logo blog alam islam

Istri "Wonder Woman", Anugerah atau Bom Waktu?

emansipasi wanita yang mandiri individual dalam keharmonisan rumah tangga.
ilustrasi istri "Wonder Woman"

Alam Islam - Pernah seorang adik mengutarakan kepada saya tentang fenomena betapa mandirinya akhawat zaman now, seolah semuanya mampu dikerjakan sendiri. Bisa mengendarai kendaraan mulai dari roda dua hingga roda empat.
Berani traveling sendirian kemana-mana.
Berani keluar di malam hari.
Belum lagi ditambah dengan mandiri secara finansial.
Memiliki bisnis sendiri
Memiliki penghasilan yang diatas rata-rata.
Dan ditambah lagi kemampuan fisik, seperti punya kemampuan bela diri.
Kuat mengangkat galon air sendiri.
Dan sebagainya.

So, what's wrong?
Ternyata mereka khawatir dan sedikit merasa takut apakah dengan kemandirian ini akan membuat ikhwan "mundur" untuk mengkhitbah para akhawat mandiri ini. Karena sepertinya akhawat yang terbiasa mandiri ini seolah seperti Wonderwomen yang segalanya bisa dikerjakan sendiri tanpa perlu tenaga ikhwan lagi.

Saat itu saya menyakinkan adik ini, bahwa seorang wanita yang paham syariat, insyaAllah setelah menikah akan paham batasan-batasan mandiri yang diperlukan.

Tapi...sekarang sayapun menjadi tidak mengerti, bagaimana bisa seorang suami yang paham syariat tapi tidak merasa bersalah membiarkan istrinya bepergian jauh di malam hari hingga jam 10-11 malam. Bahkan bukan untuk masalah yang urgent. Dan istrinya juga kenapa begitu berani bepergian sendiri di malam hari?
Atas nama emansipasi kah ini?

Ahh mungkin akan banyak pro kontra untuk masalah ini.

Saya setuju, istri memang harus mandiri, kuat, tangguh dan pemberani.
Tapi saya sangat yakin, semua istri itu pasti kuat dan tangguh JIKA memang diperlukan.

Namun, jika kondisinya tidak terlalu mendesak, maka bukankah sebaiknya yang kita tonjolkan adalah sisi fitrah wanita sebagai makhluk yang lemah lembut dan butuh dilindungi?

Ah entahlah mungkin banyak yang tidak setuju, tapi saya begitu khawatir melihat fenomena yang saya lihat sekarang ini.
Istri yg kelewat tangguh, mampu mengerjakan semua sendiri, mulai dari pekerjaan rumah yang ringan hingga pekerjaan rumah berat.
Istri yang pemberani, menganggap bukan hal yang aneh jika harus keluar sendirian di malam hari.
Istri yang mapan secara finansial, mulai merasa segan jika harus menengadahkan tangan meminta uang kepada suami.
Istri yang tidak cengeng dan tidak manja, menganggap memalukan jika mengatakan tidak berani terhadap sesuatu hal.

Lantas, apakah ini salah?
Entahlah, tapi jujur saya sangat tidak nyaman melihat ini.

Karena saya pun sejatinya sangat berpotensi untuk seperti itu. Saya yg sejak kecil dibesarkan dilingkungan cowok semua, membuat saya menjadi begitu mandiri dan berani.
Tapi setelah menikah, saya tidak mau sifat itu menjadi begitu menonjol. Walaupun kalau mau, saya insyaAllah sangat bisa mandiri dan mengerjakan semuanya sendiri. Tapi saya tidak mau, sisi hati saya yang lain menolak.
Maka saya sangat bersyukur saat suami saya melarang saya keluar sendirian di malam hari, melarang saya bepergian jauh sendirian, melarang saya naik ojek atau taksi online sendirian, dan mengambil alih kerja berat seperti mengangkat galon air, mengangkat seember penuh kain cucian yang mau dijemur ke lantai dua, dan berbagai kerja berat lainnya.
Tentu saja semua hal ini jika dalam kondisi tidak terdesak,
Tapi jika suatu saat kondisi mendesak, seperti saat anak sakit, suami sedang diluar kota, maka saya yang tadinya tidak pernah keluar malam hari, akan menjadi sangat berani untuk keluar pergi ke dokter.

Apakah hanya saya yang seperti ini? Tadinya saya yakin pasti semua istri ingin diperlakukan seperti ini.
Tapi belakangan sy ragu, karena saya melihat para istri sekarang akan merasa keren jika bisa mandiri secara finansial dan mandiri mengerjakan segala hal tanpa bantuan suami.

Dimana peran suami yang sejatinya sebagai pelindung dan pengayom bagi istrinya? Saya hanya khawatir perlahan terjadi pergeseran makna,
Saya hanya khawatir perlahan paham emansipasi ini begitu halus menyelusup, sehingga saat suatu saat nanti terjadi masalah serius dalam pernikahan, maka memutuskan cerai adalah bukan masalah besar lagi, karena istri merasa toh selama ini juga saya bisa hidup tanpa bantuan suami.

Nauzubillah min dzaalik.

Semoga ini hanya kekhawatiran dan kelebayan saya saja.
Saya ingin tetap berhusnuzon, para istri yang tangguh dan mandiri ini tetap menyadari fitrahnya sebagai seorang wanita dengan baik.

---

Ditulis setelah mendengar curhatan seorang adik tadi malam, yang merasa sedih karena suaminya tidak merasa perlu mengantar istrinya kesana sini. Bahkan jika istrinya pulang beraktivitas di jam 10 malam dengan menggunakan ojek pun, suaminya tidak mempermasalahkan, karena ia percaya istrinya adalah seorang muslimah yang pasti bisa menjaga diri dengan baik.
Ahhh saya menjadi semakin semakin miris dan sedih.
Karena kasus ini bukan baru sekali ini saja saya temui. Sudah banyak saya mendapatkan kasus serupa ini.
Sekali lagi, semoga kekhawatiran ini hanya kelebayan saya saja.
Mohon dimaafkan jika ada pihak yang tersakiti.


Penulis: Popi Fadliani, M.Pd (Praktisi parenting dan alumnus Universitas Pendidikan Indonesia)
Comments
0 Comments


EmoticonEmoticon