artikel

Bukankah Rasulullah Pun Ikut Mencari Kalung Ibunda Aisyah?

Tips membahagiakan suami istri memahami kekurangan dan kealpaan kaum muslimah, istri dan ibu dari anak kita dengan penuh pemaafan dan kelemah lembutan
ilustrasi

Alam Islam – “Kunci ada? Popok? charger? dompet? susu? semua sudah ada?” tanya sang suami.

“Lengkap. Bismillah… ayo jalan…” jawab sang istri.

“Baik..Bismillahi tawakkaltu ‘alallahi, walaa haula wala quwwata illa billah. kita jalan.”

Baru 15 menit perjalanan. tiba2 sang istri berkata:
“Astaghfirullah..Handphoneku ketinggalan di atas meja. bagaimana ini?”

Apa reaksi kita para suami?

Marah? ngedumel? berkicau selayak gubernur jakarta yang menyebut semua silsilah keluarga sang istri dari bapak hingga nenek? keluar taring dan tanduk dan ingin menghisap darah? ingin gigit besi seperti kuda lumping? berubah menjadi voldemort dan mengeluarkan kutukan Imperius pangkat cruciatus?

yah…apapun reaksi kita ada baiknya kita mengikuti reaksi rasulullah. Selayak penjelasan Imam al- Bukhari yang di riwayatkan oleh Ummul Mukminin Aisyah Radhi Allahu Anha.

Sang ibunda kekasih terkasih Baginda Rasulullah berkisah:

“Kami pernah menyertai Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam pada suatu perjalanan hingga kami sampai di Baida’ atau Dzatul Jaisy ( Dua tempat tinggal di antara Makkah dan Madinah) lalu dalam perjalanan tersebut aku menyadari kalungku putus dan hilang. aku pun mengatakannya kepada Rasulullah sehingga Rasulullah berhenti untuk mencarinya.”

“Yang menyertai beliau selain aku pun ikut berhenti bersama beliau. kami berhenti ditempat yang tidak memiliki air, sementara kabilah telah kehabisan air.”

“Anggota rombongan yang lain pun mendatangi ayahku, Abu Bakar untuk mengadukan penyebab berhentinya Rasulullah.”

‘Lihatlah apa yang dilakukan Aisyah kepada Rasulullah dan seluruh orang-orang, padahal mereka tidak memiliki air dan berhenti di tempat yang tidak berair.’

Lalu Abu Bakar datang menemuiku. Saat itu Rasulullah sedang meletakkan kepala beliau diatas pahaku dan tidur. Abu Bakar Radhi Allahu Anhu berkata:

‘Engkau telah menghalangi Rasulullah dan orang-orang lain melanjutkan perjalanan, sedangkan mereka tidak mendapatkan air disini padahal mereka telah kehabisan air.’

“Abu Bakar terus menerus menyalahkan prilaku ku karena merasa aku telah memberatkan kabilah dan Rasulullah sedangkan aku tidak berani bergerak saat itu karena kepala beliau ada di pangkuanku.”

“Kemudian di waktu pagi Rasulullah bangun dan tidak menemukan air untuk berwudhu. maka atas rahmat Allah, turunlah ayat yang menerangkan hukum tayammum hingga seluruh anggota kabilah melakukan tayammum.”

“Usaid bin al- Hudhair Radhi Allahu anhu berkata kepadaku: ‘Sungguh hukum tayammum bukanlah keberkahan yang pertama sekali bagi kalian wahai keluarga Abu Bakar.’ ucapnya.

“Ketika kami membangunkan unta yang aku tumpangi, sekonyong-konyong kami menemukan kalungku berada dibawahnya.” *

Nah, cukuplah hadist ini menjadi i’tibar bagi kita untuk memilih bersikap sabar dan mendahulukan kemaslahatan bersama demi menjaga ukhuwah dengan istri kita.

Ngedumel, menasehati panjang lebar sang istri tentunya bukan dosa, toh Abu Bakar Radhi Allahu Anhu melakukan hal yang serupa kepada Aisyah Radhi Allahu anha. namun memilih mencarikan barang yang hilang atau kembali pulang untuk mengambil barang yang tertinggal juga keutamaan tersendiri selayak apa yang dilakukan oleh Rasulullah.

Pun dibalik takdir kehilangan kalung milik bunda Aisyah Radhi Allahu Anha, Allah Subhanahu Wata’ala berkehendak menurunkan hukum yang baru kepada umatnya. yakni hukum pembolehan tayammum untuk bersuci. hukum yang istimewa karena hanya diberikan kepada kita, umat Rasulullah. hukum yang sampai ini menjadi kemudahan bagi kita hingga akhir jaman nantinya.

maka berbaik sangkalah wahai saudaraku, bahwa dibalik takdir yang boleh jadi mengesalkan kita para suami, ada hikmah manis yang baru kita tahu setelah kita melewatinya secara baik-baik.

Hormatilah kekurangan dan kealpaan kaum muslimah, istri dan ibu dari anak kita dengan penuh pemaafan dan kelemah lembutan. karena bila Rasulullah saja berhenti di tempat tandus tanpa air demi mencarikan kalung sang istri, dan Allah berkehendak menurunkan hukum Tayammum demi melenyapkan masalah yang di persebabkan kepada bunda Aisyah, apalagi kita sang umat Rasulullah. seutamanya kita tentunya berusaha sabar dengan perbuatan yang baik seperti Rasulullah bukan?

*Tertulis dalam Kitab Fathul Baari dan Shahih Muslim.

Penulis: Rahmat Idris

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *