konsultasi

Cara Taubat Dari Godaan Sang Mantan


“Bang, saya sudah menikah dan telah memiliki anak dari istri saya. Dahulu saya punya masa lalu silam yang kelam bersoal dengan khalwat dengan lawan jenis. Sekarang setelah menikah saya telah meninggalkan segalanya.

Nah, sekarang saya sering di tegur sapa oleh teman perempuan saya di masa silam. Dia juga sudah menikah dan mempunyai anak. apakah saya boleh kembali berkomunikasi dengannya?

“Bismillah…Saya tidak melihat taubat yang lebih layak kita ikuti akibat maksiat khalwat dan ikhtilat dengan lawan jenis yang bukan mahram dimasa lalu selain daripada taubat yang dilakukan oleh sosok nabi dan pemuda shalih.

Namun banyak jiwa sekarang meremehkan hal ini seolah para pelaku maksiat di masa lalu memiliki derajat lebih tinggi daripada sosok nabi dan pemuda shalih di masa lalu.

Soal taubat disebabkan berkhalwat bahkan hampir menjurus kepada zina dimasa lalu, ada baiknya kita belajar dari kisah para nabi dan para shalih.

Terkisah, dalam kitab At Tawwabin Ibnu Qudamah, seorang pemuda ahli ibadah yang menjaga pergaulan dan akhlaknya sehari-hari jatuh cinta dan tertarik pada sosok perempuan cantik yang hanya sekali saja dilihat di perkotaan.

Perempuan ini sesungguhnya bukan wanita yang baik-baik. Dia adalah seorang perempuan pelacur bertarif tinggi dengan nilai 100 dinar emas untuk sekali berjumpa dengannya.

Sang pemuda shalih ahli ibadah ini tahu siapa gerangan perempuan itu. Namun inilah bahaya racun pandangan. Ketika dia telah menikam dan merasuk dalam hati, bahkan status sebagai seorang ahlul maksiat pun tidak akan membuat hati seorang shalih menjadi nyeri dan jengah.

Ambillah pelajaran wahai pemuda dan para lelaki dewasa. Bila seorang pemuda ahli ibadah yang kesehariaannya di sibukkan dengan menghabiskan waktu untuk beribadah saja bisa tertancap hatinya kepada racun kecantikan dalam hitungan singkat, konon lagi kita yang boleh jadi jauh dari predikat shalih dan abid.

Maka buanglah kebiasaan menatap wajah-wajah cantik yang bukan hak kita didunia nyata maupun dunia maya. Apakah engkau merasa lebih mampu menjaga perasaan daripada sang pemuda abid nan shalih tersebut?

Ambillah pelajaran wahai muslimah yang merasa nyaman menampakkan kecantikannya kepada selain mahramnya.

Apakah engkau tidak takut akan susupan cinta dan rindu yang masuk kepada lelaki ajnabi karena kecantikanmu sedangkan engkau dalam kondisi lemah dan tipu daya laki-laki dapat datang dari segala penjuru?

Bahkan bilapun engkau sudah menikah jangan sangka godaan-godaan itu tidak akan datang.

Waktu berlalu hingga sang pemuda abid berhasil mengumpulkan 100 dinar emas, lalu menuju ke kediaman sang perempuan cantik tersebut. Dia pun bertemu dengan sang perempuan dan kemudian berkata:“Aku benar-benar tertarik dengan kecantikanmu,” kata pemuda kepada wanita itu, “karenanya aku bekerja keras dan kini aku telah mengumpulkan 100 dinar untukmu.”“Baiklah, mari ikut denganku,” kata wanita itu mengajaknya masuk ke rumah.

Wanita itu kemudian duduk di ranjang dan mempersilakan sang pemuda melakukan apa saja.

Saat itu, tiba-tiba sang pemuda ingat kedudukan dirinya sebagai hamba Allah dan sadar betapa nistanya zina.

Seketika gemetarlah seluruh tubuhnya. “Biarkan aku meninggalkanmu. Ambil saja uang itu untukmu,” katanya sambil berusaha berbalik keluar kamar.“Ada apa denganmu, bukankah engkau begitu mencintaiku?. Kau telah bekerja keras untuk mengumpulkan uang ini demimendapatkanku. Sekaranglah saatnya,” kata wanita cantik itu dengan keheranan.

“Aku takut kepada Allah. Aku takut kepada Allah dan kedudukanku di sisi-Nya kelak diakhirat.”Wahai para pemuda dan lelaki yang sempurna akalnya, sadarkah engkau bahwa yang menahanmu ketika berkhalwat dengan lawan jenismu di masa lalu hingga engkau tidak melakukan zina adalah keimananmu kepada Allah?

