artikel

Aktifis Dakwah, Antara Jiwa Merdeka dan Raga Terjajah

Arti kemerdekaan berpendapat bagi seorang dai muslim.
ilustrasi

Alam Islam – Seorang filsuf Amerika kenamaan sekaligus guru besar Harvard  University yang populer di akhir abad ke-20 bernama John Rawls diketahui sering menulis prinsip keadilan dan kekuasaan dalam buku-bukunya. Dalam salah satunya bukunya yang berjudul  “A Theory of Justice”, ia mengatakan bahwa masyarakat harus memposisikan  situasi  yang  sama dan setara  antara  tiap-tiap orang  di dalam masyarakat  serta tidak ada  pihak  yang  memiliki  posisi  lebih  tinggi  antara  satu  dengan yang  lainnya,  seperti  misalnya  kedudukan,  status  sosial,  tingkat kecerdasan, kemampuan, kekuatan, dan lain sebagainya. Sehingga, orang-orang tersebut dapat melakukan kesepakatan dengan pihak lainnya secara seimbang. Kondisi demikianlah yang dimaksud oleh Rawls sebagai “posisi asali” yang bertumpu pada pengertian ekulibrium. Dan dari sanalah diskusi tentang kebebasan dan kemerdekaan kian hangat diperbincangkan.

Dalam pembahasan terperinci dalam kamus KBBI, kata merdeka diartikan sebagai bebas dari perhambaan, penjajahan, berdiri sendiri, tidak terkena atau lepas dari tuntutan, tidak terikat, tidak bergantung kepada orang atau pihak tertentu, leluasa, boleh berbuat dengan sekehendak hatinya. Seorang manusia disebut merdeka bila tidak terjajah oleh bangsa atau orang lain. Ada yang merasa di jajah, ada pula yang tidak merasa terjajah. Penjajahan ekonomi adalah sebuah penjajahan yang seringkali tidak disadari oleh warga di sebuah negara. Sedangkan penjajahan dalam sebuah organisasi adalah penuntutan di luar sisi manusiawi seorang anggota bawahan kepada atasan yang punya jabatan lebih tinggi yang jelas tak ingin di bantah.

Penjajahan hanya dirasakan oleh orang yang merasa ada yang dirampas dalam dirinya. Ada kebebasan yang dimutilasi. Ada keleluasaan yang dirampas. Ada keterikatan yang dipaksakan. Disemua sisi kehidupan manusia terdapat hal tersebut, hanya saja intensitasnya berbeda-beda. Dalam kehidupan berorganisasi, penjajahan bisa terjadi karena dalih balas budi kebaikan sang atasan atau organisasi yang telah menaungi seseorang hingga bertahun-tahun. Bisa jadi bahkan para anggota bisa dititahkan dengan ancaman pecat atau pemutusan hubungan keakraban bila melanggar aturan tak tertulis yang bersumber dari orang yang paling berkuasa disana.

Dalam sebuah organisasi dakwah juga lazim kita temua hal tersebut. Pemaksaan tanpa mengindahkan nilai Islam dan ukhuwah kekeluargaan bahkan menjadi lazim bila organisasi tersebut menginginkan target segera terwujud, walau apapun resikonya. Pemaksaan ala milenial tentu saja berbeda dengan masa Jepang atau Belanda yang harus ditunjuk dengan ujung bedil. Sekarang pemaksaan tersebut cukup dengan ikrar, materai atau cerai.

Ironinya, hal tersebut dialami oleh para aktifis dakwah yang sudah sangat sering membahas materi tentang ukhuwah dan mengikat hati dengan doa dan zikir. Entah dimana sudah materi tersebut tersembunyi hingga banyaknya dai tidak lagi mempraktekkan hal itu. Padahal salah satu cara berdakwah adalah berkata dengan lemah lembut, saling menunjukkan keakraban dan silaturrahim, bukan dengan kata-kata sinis bila target organisasi tak tercapai.

Karena itulah seorang dai harus memiliki jiwa merdeka sebagai salah syarat idealismenya. Ia harus bisa membedakan perintah Islam dengan perintah pimpinan. Perintah Islam adalah mutlak, sedangkan perintah pimpinan seringkali dipengaruhi oleh faktor-faktor kepentingan. Ketaatan total adalah kepada Allah dan Rasul-Nya, bukan kepada bos atau ketua organisasi.

Dari keadaan itulah, bisa dibedakan mana dai yang punya idealisme kuat atau yang hanya takut dipecat atau dijauhi karena membantah pimpinan. Bisa jadi ketaatan semu tersebut adalah wujud ketakutan kehilangan persaudaraan. Padahal diatas itu semua, ketaatan kepada Islam lebih utama namun seringkali diabaikan.

Atau bisa jadi ketaatan tersebut adalah upaya memberi waktu kepada pimpinan segera menyelesaikan masa tugasnya kemudian para bawahan akan berucap syukur saat pimpinannya diganti. Sudah seharusnya pimpinan seperti ini merasa diri, bahwa semua orang punya rasa punya pikiran sendiri. Ia tak bisa dipaksakan untuk ditutup dari kebenaran dan fakta. Akan datang suatu saat pimpinan yang zalim akan digulingkan karena telah membuat ribuan raga dan jiwa anggota terjajah waktu dan pikirannya. Akan ada masanya para dai yang terjajah itu menjadi peluru sniper yang pasti mematikan dengan satu tembakan. Setiap orang punya potensi itu. Bila hati telah dibuat dendam, maka itulah bahan bakar paling efisien bagi motivasinya. Karena dendam adalah motivasi yang paling kuat.

Seharusnya pimpinan tersebut bisa merasa bawah raga anggotanya masih di ruang rapat bersamanya, namun jiwanya telah melanglang buana menyongsong kebebasan yang sesaat lagi akan dicapainya.

Karena kezaliman itu hanya akan dibalas dengan dosa karena telah membuat orang lain terpenjara batinnya tanpa alasan yang jelas. Kezaliman juga akan terus ada selama masih ada orang yang bersabar, namun jelas kesabaran yang berbatas waktu. Ia siap meledak kapan saja, bahkan siap menghancurkan apa saja yang ada di depannya.

Perlunya jiwa merdeka tersebut juga diungkapkan oleh mantan presiden Indonesia Ir. Soekarno dalam perkataannya yang sangat fenomenal yaitu: “Bebek jalan berbondong-bondong, elang terbang sendirian.”

Kata tersebut sangat bermakna bagi para aktivis dakwah. Mereka harus memilih, ingin berbondong-bondong mengekor pimpinan yang tak tahu arah, atau terbang sendirian dengan gagah menyongsong arah baru kedigdayaan Indonesia. Sudah menjadi kelaziman dimana setiap orang pasti merasa merasa takut sendirian dan dijauhi oleh kawanan. Namun dengan “terbang sendirian” tersebut menunjukkan keberanian seorang dai yang sangat besar untuk menentukan arah baru indonesia kelak. Karena kita sendiri yang menjadi faktor kemajuan itu, bukan orang lain.

Dan mulai saat ini berhentilah menjadi bebek yang berjalan berbondong-bondong mengekor bosnya dan bersiaplah mengepak sayap meskipun harus menerjang badai sendirian.

Penulis: Mirza Husni,S.Pd.I (Pemerhati dakwah dan dunia Islam)
Sumber: www.alamislam.com

Tinggalkan Balasan