logo blog alam islam

Bila Masih Anis Matta

Anis Matta, tokoh aksi 212 serta kisruh osin dan osan di PKS
Anis Matta dan tokoh 212 KH Nonop Hanafi

Alam Islam - Apa salahnya berandai-andai, bila memang ada pelajaran yang ingin diambil. Bila kosong, memang percuma. Tapi, tetap saja ada manfaatnya sebagai relaksasi pemikiran. Apalagi, bila ada niat baik untuk memperbaiki. Itu hebat betul, ya! Walau jarang betul, orang yang mau disalahkan.

Bila masih Anis Matta (AM) yang menjadi Presiden PKS, maka bukan mustahil, dia satu-satunya Ketua Umum Partai yang tak mau (belum, menolak, atau apa?) bertemu dengan Presiden Jokowi. Bukan seperti Mohamad Sohibul Iman (MSI) yang belum apa-apa, sudah pergi ke istana.

AM akan menjadi tokoh oposisi yang paling relevan, dan bukan Prabowo. Bukan AM tak mau (belum, menolak, atau apa?), tapi memang karena tak punya alasan (sosial-politik-ekonomi) bertemu Presiden Jokowi. AM bukan pejabat seperti Fahri Hamzah. Orang kaya seperti Prabowo.

Terbukti, karakter oposisi AM jauh lebih kuat. Masa pemerintahan SBY, walau berkoalisi, AM tetap beroposisi dengan kuat dan cerdas. Hasilnya pemilu 2009, hanya PKS yang mengalami kenaikan suara. Selebihnya, tersedot Demokrat. Apalagi, benar-benar ada di luar kekuasaan. AM akan tampil lebih tegak lurus. Diplomasi AM, adalah diplomasi setara. Bukan diplomasi timpang.

Sementara sikap oposisi MSI, sejak awal, sudah setengah hati. Mencla-mencle. Hati ingin berkoalisi, tapi karena ditolak terpaksa tetap beroposisi. Sok-sok mengkritisi, proposal masuk. Di tengah itu, masih diam-diam ketemu Jokowi, buat tetap bisa berkoalisi. Walau di publik bersuara #2019GantiPresiden, tapi yakin, kalau sama Jokowi, kader akan ikut. Ini seperti politik dua muka.

Dan bila masih AM, mustahil aksi 411, PKS tak resmi turun ke jalan. Diplomasi Presiden Jokowi ke Prabowo akan ditanggapi dingin oleh AM. PKS akan mengambil peran penting dalam aksi itu sebagaimana Fahri Hamzah mengambil peran di atas panggung, berpidato sangat lantang.

Perlu diketahui, inti dari gerakan umat itu, bukan pada aksi 212, melainkan pada aksi 411. Aksi 212 hanyalah pesta dari aksi 411 yang membludak di luar prediksi aparat keamanan. Dikira cuma aksi puluhan ribu orang saja, ternyata jutaan orang datang dengan semangat yang bergelora.

Tak perlu ada klaim-klaim aksi umat di internal, karena faktanya PKS ada di tengah, turut serta aktif terlibat. Bukan seperti MSI yang main klaim ke dalam, dia sendiri entah di mana? Ada di belakang Prabowo, membenarkan ketidakikutsertaan adalah fakta. Apa lagi yang mau di klaim?

Bila masih AM, mustahil formasi Anies-Sandi akan mulus saja terwujud. Wakil dari PKS harus benar-benar nyata. Kursi yang benar-benar nyata di Jakarta, koalisi cuma dua partai, tradisi Jakarta sebagai aktor, mustahil melompong begitu saja. Itu murni khas negosiasi politik 'ala MSI.

Termasuk, formasi Sudrajat-Syaikhu, yang awalnya Demiz-Syaikhu, di Jawa Barat. Atau, seperti Duo Kasuba (kader inti PKS) yang maju masing-masing. Satu didukung, satu tidak. Yang tak didukung malah petahana pula, yang peluang kemenangannya lebih besar, daripada didukung.

AM tahu persis memperoleh dan mempertahankan kemenangan itu sulit. Mustahil mudah saja bagi dirinya, membuang dan merusaknya. Dia justru, akan mempertahankan daerah itu mati-matian. Apa pun akan dilakukan persis seperti mempertahankan PKS dari badai korupsi sapi LHI.

Dan bila masih AM, mustahil ada pemecatan-pemecatan seperti yang terjadi di masa MSI saat ini. "Saya sudah memaafkan apa yang belum antum kerjakan!" Itu satu di anatara pidato AM yang sangat terkenal, saat ditunjuk sebagai Presiden PKS. Pidato itu seperti kebalikan dari pidato MSI: "Saya belum memaafkan apa yang belum antum kerjakan, malah dalam pikiran sekalipun!"

Maka, terbelahlah PKS seperti saat ini, antara Osin dan Osan. Osin pemilik tunggal PKS, Osan hanya penumpang di PKS. Sebelum ayam berkokok, tanggal 1 Muharam, semua para Osan sudah harus bersih. Caleg sudah harus menandatangi surat pengunduran diri dengan tanggal nihil, yang bisa diwujudkan kapan saja, saat terpilih. Jadi, semua sudah dikerangkeng sebelum berjalan.

Bila masih AM, mustahil ini berlaku begitu saja. Tapi sayang, AM seperti sudah terbuang.


Penulis: Erizal Sastra


(Silahkan kirim opini anda ke email: redaksialamislam[at]gmail.com. Tulisan yang lulus verifikasi redaksi akan dipublikasi di situs ini. Isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi)

Comments
0 Comments


EmoticonEmoticon