baik

surah Ali-Imran (ayat 38)

Selagi kita belum menutup mata, selagi itulah kita harus berdoa untuk anak-anak kerana selain membesarkan, membimbing dan memberikan ilmu, doa juga menjadi  penyebab kejayaan anak-anak. Semua orang tahu, anak adalah amanah dari Allah, kita akan ditanya diakhirat nanti tentang tanggungjawab kita dalam membesarkan anak-anak.

Semoga dengan tulisan “Enam kesalahan orangtua dalam mendidik anak” ini dapat menginspirasi kita semua untuk menciptakan sebuah kenyamanan dan ketentraman dilingkungan keluarga kita sendiri, dan harapan bagi pemuda yang belum menikah untuk bisa membuat graind design keluarga islami sehingga kita merupakan batubata-batabata kecil yang saling menguatkan untuk mewujudkan kejayaan dan kemajuan islam dimasa yang akan datang .

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *