cerpen

Arti Sebuah Pengorbanan

Alam Islam – Kisah ini terjadi beberapa minggu yang lalu. Mungkin menurut sebagian orang, tak ada intisari apapun dari apa yang akan aku torehkan di sini, namun menurutku hal ini memiliki arti yang sangat dalam. Sebuah semangat yang sebelumnya tidak pernah aku sadari. Sebait ucapan bermakna teguran yang membuatku lebih mengerti tentang arti dari sebuah pengorbanan tiada henti. Semoga yang membaca juga mendapat semangat baru dari goresan tinta kecil yang sederhana ini. Dan inilah kisahku selengkapnya…

Tepat di minggu keempat di bulan Ramadhan, hujan semakin sering membasahi daratan di daerah rumahku. Entahlah, aku juga tak tau pasal yang menyebabkan air-air rahmat itu sangat sering mendatangi daerah kami. Apa mungkin karena memang pada saat itu sedang musim penghujan, atau memang karena mendekati bulan kemenangan, maka Allah juga turut mencurahkan rahmat-Nya –lewat hujan-. Yang aku tahu hanyalah, sebentar lagi hari kemenangan dari belenggu-belenggu syaitan akan segera tiba. Aku tersenyum puas ketika aku yakin bahwa aku pasti akan dapat ikut sholat ‘Ied di hari raya ummat muslim tersebut.

Aku ingat bahwa hari itu adalah hari Senin, dua hari sebelum takbir kemenangan dikumandangkan. Sesuatu yang mungkin telah menjamur di keluargaku adalah, jika ada rezeqi, aku dan keluargaku akan membeli sesuatu yang baru untuk menyambut Idul Fitri. Menurutku ini suatu hal yang tak begitu berlebihan. Kami hanya membeli sesuatu yang kami butuhkan. Lebih dari itu, kami tak akan membelinya. Begitu juga dengan aku, aku membutuhkan banyak perlengkapan untuk keperluan pribadiku. Dan malam itu juga, aku mengajak kakakku untuk berbelanja di sebuah pasar murah yang berada tak jauh dari tempat tinggal kami. Beliau mengiyakan ajakanku setelah sebelumnya berfikir sejenak untuk menuruti ajakanku, karena daerah kami baru saja diguyur hujan.

Sepanjang jalan, aku memerhatikan apa saja yang ada di hadapanku. Ada penjual kue, ada penjual bunga hias, bahkan tak sedikit toko-toko yang menawarkan buka hingga 24 jam. Subhanallah… ucapku dalam hati. Begitu banyak aktivitas yang dilakukan untuk menyambut hari raya Idul Fitri ini. Namun, bagaimana dengan ibadah mereka? bagaimana dengan tarawih mereka? tadarus mereka? Apa mereka tak melakukan semua itu? Ah, mungkin saja mereka akan melakukannya seusai mereka mencari nafkah di malam mendung seperti ini. Hiburku dengan hatiku yang sedari tadi bertanya-tanya tanpa tahu jawaban sebenarnya.

Keadaan di jalan raya ini sangat padat. Mobil-mobil bercampur kereta tak ubahnya bak rentetan semut yang sedang mengerubungi sebutir gula. Banjir yang menggenang di tengah-tengah jalanpun sudah tak terhiraukan. Semua hilir-mudik untuk mencapai ke tempat tujuan masing-masing. Begitupun dengan kami -aku dan kakakku-. Semakin mendekati pasar murah yang sering disebut dengan Ramadhan Expo, semakin tak terbendung kemacetan yang pecah di sekitarku. Semua kendaraan tumpah ruah di sini. Mungkin karena mereka takut bahwa malam ini adalah malam terakhir pasar murah ini dibuka, karena besok sudah malam takbiran. Entahlah, aku kembali berdesah.

