logo blog alam islam

Partai Baru dari PKS

Kisruh PKS dan fakta mengapa Anis Matta tidak akan menjawab rumor yang dituduhkan kepadanya.
Fahri Hamzah dan Anis Matta

Alam Islam - Sejak kapan rumor partai baru menyeruak dari internal PKS? Sejak kentut, mulai melesus. Kapan persisnya tak akan diketahui. Baunya sudah menyengat kemana-mana. Setelah terkuaknya materi, "Mewaspadai Gerakan Mengkudeta PKS" pada awal April lalu, rumor itu terus menyebar.

Tertuduhnya siapa lagi, jika bukan Anis Matta. Aneh? Disikat dalam "kudeta merangkak" Agustus 2015 lalu: diberi jabatan di pojok, dilantik, tapi tak dipakai, malah dijegal di mana-mana. Kebijakan pembersihan dibuat, lalu serta-merta dituduh hendak buat partai baru. Bagaimana bisa?

Tapi Anis Matta memang lain. Bukan tak ada yang bertanya. Ada yang bertanya malah di hadapan Ketua Majelis Syuro PKS, Salim Segaf Al-Jufri di Bogor lalu. Tapi Anis Matta memang tak menjawab tegas. Sepertinya dia tahu cara melalui rumor itu. Kadang rumor tak harus dijawab.

Tuduhan terhadap Anis Matta sendiri beranak-pinak. Mulai dari berlepas tangan, tak mau membantu kepengurusan baru, tak siap dipimpin hanya siap memimpin, membuat dauroh-dauroh (pelatihan-pelatihan) ilegal, hingga partai baru. Tuduhan itu memiliki periodenya, sendiri-sendiri.

Bayangkan, kalau dijawab semuanya? Sampai gempor pun Anis Matta rumor itu tak akan terjawab. Dijawab satu, tumbuh dua, dijawab dua, tumbuh enam, begitu seterusnya. Malah selalu ada dalih untuk membantahnya. Anis Matta tak memiliki forum apa-apa, untuk menjawab semua.

Kegagalan memilih pikiran (ijtihad) menghadapi realitas, akhirnya berbuah pada tuduhan-tuduhan itu. Dakwah adalah panglima, keberkahan, dan gaya sederhana mengelola partai, semua tunduk pada realitas politik yang keras. Apa yang disebut tradisi PKS, semua mentah di lapangan.

Mestinya, kegagalan berbuah introspeksi diri. Apa yang disampaikan dalam forum-forum nasional, wilayah, dan daerah? Motivasi, harapan di masa depan, atau hanya utak-atik politik 'ala pengamat politik? Termasuk, di ruang-ruang terbatas. Pencerahan atau materi yang itu ke itu saja?

Tuduhan mendirikan partai baru ini yang paling serius dilancarkan. Sepertinya ada pihak-pihak di internal PKS yang ingin sengaja mengarahkan, agar Anis Matta keluar dari PKS dengan tuduhan membuat partai baru. Pihak-pihak ini tahu persis, bahwa Anis Matta tak akan mau (atau tak berani) membuat partai baru. Emang membuat LSM? Alasannya, banyak! Umum dan khusus.

Umum semata-mata hitungan politik, suara PKS tak seperti suara Golkar, segmennya pun terbatas, termasuk soal jadwal politik. Khusus, ada cerita sedih dalam setiap konflik Islam politik di seluruh negara, malah dalam cerita gembira pun ada cerita sedihnya juga. Anis Matta sadar itu.

Tapi, tetap saja, tuduhan ini paling efektif menyingkirkan peranan Anis Matta di satu sisi, dan pendukung-pendukungnya di sisi lain. Maka tak aneh, pihak-pihak ini amat berani mencopot, membuang, memotong, malah mengganti hampir semua kepengurusan DPW dan DPD sekalipun.

Terbaru, terjadi di DPW Sulawesi Selatan dan DPD Makassar, setelah sukses di beberapa DPW dan DPD yang lain. Sulawesi Selatan dan Makassar dianggap basis pendukung Anis Matta yang paling solid. Malah agenda pilkada yang sudah di depan mata sekalipun, tidak lagi dihitung.

Jadi, kalau nanti di suatu daerah pilkada, pasangan yang diusung PKS menang atau kalah, tak perlu dipercayai, sebagai kemenangan atau kekalahan PKS. PKS hanya sibuk dengan internal saja. Bagaimana bisa berkonstribusi dalam kemenangan jika hanya sibuk dengan internal sendiri? Justru konstribusi kekalahan yang paling tepat. Pasangan calon yang didukung layak menagih itu.

Tentu, pihak-pihak ini memiliki kuasa di PKS. Dan agaknya, mereka tak lagi menghitung pemilu, termasuk pilpres sekalipun. Penyingkiran Anis Matta dan pendukung-pendukungnya ini, seperti harga mati. Lebih baik PKS kalah, tak lolos ambang batas parlemen, daripada Anis Matta dan pendukung-pendukungnya itu, masih bercokol di PKS. Seperti orang yang sudah berkesumat.

Dalam waktu dekat, orang-orang yang terkenal dekat dengan Anis Matta seperti Musyafa Ahmad Rahim, Ahmad Zainuddin, Syahfan Badri Sampurno, Mahfudz Siddiq, Akhmad Faradis, harus menghadapi "pemeriksaan" BPDO (Badan Penegak Disiplin Organisasi) PKS, yang kedua, setelah yang pertama tak hadir. Yang ketiga bisa saja dipaksa, jika memakai cara penegak hukum.

Kalau tidak salah, inilah jalan yang dulu dilewati Fahri Hamzah. Apakah kelima orang itu akan bernasib sama? Terus terang, saya mulai khawatir, kalau partai baru yang sengaja disorong-sorongkan kepada Anis Matta ini, benar-benar menjadi kenyataan. Akan seperti apa PKS jadinya?

Tak berfungsi satu anggota tubuh, akan membuat anggota tubuh lainnya, menjadi lumpuh.


Penulis: Erizal Sastra


(Silahkan kirim opini anda ke email: redaksialamislam[at]gmail.com. Tulisan yang lulus verifikasi tim redaksi akan dipublikasi di situs ini. Isi tulisan di luar tanggung jawab tim redaksi)

Comments
0 Comments


EmoticonEmoticon