Lalu apakah ada jaminan bila engkau melakukan berkomunikasi kembali dengan teman maksiatmu di masa lalu keimananmu mampu membendung hasrat serta godaan syaithan yang lebih dahsyat dari sebelumnya?

Sedangkan engkau tahu pelaku zina yang belum menikah dan sudah menikah di berikan hukuman berbeda dan lebih keras?

Takutlah engkau kepada Allah seperti takutnya sang pemuda abid, takutlah akan kedudukan kita kelak dihadapan Allah saatyaumul Hisab tiba.

Mari kita lanjutkan kisah ini hingga selesai. Sang pemuda itu sambil melangkah keluar. Ia menutupi wajahnya dengan bajunya karena malu telah memasuki rumah itu. Dia pun berazzam untuk pergi dari kota tersebut dan kembali ke kampung halamannya yang jauh.Ini adalah pelajaran yang terbaik wahai para pemuda yang mau belajar. Bahwa cara menembus dosa maksiat akan khalwat bukan hanya bertaubat kepada Allah dengan sungguh-sungguh. Namun untuk menjaga agar hasrat tersebut tidak lagi muncul maka buatlah jarak yang jauh dengan teman maksiat kita di masa lalu.

Putuskanlah semua hubungan! Baik hubungan dunia maya maupun dunia nyata. Jangan pernah membiarkan diri terlibat komunikasi dengannya walau hanya sekadar memberi salam.

Karena itulah yang dilakukan oleh pemuda shalih dan juga di contohkan oleh Nabi. Bukankah Nabi Yusuf Alaihissalam berdoa dengan doa yang begitu agung hingga di abadikan dalam Alquran dalam surah Yusuf ayat 33:Yusuf berkata: “Wahai Rabbku, penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka kepadaku. Dan jika tidak Engkau hindarkan diriku dari tipu daya mereka, tentu aku akan cenderung untuk (memenuhi keinginan mereka) dan tentulah aku termasuk orang-orang yang bodoh.

Wahai pemuda dan lelaki yang memiliki iman di dada, bila nabi Yusuf yang Allah jaga iffah nya saja memilih kesunyian penjara karena lebih aman baginya daripada bertemu dan memenuhi ajakan para perempuan yang memiliki kecenderungan dengannya di masa lalu, lalu siapakah kita hingga malah merasa tetap aman dengan perempuan yang jelas-jelas telah mempersamai kita dalam maksiat di masa lalu?

Apakah kita merasa lebih mulia daripada seorang nabi? Pada akhir kisah, sang perempuan cantik tersebut bertaubat dan memilih mendatangi pemuda abid tersebut untuk meminta dinikahinya.

Sungguh, mungkin kita mengira kisah ini sebaiknya di tutup dengan pernikahan yang menghalalkan segalanya.

Namun Allah memberikan jalan takdir yang berbeda kepada pemuda tersebut agar kita bisa mengambil hikmah yang luar biasa besarnya.

Ketika sang perempuan cantik tersebut mendatangi pemuda abid tersebut, dia sontak terkejut dan menangis sekuatnya. Dia berkata:”Pertemuan pertama denganmu saja aku tidak tahu bagaimana pertanggung jawabannya kelak di sisi Allah. bagaimana dengan pertemuan selanjutnya?”

Diapun kemudian meninggal seketika karena penyesalannya yang begitu mendalam.

Wahai yang cerdas dan berakal sehat. Ambil ibrah paling akhir dari kisah ini. Bahwa setelah taubat nasuha pun kita tetap harus menyisakan penyesalan mendalam. Tidak dianggap taubat bila kita meremehkan maksiat kita di masa silam. Tidak dianggap bertaubat bila kita masih bisa menertawakan maksiat dimasa lalu yang seharusnya kita tangisi seumur hidup.

Tidak dianggap bertaubat bila setelah 5 atau 7 tahun berlalu dari maksiat di masa silam, ketika berjumpa kita masih saja memanggil teman maksiat kita dengan panggilan masa lalu selayak sayang, cinta, dinda, dear, dan panggilan khusus lainnya.

Wahai yang mengaku bertaubat, seharusnya engkau terkejut ketika berjumpa dengan sahabat maksiatmu di masa lalu selayak sang pemuda abid ini terkejut berjumpa dengan perempuan cantik tersebut. Inilah perangai dan akhlak mereka-mereka yang Allah tinggikan derajatnya.

Penulis: Rahmat Idris
Judul asli: Nabi memilih penjara, Pemuda shalih memilih mengasingkan diri, Kita malah meringankannya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *