berita

Caleg PKS Besan Tokoh Garbi ini Difitnah dan Undur Diri dari Partai

Caleg dan kader ahli PKS mengundurkan diri karena difitnah di forum partai karena berbesan dengan tokoh Garbi.
Fahima Indrawati, S.Th.I

Alam Islam – Salah seorang tokoh muslimah sekaligus calon legislatif yang juga merupakan kader ahli PKS Yogyakarta mengundurkan diri karena mengaku sering difitnah di forum-forum partai yang digawangi oleh Muhammad Sohibul Iman tersebut. Caleg yang bernama Fahima Indrawati, S.Th.I tersebut menulis surat pengunduran diri dari status kader ahli Partai Keadilan Sejahtera. Ia mengaku sering difitnah karena berbesan dengan tokoh Garbi Ustadz Musyaffa Ahmad Rahim,Lc MA. Dilansir dari akun facebook warganet bernama Andik Sugio Basuki pada Kamis (28/2) ucapan pengunduran diri tersebut mengejutkan para kader PKS karena sang caleg adalah kader ahli yang sudah berkecimpung di partai selama puluhan tahun.

Berikut isi surat pengunduran diri tersebut:

_Assalaamu’alaikum wr wb_
_Bismillaahirrahmaanirrahiim_

Kepada ykh

Pengurus DPTW PKS DIY
Ketua Kaderisasi DPW
Naqibah

Dengan ini saya
Fahima Indrawati, S.Th.I
Jenjang Anggota ahli

Bermaksud menyampaikan beberapa hal sebagai berikut :

A. Aspek Mafahim Manhaj dan Fikrah

1. Hakikatnya keberadaan kita di hadapan Allah SWT adalah ditimbang secara individu, bertanggungjawab secara fardiyah masing2 saat dlm pengadilan di hadapan Allah SWT

2. Kebutuhan berjamaah semata karena selain perintah Allah SWT juga perintah nabi SAW ia lebih karena dalam rangka menggandakan amal shalih.

3. Menjadi bagian dari seorang muslim adalah kata kunci dan abadi sepanjang hayat di kandung badan, sehingga hakikatnya setiap muslim terikat atau menjadi bagian dari jamaatul muslimin

4. Adapun memilih berjamaah dalam berdakwah, tidak bisa dikatakan jamaatul muslimin, namun hanya bagian dari jamaatu minal muslimin

5. Oleh karena itu, tidak ada paksaan di dalam memilih bersama jamaah apakah seseorang akan bergabung atau sebaliknya berlepas diri

6. Karena hakikatnya jamaatu minal muslimin, apapun namanya, ia hanya wasilah utk menuju ahdaf tujuan yakni li i’la kalimatillah, meninggikan kalimat Allah

7. Termasuk saat seseorang bergabung dg PKS, mk ia hanya wasilah dalam berdakwah. Meski terikat dg kalimat mu’ahadah, janji bai’at, maka hakikatnya seseorang terikat dg janji kepada Allah, RasulNya, agamaNya, bukan terhadap semata kpd jamaah atau qiyadahnya.

8. Terkait dengan keanggotaan saya di dalam jamaah sekarang, maka jika ada yg perlu dievaluasi tentu saya akan melakukan evaluasi.

B. Menimbang

1. Perjalanan dakwah di era siyasi, melahirkan banyak efek samping yg berdasar nalar pikir saya , telah terjadi penyimpangan yg justru dilakukan para qiyadah di dalam dakwah

2. Penyimpangan yg dilakukan secara tersistem oleh sebagian qiyadah justru dg cara melakukan kedzaliman yg masif terhadap kader yg lain

3. Tidak adanya proses yg transparan dlm mengelola organisasi, hanya mengambil 2 arkan taat dan tsiqah, menjadikan perjalanan tandzim dakwah tidak obyektif, melainkan doktrin, top down, dan tidak ada koreksi terhadap pimpinan

4. Kepemimpinan dlm dakwah bukan segala2nya, bukan ketaatan yg mutlak, krn pemimpin jg manusia tempatnya salah dan dosa, krn itu saat kritikan dan evaluasi harusnya menjadi sistem dlm berorganisasi.

5. Kepemimpinan menghajatkan ketsiqahan, namun ketsiqahan yg dituntut kpd kader thd qiyadah mesti memenuhi kriteria agr tsiqah mnjd mutabadilah. Adanya rasa ithmi’nan kader thd qiyadahnya, menurut imam Syahid Hasan Al Banna menjadi syarat terjadinya muncul tsiqah.

6. Namun saat ada kader yg kritis, yg terjadi adalah pemecatan, peminggiran, pengecapan yg tdk sesuai dg fikrah jamaah yg saya fahami

7. Terkait kasus hukum seorang kader, yg secara hukum positif negara tertinggi dinyatakan menang, inkrah, namun diingkari dg menyatakan hukum internal organisasi lebih tinggi dari hukum negara, maka di sini nalar saya mampet, kejernihan pikir saya tetiba terpuruk.

8. Terkait kasus saya pribadi, ber besan dg beliau yg dlm status diwaspadai, dipecat dari anggota jamaah, (padahal faktanya justru beliau yg mnjd mas’ul jihaz asia pasifik), begitu masifnya nama saya digoreng di berbagai forum, dari Jakarta, Bekasi, Yogyakarta, hingga hingga Bali.
Apakah ada yg salah dg ber besanan dg beliau? Di sini nalar saya kmbali mentok, bagaimana mungkin sebuah proses pernikahan hingga menyeret saya dlm lubang fitnah luar biasa. Beginikah jamaah dakwah mengajarkan?

9. Terkait saya sebagai caleg DPR RI. Saat amanah ini sy terima dg berat hati, krn atas perintah suamilah sy akhirnya bersedia mengembannya. Namun yg terjadi di lapangan adalah operasi2 liar yg dilakukan “oknum” yg menjadikan sy sbg tertuduh, tercuriga, terghibah. Namun demikian hingga detik sy menulis surat ini, sy msh berkomitmen untuk menyelesaikan amanah hingga 17 april 2019

10. Namun jika sekira, sy dlm posisi tetap tercurigai, maka saya dg kesadaran penuh utk mengambil keputusan.

Maka dengan ini saya

Nama : Fahima Indrawati, S.Th.I
Anggota : ahli

Menyatakan dengan penuh kesadaran untuk MUNDUR & KELUAR dari keanggotaan dan kepengurusan PKS

Demikian surat pamit ini saya sampaikan, mohon menjadi maklum

Ucapan terkhusus
Kepada para qiyadah saya, naqibah saya, para pinisepuh di struktur dan sedulur semua, saya sampaikan terimakasih atas ukhuwah selama ini, dan mohon maaf atas salah dan khilaf saya. Maka berfastabiqul khairat adalah sebaik baik jalan pilihan.

Ttd

Fahima Indrawati, S.Th.I

Yogyakarta, saat tahajut menjelang fajar, rabu 27 februari 2019

_Wassalaamu’alaikum wr wb_

Tinggalkan Balasan