logo blog alam islam

Fakta Siswa SMA Bunuh Guru: Gaji 400 Ribu dan Istri Sedang Hamil Muda

Kisah nyata siswa SMA bunuh guru yang hanya punya pendapatan gaji 400 ribu per bulan dan istrinya sedang hamil muda.
Warga mengusung keranda jenazah guru SMAN 1 Torju bernama Ahmad Budi Cahyono

Alam Islam Sampang - Meninggalnya guru SMAN 1 Torju, Kabupaten Sampang bernama Ahmad Budi Cahyono, setelah dianiaya oleh siswanya sendiri menghebohkan Madura dan dunia pendidikan Indonesia. Hal tersebut karena sebelumnya guru yang ahli melukis dan bermain musik tersebut tidak menunjukkan tanda sakit. Budi (27), panggilan akrabnya, dikenal sebagai guru yang teladan.

Menurut pejabat setempat, Budi termasuk guru yang ikhlas mengabdi di dunia pendidikan. Ia berstatus guru tidak tetap (GTT) dan hanya bergaji Rp400 ribu perbulan. Namun itu tak melemahkan semangatnya untuk mengajar.

Meninggalnya guru SMAN 1 Torju, Kabupaten Sampang bernama Ahmad Budi Cahyono,
pemakaman Ahmad Budi Cahyono

Sejumlah netizen mengungkapkan simpati kepada Budi. Salah satunya warganet yang bernama Dian Andryanto mencurahkan simpatinya terhadap tragedi pendidikan tersebut.

Berikut tulisan berjudul Tragedi Guru Budi yang ditulis oleh Dian Andryanto di laman facebooknya pada Jumat (2/2).

Tragedi Guru Budi

Tak pernah siapapun menduga Kamis kemarin, 1 Februari 2018, hari terakhir guru muda Ahmad Budi Cahyono terakhir mengajar. Berhenti untuk mengajar selama-lamanya. Berpulang ia meninggalkan duka. Pagi ini air mata masih basah di Sampang, Madura.

Guru honorer mata pelajaran seni rupa di SMA Negeri 1 Torjun, Sampang, Madura itu masih sangatlah muda. Masih harum berbunga pula kehidupannya, belum lama usia pernikahannya. Empat bulan buah cinta dalam kandungan istrinya.

Guru Budi mengajar seperti biasa. Meski gaji pas-pasan saja, ia terus mengabdikan dirinya. Bakti dan imbalan kadang tak sejalan, tapi ikhlas ia lakukan berharap suatu hari ia tak lagi jadi guru honorer, semua harapan untuk menafkahi keluarga barunya.

Kamis kemarin, ia mengajar di kelas XI. Pelajaran menggambar tengah dilakukan. HI, siswa itu tak peduli, ia terus mengganggu teman-temannya, bahkan kemudian bisa tidur seenaknya dalam kelas. Guru tak lagi dihargai.

Guru Budi menegur, pipi si siswa dicoret cat air, bukannya sadar. HI merangsek Guru Budi, memukuli kepala gurunya sendiri. Pengganti orang tuanya itu tak lagi dihormati. Terus ia pukuli jika teman-temannya tak melerai.

Setiba di rumah, Guru Budi merasakan sakit kepalanya, makin menjadi. Tak sadarkan diri kemudian. Keluarga membawanya ke RS Dr Sutomo, Surabaya. Semalam, sekitar pukul 21.40, Guru Budi berpulang. Diagnosis dokter mati batang otak.

Guru Budi berpulang dipukuli muridnya sendiri. Tragedi yang tak seharusnya terjadi. Hormat murid kepada guru tak seperti dulu. Sungkan siswa kepada guru tak lagi banyak ditiru. Negeri nanti seperti tak berjiwa lagi. Guru Budi meninggal karena matinya budi pekerti generasi.

Shinta, istri Guru Budi berduka tak terkira. Anak yang baru empat bulan dikandungnya, lahir nanti tak ditunggui ayahnya. Yatim si anak pada kelahirannya.

Shinta akan mengisahkan tentang Guru Budi, guru honorer di daerah terpencil yang meninggal dianiaya muridnya sendiri, kepada anaknya.

Kabar yang tak muncul sebanyak berita lainnya di media massa. Padahal inilah nilai dasar, ketika murid mulai tak menghargai gurunya, ketika siswa bisa memukuli guru semaunya.

"Guru Budi itu ayahmu, Nak," kata Shinta bertahun kemudian di hadapan pusara bertuliskan Ahmad Budi Cahyono. Tangis terpendam. Masa meredam. Luka mendalam. Terdiam.



Comments
0 Comments


EmoticonEmoticon