Akhirnya sampai juga di tempat tujuan kami. Segera kami parkirkan kereta dan masuk ke dalam ratusan orang yang sudah memenuhi tempat ini. Subhanallah, tanah bercampur air dan lumpur langsung menyambut kedatangan kami. Dengan terpaksa kami masuk, walaupun harus jalan berjinjit-jinjit untuk menghindari genangan air. Dan terang saja, hampir semua jalan yang kamu lalui bertemankan air dan lumpur. Bahkan sandal yang aku pakaipun sudah tak terlihat lagi bersihnya. Air segera meresap ke dalam kaus kakiku melalui celah-celah kecil di sandalku. Yah, apa lagi yang harus aku perbuat, ingin pulang namun tak mungkin. Akhirnya kurelakan saja kakiku ini berbalut lumpur. Toh, orang-orang juga tak terlalu memedulikan pakaian paling bawahku ini.

Kami melanjutkan perjalanan kesana-kemari, ada banyak produk yang menarik, namun tak sesuai pula dengan harga yang ditawarkan. Dan bahkan tak sedikit produk yang jauh dari selera kami. Sudah hampir satu jam lamanya kami berada di tempat ini, namun tak banyak yang kami dapatkan. Hanya aksesoris penghias jilbab yang kami beli. Selebihnya nihil. Kakiku mulai terasa pegal dan jari-jari kakiku seolah sudah keriput karena terlalu lama terendam kaus kaki yang sudah basah. Uh, aku tak tahan lagi dengan keadaan seperti ini. Segera kuajukan permohonan ke kakakku yang tengah asyik berjalan di depanku seolah tak menghiraukan lagi lautan lumpur yang menggenang di depannya.
“Kak!” teriakku. Kulihat beliau berhenti dan menoleh ke arahku. Akupun segera mendekatinya.
“Aku buka kaus kaki ya! Udah gak tahan. Dingin banget.” Rentetan keluhan kusampaikan padanya. Kulihat beliau hening sejenak, lantas beliau tersenyum kepadaku, dan sejurus kemudian mengomentari keluhanku.
“Jangan dibuka, biarlah nantinya dia menjadi saksi di akhirat, karena telah menutupi aurat kita.” Ucapnya santai, namun pasti. Hanya beberapa kata memang, namun aku seolah diguyur hujan lebat mendengar petuahnya. Kurasakan hening di tempat yang ramai ini. Subhanallah, air mataku hampir mengisi sudut mataku. Aku terdiam, sedangkan beliau kembali melanjutkan perjalanannya.

Akupun segera menuruti jejak langkahnya. Namun kata-katanya tak begitu saja sirna dari benakku. Selama perjalanan, aku masih ingat atas jawaban kakakku. Tak kusangka, ternyata ucapan beliau membuatku tersentak hingga tak mampu mengucapkan kata apapun. Hanya desahan nafas tak teratur yang dapat aku keluarkan. Ternyata, sungguh pengorbanan itu tak semudah yang aku bayangkan. Terlebih lagi pengorbanan untuk menegakkan syariat islam dalam kehidupan sehari-hari. Aku semakin sadar, bahwa sesulit apapun ujian yang kita hadapi, jika kita ikhlas menerimanya semata-mata hanya ingin mendapat ridho Allah, niscaya semuanya akan terasa mudah. Dan aku yakin itu.

Aku semakin percaya diri dengan penampilanku, meskipun kaus kakiku sudah tak berwarna seperti sedia kala. Aku tak menghiraukan tatapan aneh dari orang-orang yang melihatku terlebih ke arah kakiku. Tak kupedulikan pandangan mereka. Walaupun sebersit rasa malu muncul di benakku, namun aku segera menepisnya. Inilah perjuangan. Batinku merekah.

Kamipun segera pulang setelah kami mendapat apa yang kami cari. Mungkin malam ini adalah malam yang biasa menurut kakakku, namun tidak menurutku. Malam ini adalah malam yang luar biasa. Karena mungkin jika tanpa adanya malam ini, aku akan semakin banyak mengeluh tentang segala hal. Namun aku semakin percaya, semua yang kurasa sulit adalah ujian. Yah, ujian untuk menentukan sejauh mana kapasitas imanku dapat bertahan. Setinggi mana aku meletakkan kedudukan Allah di hatiku. Subhanallah, aku bersyukur karena tanpa disadari, kakakku telah menyadarkanku akan pentingnya sebuah pengorbanan. Terima kasih Ya Rabb, and thanks so much my lovely sista.

Karangan: Sri Surya Ningsih

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *